My Chosen Man

My Chosen Man
Curhat


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


...Elle, walaupun raga kamu pergi...


...Tapi rasa kamu tetep disini...


...Dihati yang aku tutup rapat-rapat...


...Agar tak pergi bersama kenangan...


...~Erlang...


***


Sesampai dirumah sakit, Arvel segera meminta perawat untuk memeriksa kondisi Erlang. 


Tak lupa iya juga menghubungi Aries, Guntur dan Eros hingga Bi Sumi. 


Arvel terlihat khawatir, tak henti-hentinya ia menengok ke arah ruangan tempat Erlang dirawat.


Lama perawat berkutat dengan luka Erlang, akhirnya mereka dipersilahkan untuk masuk.


Erlang pun terlihat sudah sadar terlihat ia sedang mengamati beberapa temannya yang berjalan mendekat.


"Loe baik-baik aja kan Lang?" tanya Arvel sembari mendudukkan pantatnya di kursi yang berada di samping ranjang Erlang.


"Seperti yang loe lihat." jawab Erlang dengan santainya.


 “Tenang, Vel. Bos kita kuat sekuat baja,” Eros juga mendaratkan tubuhnya disisi Arvel.


“Aslinya rapuh, Yahhh.” Guntur menimpali sambil tertawa dengan keras diikuti Eros.


“Rumah sakit bego!” Aries melirik sinis.


Ceklek


Pintu ruangan terbuka membuat mereka menengok, keluar sosok perempuan paruh baya dibalik pintu tersebut. 


Dengan sedikit berlari ia mendekati Erlang yang sedang berbaring di ranjangnya.


"Tuan Muda kenapa? Tuan Muda baik-baik aja kan? aduh, itu kepalanya kenapa. Bibi ngilu liatnya Tuan Muda." ucap bi Sumi sambil memeriksa keadaan Erlang dengan wajah yang khawatir. Ia menekuk jidatnya seakan merasakan sakit yang sama.


"Erlang baik-baik aja bi, cuma luka ringan sedikit." ucap Erlang sambil menepuk-nepuk punggung tangan bi Sumi.


"Sepertinya loe baik-baik aja, kalau gitu gue balik dulu ya. Besok gue kesini lagi loe tenang aja, enggak usah kangen sama gue. Hahaha."


"Ogah gue kangen sama loe, amit-amit." ucap Erlang sambil melemparkan bantal ke arah Arvel namun lemparan Erlang tak mengenai sasaran. 


Erlang menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat perkataan Arvel. 


Arvel terkekeh sambil menggaruk-garuk perutnya. Lalu pergi meninggalkan Erlang dan bi Sumi.


“Kita juga cabut, Lang,” pamit Aries diikuti anggukan Erlang.


Elle, walaupun raga kamu pergi

__ADS_1


Tapi rasa kamu tetep disini


Dihati yang aku tutup rapat-rapat


Agar tak pergi bersama kenangan


***


Keesokan paginya Arvel dan Dean menjenguk Erlang dirumah sakit.


"Bi Sumi mana Lang" tanya Dean sambil melihat-lihat sekitar mencari sosok bi Sumi.


"Gue suruh pulang, ngambil baju ganti. Enggak suka gue baju rumah sakit." jelas Erlang kemudian diangguki oleh Dean.


"Kalau bokap loe gimana Lang, kapan kesini?" tanya Dean sambil meletakkan tasnya diatas meja.


"Hmmm seperti biasa, bokap gue sibuk. Katanya ada urusan mendadak, jadi kemungkinan nanti malam baru ke Jakarta." ucap Erlang dengan santai karena ia sudah terbiasa tanpa sosok ayah.


"Oohhhh." ucap Dean sambil mengangguk dengan membulatkan mulutnya.


"Sekarang gimana keadaan lo Lang." tanya Arvel.


"Seperti yang loe lihat sekarang, gue terbaring di ranjang rumah sakit." jelas Erlang sambil menepuk-nepuk sisi ranjangnya.


"Lebay loe." ejek Arvel.


"Kenapa sih Lang loe jadi berantem sama Aldo? bukannya kalian temenan ya?" tanya Dean sambil duduk di kursi dekat ranjang Erlang sedangkan Arvel duduk di sisi ranjang Erlang yang kosong.


"Teman macam apa yang nusuk dari belakang. Heh, enggak sudi gue temenan sama orang macam Aldo." Erlang menggertakkan giginya, tangannya mengepal menggenggam sprei rumah sakit.


"Gue baru tau Vel, kalau pacar loe orang yang kepo." Erlang melirik Arvel sambil mengangkat alisnya.


"Dari lahir sudah kepo orangnya." jawab Arvel kemudian diiringi tawa keduanya. Dean yang kesal lalu mencubit pinggang Arvel sampai sang pemilik menjerit.


"Gue serius tau, Lang cerita dong." ucap Dean sambil menatap tajam Erlang dengan wajah seriusnya.


