My Chosen Man

My Chosen Man
Takdir


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


...Tanpa ia sadari takdir yang membuatnya malah semakin mendekat....


***


"Apa aku tidak salah dengar, Anggi memanggil nama Erlang." Elena kembali mendekatkan tubuhnya mendengarkan sekali lagi apa yang diucapkan Anggi.


"Benar Erlang yang sedang dipanggil Anggi. Apa dia Erlang yang sama." sejenak ia berpikir.


"Ah tidak mungkin Erlang yang sama. Nama Erlang kan banyak." Elena berusaha menepis pikiran yang dianggapnya buruk. Orang yang punya nama Erlang pasti banyak didunia ini, tidak mungkin Erlang yang Anggi sebut adalah Erlang yang....Elena suka.


Elena berusaha untuk tidak memikirkan kejadian tadi. Namun selalu saja ada yang menjanggal di hatinya. Ia mengedarkan pandangannya berharap ada sesuatu yang bisa ia temukan.


Ceklek


Pintu di buka dari luar membuat Elena terkesip dari posisinya. Ia melihat seorang perawat berjalan mendekat ke arahnya.


"Maaf, apa Mba keluarga pasien." tanya perawat tersebut dan Elena menganguk


"Saya wali pasien Sus, apa terjadi sesuatu?" Elena terlihat khawatir. Walaupun Anggi bukan keluarganya tapi Anggi adalah orang yang berarti buat Bima.


"Tidak Mba, saya hanya melupakan sesuatu." diambilnya handphone dari dalam saku depan bajunya.


"Ini barang milik pasien, ditemukan warga pada saat menolong pasien di tempat kejadian." sambil menyerahkan sebuah handphone keluaran terbaru berwarna Gold. Elena yakin pasti handphone tersebut Limited Edision karena terlihat dari desain yang begitu elegan pada handphone tersebut.


"Oh terima kasih ya Sus." Elena membalas ucapan perawat tersebut dengan senyuman sambil terus menatap perawat yang perlahan menjauh.


Elena kembali ke posisinya. Sejenak dipandangnya orang yang sedang terbaring di depannya yang entah berapa lama lagi ia memejamkan mata.


Terlihat pergerakan pada bola mata yang yang masih menutup. Dengan perlahan sang pemilik mata membuka matanya.


"Anggi kamu sudah siuman? Apa kamu baik-baik saja? Atau ada yang sakit? Apa perlu ku panggilkan dokter?" kebiasaan Elena selalu melontarkan pertanyaan sampai membuat yang ditanya kewalahan untuk menjawab.


"Ka Elena, Kenapa bisa ada di sini?" dengan suara yang sangat pelan namun masih bisa di dengar Elena.


"Apa maksudmu? Tentu saja aku menghawatirkanmu, Mas Bima juga sangat menghawatirkanmu." menggenggam erat tangan anggi.

__ADS_1


"Mana Ka Bima?" Anggi melihat sekelilingnya mencari sosok laki-laki tersebut.


"Mas Bima sedang meeting. Nanti jika meetingnya selesai, dia akan segera ke sini." dibalas anggukan oleh Anggi sebagai tanda ia memahami keadaan.


"Apa yang tejadi? Kenapa kamu sampai seperti ini?"


"Saat aku keluar mobil dan hendak berbelanja di sebuh boutiqe, tiba-tiba aku dijambret Ka, tas ku dibawa lari. Ketika aku ingin mengejar jambret tersebut tiba-tiba ada sebuah sepeda motor melintas di depanku. Saat itu aku tidak mengingat lagi apa yang terjadi." Anggi berhenti sejenak.


"Untung saja handphone saat itu aku taruh di dalam saku." Anggi memeriksa salah satu saku bajunya. Ia telihat panik saat tidak mendapati handphonenya di sana.


"Anggi kenapa?" Elena juga terlihat panik.


"Handphoneku tidak ada Kak?"


"Ini." tanya Elena sambil mengangkat handphone ke arah Anggi.


"Hhhh, syukurlah. Ini sangat berarti buatku Ka." Anggi mengambil handphone dari tangan Elena. 


