My Chosen Man

My Chosen Man
Kamu!


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


...Bagaimana bisa aku tidak menangis jika setiap kata yang kamu lontarkan begitu menyedihkan...


...~Elena...


Dengan perasaan senang, Erlang memutar gagang pintu ruangan Elena. Dilihatnya sosok yang beberapa hari ini terus memejamkan matanya, sosok yang beberapa hari ini membuat tidurnya tidak nyenyak dan sosok yang benar-benar Erlang rindukan akhirnya sudah sadar dan berhasil melewati kritisnya.


"Elle." ucap Erlang sembari mendekati Elena. Tidak ada respon dari perempuan tersebut, hanya bola matanya saja yang terus menatap Erlang.


Erlang beralih menatap Theo yang sedari tadi juga diam dan terus menatap Elena.


"Ada apa ini Om?" tanya Erlang dengan wajah yang penasaran, ia beralih mendekati Theo.


"Tenang Nak." Theo mengelus pundak Erlang sambil mengulas senyum tipis di wajah lelahnya.


"Apa yang terjadi dengan Elena Om?" tanya Erlang lagi.


"Karena Elena telah koma selama beberapa hari, sehingga terjadi penurunan fungsi otak dan bagian tubuh tertentu. Tapi tenang Nak, ini hanya bersifat sementara." jelas Theo.


Tubuh Erlang kembali melemas, bukan ini berita yang ingin ia dengar. Entah kenapa, ia merasa seperti dipermainkan oleh takdir.


Erlang berjalan kembali mendekati Elena dan duduk sambil menggenggam tangan Elena. Terlihat pergerakan bola mata Elena mengikuti setiap pergerakan dari Erlang seakan ada yang ingin ia utarakan.


"Jangan menangis." ucap Erlang sambil menyeka air mata Elena yang meluncur dari sudut matanya. Erlang berusaha bersikap tegar di depan perempuan tersebut.


"Kamu pasti sembuh Elle." tutur Erlang lagi, ia seakan berbicara pada Elena meskipun ia tahu Elena tidak akan merespon ucapannya.


Erlang terus mengoceh di depan Elena, sedangkan Theo memutuskan untuk keluar dari ruangan.


"Maaf aku lalai menjagamu Elle." ucapan terakhir Erlang mampu membuat air mata Elena keluar dengan derasnya.


"Sudah ku katakan jangan menangis." ucap Erlang lagi sambil kembali mengusap air mata Elena dan menciumi tangan perempuan tersebut secara bertubi-tubi.


Bagaimana bisa aku tidak menangis jika setiap kata yang kamu lontarkan begitu menyedihkan batin Elena.


***


Erlang meninggalkan ruangan Elena sesaat setelah dirasanya Elena sudah tidur. Memang ada perasaan takut di hati Erlang saat melihat Elena memejamkan matanya, tapi ia berusaha menepis segala pikiran buruk yang mengganggunya.


Setelah dirasa sudah berada di lorong sepi, Erlang segera menghubungi seseorang.


Hallo ucap Erlang setelah beberapa saat menunggu panggilan terhubung.

__ADS_1


Hallo Pak sahut seorang laki-laki di seberang sana.


Bagaimana? Tanya Erlang tanpa basa-basi.


Belum ada kemajuan Pak, tapi kami akan segera menghubungi Bapak jika sudah ditemukan!


Baiklah, berikan saya kabar baik secepatnya.


Baik Pak.


Erlang pun menutup panggilannya. Wajahnya memanas serta rahangnya mengeras bahkan membuat urat-uratnya menjalar di sekitar pelipisnya. Ia benar-benar marah jika mengingat kejadian yang beberapa hari lalu ia lihat.


"Aku tidak akan melepaskanmu kali ini." ucap Erlang sambil menggenggam erat handphone di tangannya.


Erlang melangkahkan kaki kembali menuju ruangan Elena namun panggilan dari seseorang membuat langkahnya terhenti. Dengan segera ia memalingkan tubuhnya dan mencari sumber suara.


"Bima." ucap Erlang setelah melihat sosok yang sedari tadi terus memanggilnya.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang penting?"


"Tidak ada, aku hanya mau menanyakan kondisi Elena, apa dia sudah siuman?"


"Hmm sudah." jawab Erlang sambil menganggukkan kepalanya.


"Bagaiman dengan kondisi Citra?" tanya Erlang balik.


"Sudah sadar beberapa hari yang lalu, aku juga sudah mengurus administrasi dan kami akan segera pulang." ada kelegaan di wajah Bima.


