My Chosen Man

My Chosen Man
Diterima tapi belum sah


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N....


"Erlang." ucap Elena sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Dipandangnya sekitar, banyak orang yang sedang melihat ke arah mereka. Bahkan ada dari mereka yang mengeluarkan handphone-nya untuk mengabadikan moment ini.


Elena kembali memandang ke arah Erlang yang sedang menunggu jawaban darinya.


"Katakan jika kamu mau Elle." ucap Erlang sekali lagi. Tersirat harapan yang mendalam dari tatapannya.


"Iya Erlang, aku mau, sangat sangat sangat mau." ucap Elena sambil menganggukkan kepalanya.


Tergambar senyum yang merekah di bibir Erlang saat mendengar jawaban dari Elena. Ia segera mengambil cincin dari kotak merah tersebut dan menyematkannya di jari manis Elena. 


Cincin dengan permata satu berwarna gold itu begitu pas di jari Elena. Entah dari mana Erlang mengetahui ukuran jari manis Elena.


Sorak sorai dari orang-orang mengiringi setelah Erlang selesai menyematkan cincin tersebut di jari Elena.


Erlang berdiri dari posisinya dan menarik tengkuk Elena dan cup, satu kecupan lama mendarat di kening Elena.


Entah apa yang terjadi di sekitar, yang jelas Elena saat itu sedang menutup matanya, merasakan kecupan hangat yang Erlang berikan di keningnya.


***


Setelah turun dari gunung, mereka merayakan atas diterimanya lamaran Erlang di sebuah rumah makan yang berada di Surabaya.


"Selamat Pak Erlangga, Bu Elena yang sebentar lagi mau married." ucap salah satu karyawan laki-laki.


"Bisa saja kamu." ucap Elena yang tersipu.


"Terima kasih karena kalian telah mau menjadi saksi lamaran saya." ucap Erlang.


"Sama-sama Pak Erlangga, kami malah senang bisa menjadi saksi dari lamaran Bapak sekalian bisa liburan." ucap salah satu karyawan yang lain sambil menggelakkan tawanya dan diiringi tawa yang lain.


"Pakai panggilan nonformal saja kalau sedang di luar." sahut Erlang


"Kalau begitu kami panggil Erlangga dan Elle saja." sahut karyawan itu lagi.


"Boleh, tapi tidak untuk Elle. Itu hanya boleh disebut olehku." ucap Erlang sambil membanggakan diri membuat gelak tawa para karyawan.


"Panggil Elena saja tidak perlu pakai Ibu kalau lagi diluar kantor." ucap Elena kemudian dibalas anggukan oleh para karyawan.


Mereka makan dengan memesan banyak makanan di sana. Tak terasa hari semakin larut, mereka memutuskan untuk kembali ke villa karena besok siang mereka harus pulang ke Jakarta.

__ADS_1


"Terima kasih Elle, karena telah mau menerimaku." ucap Erlang sambil memegang tangan Elena dan satu tangannya lagi memegang kemudi.


"Harusnya aku yang berterima kasih karena telah mau menungguku selama ini. Kamu juga menolak banyak perempuan termasuk Anggi  hanya untuk menungguku, dan ternyata aku..." perasaan bersalah kembali terbesit di hati Elena.


Melihat ekspresi dari wajah Elena, Erlang pun menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Dilepasnya sabuk pengaman dan Ia memposisikan tubuhnya menghadap Elena yang sedang tertunduk. 


Erlang mengangkat dagu Elena dan satu tangannya tetap menggenggam tangan mungil tersebut.


"Jangan merasa bersalah Elle, anggap saja ini sebagai ujian dari kisah kita." perkataan Erlang begitu menenangkan Elena, dengan cepat ia juga melepaskan sabuk pengaman dan menggapai tubuh Erlang lalu dipeluknya erat tubuh tersebut.


"Terima kasih." ucap Elena lagi.


Erlang membalas pelukan tersebut, diusap-usapnya rambut Elena yang sedang tergerai. Sambil sesekali ia kecup puncuk kepala itu.


"Tapi ada yang membuatku penasaran." ucap Erlang di sela pelukan mereka. Elena mengadahkan kepala dan dilihatnya wajah Erlang yang sedang serius.


"Apa?" tanya Elena sembari melepaskan pelukannya sambil menerka-nerka apa yang ingin Erlang tanyakan.