"Bukan handphonenya melainkan isi yang ada di dalam handphone ini Ka." jawab Anggi saat melihat ekspresi heran di wajah Elena.


"Apa yang membuat isi dari handphone itu jadi sangat berarti?" Elena menunjuk handphone yang sudah berpindah ke tangan Anggi.


"Kalau diperbolehkan" jawab Elena sambil menampilkan senyumnya.


Anggi mulai mencari sesuatu dilayar handphonenya. Matanya terus bergerak beriringan dengan pergerakan tangannya di atas handphone.


"Ini ka, foto ini sangat berarti buatku." menyodorkan sebuah foto laki-laki yang sedang fokus dengan layar laptponya ke arah Elena.


"Aku mengambilnya secara diam-diam saat dia sedang fokus mengerjakan sebuah desain."


"Si-siapa dia?" tanya Elena dengan terbata-bata. Ia berusaha menormalkan wajahnya. 


Tak disangka ternyata kejanggalan Elena memang benar. Erlang yang dipanggil Anggi tadi adalah Erlang yang sama. Erlang yang 5 tahun lalu menjadi kekasihnya.


"Aku pernah bilang sama Kaka kalau aku lagi suka sama seseorang kan?"


"I-iya." Elena tersenyum kikuk.

__ADS_1


"Nah ini orangnya. Namanya Erlang Ka, Erlangga Bratadika. Ia pria yang tampan, tegas meskipun terlihat dingin tapi aku menyukainya Ka."


Elena terdiam tak mampu memberikan respon apa-apa. Diremasnya tangannya dengan sebisa mungkin ia terlihat baik-baik saja.


"Tapi, Ka Erlang mengatakan kalau ia tidak menyuaiku Ka."


"Kenapa dia tidak menyukaimu, kamu ini sangat cantik Anggi. Tidak mungkin jika ada laki-laki yang menolakmu." Elena membelai puncuk kepala Anggi.


"Tapi kenyataannya seperti itu Ka. Ka Erlang mengatakan kalau ia masih menunggu seseorang."


"Seseorang? Apa ia sudah memiliki kekasih?" perkataan Anggi membuat Elena penasaran.


"Entahlah, yang ku tahu ia pergi meninggalkan Ka Erlang 5 tahun yang lalu."


Deg


Elena tak mampu mengucapkan sesuatu. Ia diam sejenak.


"Benarkah?" hanya itu yang mampu terlontar dari mulutnya.


Apakah orang tersebut adalah dirinya?


Benarkan selama ini Erlang menunggunya? Tapi kenapa, bukannya Erlang hanya memanfaatkannya. Elena berkecamuk dengan pikirannya.


"Hmmm, tapi aku akan tetap berusaha mengambil hati Ka Erlang. Karena aku yakin suatu saat Ka Erlang akan melihatku dan melupakan perempuan yang telah meninggalkannya?" ucap Anggi dengan yakin.


"Aku mau ke toilet sebentar." perkataan Elena menghentikan ocehan Anggi.


Elena membasuh wajahnya sambil memastikan apakah ia sedang bermimpi atau ini adalah kenyataan.


"Apa benar Erlang menungguku, tapi mengapa bukannya Erlang hanya memanfaatkanku." Elena berbicara sendiri dengan bayangnya di cermin.


"Aku memang salah, tidak memberikan Erlang kesempatan untuk menjelaskan. Haruskah aku menemuinya dan mendengarkan penjelasannya. Tapi di mana aku bisa menemuinya?" Elena kembali membasuh wajahnya.


"Ah tapi tidak mungkin, karena sekarang kamu sudah mempunyai Mas Bima, Elena. Meskipun di lubuk hatimu yang terdalam masih ada tersimpan nama Erlang, tapi kamu tidak boleh egois Elena." Elena mengusap bayangnya sendiri di cermin.


"Mungkin inilah yang dinamakan takdir." gumamnya.

__ADS_1


Tanpa ia sadari takdir yang membuatnya malah semakin mendekat.


__ADS_2