Erlang menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia menatap Dean dan Arvel yang sedang memasang wajah seriusnya.


"Aldo suka sama Elena, dia juga tau kalau gue sama Elena pacaran. Jadi dia sama Salsa dan temennya Salsa punya rencana buat misahin gue sama Elena."


"Tapi kenapa kemarin Aldo menjelek-jelekin Elena pas dirumah loe Lang?" tanya Arvel berusaha berpikir karena ia ingat dengan jelas perkataan Aldo yang menjelek-jelekan Elena sewaktu dirumah Erlang pagi itu.


"Aldo sengaja menjelek-jelekin Elena karena dia tahu pada saat itu Elena kerumah gue. Dia pengen nunjukin sama Elena bahwa gue enggak peduli saat ada yang menjelek-jelekin dia. Semua sudah direncanain sama dia." 


Erlang mengambil napas sejenak.


"Dia juga menjebak gue dan ngirim foto gue sama Salsa seakan-akan kita pelukan." sambung Erlang.


"Gue enggak nyangka Aldo bisa berbuat sampai segitunya." ucap Arvel.


"Gue juga enggak nyangka." sambung Dean. " Terus loe enggak mencoba jelasin gitu sama Elena?"


"Elena sudah pergi sebelum gue jelasin. Gue juga sudah menghubungi dia berulang-ulang, tapi nomornya enggak bisa dihubungi,"


"Sabar ya Lang, mungkin nanti loe bisa ketemu lagi sama Elena dan jelasin semuanya. Tapi ngomong-ngomong gue baru tau loe sesuka ini sama Elena. Sejak kapan loe suka sama dia Lang." ucap Dean yang begitu antusias.

__ADS_1


Pletak


Suara jentikan dari Arvel mengenai dahi Dean.


"Awww, kamu kenapa sih sayang. Sakit tau." ucap Dean sambil memonyongkan bibirnya dan mengelus-elus dahinya yang memerah karena ulah Arvel.


"Maafin pacar gue ya Lang. Keponya sudah level akut enggak bisa dikurang-kurangin."


"Kamu jahat tau enggak." Dean memukul paha Arvel dengan kencang sampai Arvel mengaduh kesakitan. 


Erlang terkekeh melihat gaya pacaran sahabatnya. Dilihatnya Arvel yang kesakitan sambil mengelus-elus pahanya.


"Sebenarnya gue suka sama Elena sejak masih SD." ucap Erlang mengagetkan Dean dan Arvel. 


Keduanya menatap Erlang dengan tidak percaya. Mereka menghentikan aktivitasnya dan beralih fokus menatap Erlang yang sedang memasang wajah seriusnya.


"Serius Lang." tanya Dean sambil menunjukkan wajah tidak percaya.


"Emang loe kira gue bercanda, enggak liat gue lagi serius." Erlang menunjuk wajahnya dengan telunjuk. 


Dengan memperlihatkan wajahnya yang sedang serius. Ia menatap Dean dan Arvel bergantian.


"Iya Lang, gue percaya loe sedang serius. Sampai mata loe mau keluar tuh saking seriusnya. Hahahah." 


Arvel tertawa sambil menepuk-nepuk pahanya.


"Kamu kenapa sih sayang ngajak becanda mulu. Enggak lucu tau." Dean terlihat marah karena ulah Arvel yang selalu saja tidak bisa mengkondisikan situasi.


Tok tok tok


Pintu diketuk dari luar dan tak lama muncul seorang suster dengan membawa nampan berisi obat dengan segelas minuman masuk dan mendekati ranjang Erlang.


"Permisi, maaf mengganggu sebentar. Saya mau mengantar obat buat pasien." ucap suster tersebut sambil melontarkan senyumannya. 


Dean segera mengambil tas yang ia letakkan di meja karena suster tersebut hendak menaruh nampannya di atas meja.


"Terimakasih Sus." ucap Arvel sambil mengembangkan senyumannya sehingga membuat garis lengkung yang sempurna.


"Sama-sama." kemudian suster tersebut beranjak keluar meninggalkan ruangan Erlang.


"Jangan macam-macam." bisik Dean sambil mencubit lengan Arvel dengan kencang sampai menimbulkan bekas biru disana.


"Iya maaf."


Erlang meminum obatnya sambil memperhatikan pertengkaran sahabatnya yang dianggapnya lucu. 


Sesekali ia tertawa karena melihat yang Arvel selalu kalah saat bertengkar dengan Dean.


"Loe sudah minum obatnya Lang." tanya Dean sambil kembali duduk di kursinya.


"Hmmm."


"Nah sekarang loe cerita kenapa loe bisa suka sama Elena sejak jaman SD?"


Erlang menatap Dean yang sedang memasang wajah penasarannya, sedangkan Arvel terlihat sedang mengelus-elus tangannya bekas cubitan Dean.

__ADS_1


"Sebenarnya gue sama Elena sudah saling kenal sejak SD."


__ADS_2