"Aku juga turut bahagia." tutur Erlang.


"Bagaimana dengan bayi kalian." sambung Erlang kemudian.


Lagi-lagi Bima mengembangkan senyumannya membuat kening Erlang berkerut.


"Bayi kami sehat, aku bisa mengantarmu jika kamu ingin melihat bayi kami?" tawar Bima.


"Tidak aku..."


"Ayo aku tidak keberatan." ajak Bima.


Sebenarnya Erlang tidak tertarik dengan bayi. Ia bertanya hanya karena iseng saja, tapi karena Bima terus memaksanya, akhirnya Erlang mengiyakan.


***

__ADS_1


Mereka berhenti di depan ruangan dengan kaca besar di depannya. Kaca tersebut sengaja dibuat untuk memudahkan melihat bayi dari luar tanpa harus masuk ke dalam ruangan.


"Itu bayi kami." tunjuk Bima pada salah satu bayi laki-laki yang berjarak sekitar 2 meter dari tempat mereka berdiri. Bayi laki-laki yang terlihat sangat kecil, bahkan kepalanya hanya setelapak tangan orang dewasa.


"Meskipun lahir dari usia yang berbeda pada bayi normal lainnya, tapi bayi kami dinyatakan baik-baik saja oleh dokter." jelas Bima, tersirat kebahagiaan yang mendalam dari tatapannya dan Erlang sadar akan hal itu. Dan Erlang pun ikut bahagia karena dengan itu ia tidak perlu mengkhawatirkan perasaan Bima terhadap Elena lagi.


"Aku berharap kebahagiaan selalu mengiringi kalian. Terima kasih telah melepaskan Elena dan maaf sudah pernah berpikiran buruk tentangmu."


"Tidak apa, aku juga bahagia jika Elena mendapatkan suami sepertimu."


Erlang mengernyitkan keningnya, darimana Bima mengetahuinya. Apa Elena sudah bercerita atau ia mengetahuinya dari Anggi, pikir Erlang sambil terus menerka-nerka.


"Sebenarnya aku penasaran siapa yang akan menjadi suami Elena, tapi setelah tiba-tiba kamu memukulku dan marah-marah saat di taman kemarin, disitulah aku yakin jika kamu yang akan menjadi suami Elena." jelas Bima sambil mengukir senyuman di wajahnya.


"Aku juga penasaran, siapa orang yang dulu memata-mataiku dengan Citra. Tapi setelah melihat ekspresimu saat aku mengatakan sesuatu tentang Citra, aku jadi yakin jika kamu orangnya." sambung Bima lagi.


"Maaf telah melakukan itu." ucap Erlang dengan tulus.


"Aku paham, itu karena kamu terlalu mencintai Elena."


"Sangat mencintainya." ucap Erlang.


***


Seusai becengkrama dengan Bima, akhirnya Erlang bisa kembali ke ruangan tempat Elena berada. Setelah Erlang membuka pintu ruangan tersebut, dilihatnya tak ada satu orang pun yang menemani Elena. Bahkan Theo pun belum kembali, entah kemana perginya pikir Erlang.


Erlang pun menghela napas, seharusnya ia tidak terlalu lama berbicara dengan Bima dan tidak membiarkan Elena terlalu lama sendirian.


Lama Erlang duduk di samping Elena sampai membuat matanya sangat mengantuk. Mungkin karena suasana sepi dan hening yang sangat cocok untuk memejamkan mata.


Untuk menghindari kantuk, Erlang berniat untuk mencuci wajahnya. Sudah beberapa langkah kakinya menjauhi ranjang Elena, tiba-tiba suara samar-samar menghentikan langkahnya.


Erlang berbalik untuk memastikan jika suara yang ia dengar bukan halusinasinya.


"Erlang." ucap Elena dengan pelan. Dengan segera Erlang mendekati Elena.


"Elle, apa benar kamu yang memanggilku?" tanya Erlang sambil mengusap pipi Elena. ucapan Erlang mendapat respon anggukan dari Elena.


"Elle, ini benarkan. Aku sedang tidak berhalusianasikan?" ucap Erlang kembali memastikan. Perkataan Erlang lagi-lagi direspon Elena.


"Panggil aku lagi Elle." ucap Erlang.


"Erlang." ucap Elena sangat pelan, namun dapat didengar oleh Erlang.

__ADS_1


"Kamu benar, aku sedang tidak berhalusinasi. Aku bahagia Elle, sangat sangat dan sangat bahagia." ucap Erlang sambil kembali menghujani ciuman di punggung tangan Elena.


__ADS_2