
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Biarlah aku yang mencari tahu sendiri. Yang kam perlukan sekarang hanyalah sandaran...
...~Erlang...
***
"Erlang." suaranya melemah, ia tak menyangka ternyata orang yang selama ini dianggapnya sudah menghilang ternyata malah selalu berada didekatnya.
"Jadi kamu yang selama ini mengikutiku?" bukan jawaban yang ia dapat melainkan pertanyaan yang laki-laki tersebut lontarkan.
"Elle, kamu kenapa? apa kamu menangis?"
Erlang menghampiri wanita yang selama ini selalu ia pantau dari jauh.
Disentuhnya pipi mungil yang masih lengket karena bekas aliran air asin di sana.
"Tidak, aku tidak menangis." ditepisnya tangan Erlang yang berusaha menangkup pipinya. Segera ia alihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Bohong." ucap Erlang.
"Elle, sekarang tatap aku." dipegangnya erat bahu Elena.
"Elle." panggil Erlang, namun yang dipanggil tetap tidak mau menengok.
"Tatap aku dan katakan kalau kamu tidak menangis." digoncangnya tubuh mungil wanita di depannya.
"Aku tidak menangis." ucapnya dengan setengah berteriak sambil menatap tajam ke arah Erlang.
"Aku tidak menangis Erlang, aku tidak menangis." buliran air matanya tiba-tiba mengalir begitu deras.
Elena memukul dada bidang Erlang yang entah sejak kapan sudah memeluknya.
"Keluarkan Elle, keluarkan semua yang kamu pendam." diusapnya berkali-kali punggung kecil Elena.
Air mata Elena semakin deras meluncur dari pelupuknya setelah mendengar perkataan Erlang.
Diremasnya kaos yang melekat pada tubuh laki-laki yang sedang mendekapnya. Meluapkan emosi yang sempat tertahan.
Erlang tak tahu apa yang terjadi saat Elena di rumah besar itu, yang ia tahu Elena keluar dari rumah tersebut dengan langkah yang tergesa-gesa.
Sebenarnya ia begitu penasaran, tapi tidak mungkin jika ia bertanya dengan wanita yang sedang menangis ini pikirnya.
__ADS_1
Biarlah aku yang mencari tahu sendiri. Yang kam perlukan sekarang hanyalah sandaran.
***
Bipbip
Suara klakson mobil memecah keheningan dikediaman rumah Elena. Wanita itu tahu siapa yang datang sepagi ini. Dengan langkah yang malas Elena membuka pintu.
Ceklek
Baru saja pintu terbuka, Bima langsung menatapnya dengan tatapan yang khawatir. Entah sejak kapan laki-laki itu sudah ada di depan rumahnya padahal ketika ia turun dari tangga, masih terdengar suara klakson mobil.
"Sayang, kenapa belum siap-siap. Kamu tidak ke kantor hari ini? apa kamu sakit?" Bima menangkup pipi Elena kemudian beralih memeriksa suhu tubuh wanita tersebut.
"Aku mau cuti beberapa hari, jadi Mas bisa pergi sekarang." Elena hendak menutup pintu namun ditahan oleh Bima.
"Sayang, kamu sakit ya? kita ke rumah sakit sekarang." ucapnya karena merasakan suhu tubuh Elena memang sedikit panas.
"Aku baik-baik saja Mas, jadi ku mohon sekarang pergi dari rumahku!" Elena melangkahkan kakinya ke arah ruang tamu.
Tak dihiraukannya lagi laki-laki yang sedang mematung di depan pintu.
"Sayang kamu kenapa? kenapa tiba-tiba berubah seperti ini? telepon ku juga tadi malam tidak kamu angkat. Kamu kenapa Sayang?" Bima mengejar Elena yang masih tak jauh dari pandangannya. Dicekalnya lengan Elena dengan erat sampai yang dicekal memalingkan tubuhnya menghadap Bima.
"Sayang apa yang terjadi denganmu?"
"Ku bilang berhenti memanggilku dengan sebutan itu Mas!" suara Elena begitu keras hingga menggema diseluruh ruang tamu sambil dii arahkannya jari telunjuk tepat di wajah laki-laki itu.