"Dari mana kamu tahu tentang Anggi, Elle?" tanya Erlang yang masih penasaran akan hal tersebut.


"Apa kamu tau.."


"Tidak." ucap Erlang dengan cepat sambil menggelengkan kepalanya membuat Elena kesal.


"Ku kira kamu bertanya denganku Elle." Erlang mencubit pelan pipi kanan Elena membuat sang pemilik pipi meringis dan mengusap-usap pipi mungilnya.


"Ya sudah lanjutkan." ucap Erlang lagi sambil mengambil tangan Elena yang sedang mengusap pipi bekas cubitannya kemudian menggantikannya dengan tangannya.


Elena kembali memposisikan tubuhnya menghadap Erlang sambil menatap lekat wajah tampan di depannya.


"Apa kamu tau ternyata Anggi adalah sepupu Mas Bima."


"Bima." ucap Erlang sambil mengernyitkan keningnya.


"Apa kamu masih berhubungan dengan Bima?" pertanyaan Erlang membuat Elena terkejut.


"Erlang, semenjak aku tahu kalau Mas Bima sudah menikah, saat itu juga aku tidak pernah menghubunginya lagi. Lagipula istri Mas Bima itu teman aku, jadi aku tidak ingin terjadi salah paham di antara kami." jelas Elena. Ia memegang erat tangan Erlang sambil tersenyum meyakinkan Erlang.


"Kamu percaya kan?" tanya Elena lagi.


"Iya aku percaya sama kamu." Erlang benar-benar yakin dengan ucapan Elena.

__ADS_1


"Ya sudah yuk jalan, nanti kemalaman."


"Baik tuan putri." ucap Erlang sambil menghidupkan kembali mesin mobilnya dan beranjak pergi diiringi dengan gelak tawa keduanya.


***


Hari ini adalah hari terakhir mereka berada di Surabaya. Elena mulai mengemas barang-barangnya kemudian beralih membantu mengemas barang-barang Erlang. Hatinya seakan berbunga-bunga setelah menerima lamaran dari Erlang. Tak henti-hentinya ia bersenandung ria sambil tangannya tetap beraktivitas.


Mereka menuju bandara menggunakan mobil yang telah Erlang sewa selama mereka berada di Surabaya.


Tak banyak percakapan di antara keduanya, karena mereka terlalu lelah sebab hanya tidur beberapa jam saja tadi malam.


"Tidurlah." ucap Erlang ketika mereka sudah berada di dalam pesawat.


Elena pun mengangguk dan memejamkan matanya. Sembari Elena tidur, Erlang tak henti-hentinya memandangi wajah Elena sambil memegang tangan mungil tersebut sampai ia pun juga telelap ke dalam alam bawah sadarnya.


"Elle bangun sebentar lagi pesawat akan mendarat." ucap Erlang sambil menepuk pelan pipi Elena.


Elena mulai membuka mata saat Erlang beberapa kali menepuk pelan pipinya. Dibukanya mata yang terpejam secara perlahan sambil kembali menyadarkan pikirannya.


"Maaf aku tertidur terlalu lama." ucapnya sambil mengucek mata dan meregangkan kembali otot-otot tubuhnya yang kaku.


"Tidak apa." ucap Erlang sambil terkekeh melihat wajah Elena yang baru bangun tidur.


Tak lama pesawat mendarat sekitar pukul 3 lewat. Para karyawan berpamitan sambil mengucapkan terima kasih kepada Erlang dan Elena kemudian beranjak pulang, begitu juga dengan Elena dan Erlang.


"Elle." ucap Erlang ketika mereka sudah sampai di depan rumah Elena.


"Iya ada apa Lang?"


"Besok pagi maukan temani aku mencari kado untuk pernikahan Lusi?" tanya Erlang.


"Tentu saja mau Erlang." ucap Elena sambil mencubit hidung Erlang.


"Acaranya dimana?" ucap Elena lagi.


"Acaranya di hotel Anggrek." perkataan Erlang dibalas anggukan oleh Elena.


"Jangan berniat pergi sendiri, aku akan menjemputmu besok malam." ucap Erlang yang seakan tahu apa yang sedang Elena pikirkan.


"Baiklah." tutur Elena.

__ADS_1


Setelahnya Elena merebahkan diri di kasur empuk miliknya. Mengurangi penat di tubuhnya sambil kembali memejamkan mata.  Sambil berharap semoga kebahagiaan terus mengiringinya bersama dengan Erlang.


__ADS_2