"Aku tidak mengerti kenapa kamu tiba-tiba seperti ini."
"Aku juga tidak mengerti apa alasan kamu sampai menipuku dengan kebohongan seperti ini Mas."
"Menipu apa, aku tidak menipumu." suara Bima juga mulai meninggi, terlihat urat-urat di sekitar mata menjalar menghiasi dahinya.
"Status, status kamu sudah menikah dan berani-beraninya kamu mendekatiku Mas."
Elena mulai terengah-engah, napasnya membara terlihat dari bahunya yang turun naik.
"Da-dari mana kamu mengetahui itu?" diremasnya bahu Elena dengan kedua lengan kekarnya.
"Hhh, apa Mas tau? perempuan hamil yang aku tolong itu Citra, istri kamu Mas!"
"Eee, I-itu..." kalimatnya menggantung, ia bingung harus merespon seperti apa.
__ADS_1
"Elena beri aku kesempatan, aku akan menjelaskan semuanya." sambungnya lagi.
"Tidak Mas sekarang kamu keluar dari rumahku."
Didorongnya tubuh besar Bima, namun semua seakan sia-sia. Tubuh mungilnya tak mampu melawan kekuatan seorang laki-laki.
"Ku mohon Elena." Bima mengggam tangan Elena sambil berlutut meminta kesempatan.
Elena terdiam sejenak, mungkin ia harus mendengar penjelasan dari Bima pikirnya. Ia tak ingin mengulangi kesalahan yang sama saat ia bersama Erlang.
"Cepat katakan." imbuhnya.
"Kamu ingat saat aku bilang temanku masuk rumah sakit sepulang kita dari pesta Pak Alex?" Bima berdiri dari posisinya.
"Iya." Elena ingat dengan betul, karena saat itu juga Erlang mengantarkannya pulang.
Diremasnya ujung piyama sambil menguatkan hati untuk mendengarkan kalimat yang akan dilontarkan Bima.
"Saat itu aku berbohong, sebenarnya saat itu Citra menelponku dan mengancam akan bunuh diri jika aku tidak menemuinya saat itu juga." terdapat penyesalan yang mendalam dari setiap kata-katanya.
"Tapi saat aku tiba diapartemennya, Citra memaksaku untuk sejenak menemaninya malam itu. Ia menyuguhkanku segelas teh yang tanpa aku ketahui, ia telah mencampurkan obat perangsang di sana. Aku dijebak Elena, aku juga tidak menyangka kalau Citra hamil setelahnya."
"Harusnya kamu memberitahuku Mas saat itu."
"Aku terlalu takut jika harus kehilanganmu Elena."
"Kamu juga berbohong perihal ada urusan di Bali Mas?" tebak Elena
"Maafkan aku Elena, saat itu aku ke Bali untuk melangsungkan pernikahan dengan Citra." Bima tak mampu menatap mata Elena. Ia menundukkan pandangannya.
Sakit sebenarnya saat Bima mengatakan seperti itu. Bayangkan jika seseorang yang selalu bersikap posesif dan perhatian tiba-tiba melakukan hal yang diluar dugaan. Hal yang terpikirkan saja tidak terpintas oleh Elena.
"Tapi aku janji, jika anak itu lahir aku akan menceraikan Citra dan kita akan hidup bersama Elena." ucapnya antusias berharap Elena akan menyukai ide yang ia katakan.
"Jangan gila kamu Mas. Aku mendengarkan penjelasan kamu bukan berarti aku mau balik sama kamu, tapi aku hanya ingin tahu alasan dibalik kebohongan kamu."
"Tapi Elena, aku benar-benar mencintai kamu. Apa salahku di sini, aku hanya djebak. Tapi kenapa aku harus mengalami situasi seperti ini."
"Sudah Mas, aku tidak ingin ribut sama kamu. Lebih baik sekarang kamu pergi."
"Tapi Elena..." ucapan Bima menggantung karena langsung dipotong oleh Elena
"Mas ku mohon."
__ADS_1