
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Kamu tidak perlu merubah diri ...
...Cukup jadi diri kamu yang apa adanya...
... Jangan memaksakan sesuatu, karena sesuatu yang dipaksakan kadang berakhir penyesalan...
...~Elena...
***
"Kamu Elena kan?" tanya seorang perempuan dengan tinggi badan melebihi Elena, berkulit putih dengan rambut sebahu. Ia meyodorkan tangannya ke arah Elena. "Perkenalkan aku Anggi." sambungnya lalu diiringi dengan senyuman.
"Elena." jawab Elena sambil membalas jabatan tangan dari Anggi.
"Ka Bima tidak cerita ya tentang aku." tanya Anggi yang melihat ekspresi bingung dari wajah Elena. Ia duduk di kursi kosong samping Elena dan meletakkan tasnya di samping kursi.
Elena menggelengkan kepalanya sambil tersenyum canggung.
"Ka Bima mana?" tanya Anggi sambil melihat kiri-kanan mencari sosok laki-laki yang dikenalnya membuat Elena tersadar dari lamunannya.
"Sedang ke toilet." tunjuknya ke arah kanan ke tempat toilet.
"Ohhh." Anggi menganguk. "Ka Bima cerita banyak tentang kaka." sambungnya lagi.
"Benarkah?" tanya Elena yang tidak percaya akan perkataan Anggi. Karena mereka baru beberapa bulan berpacaran.
"Iya, katanya dulu Ka Bima sudah lama suka sama kaka, tapi baru berani nyatain." ucap Anggi setengah berbisik sambil cekikikan.
Tak Elena pungkiri karena sejak lama Bima selalau bersikap manis padanya. Tak jarang ia juga selalu membantu Elena.
"Pantas saja Ka Bima tergila-gila sama Kaka. Ternyata Ka Elena sangat cantik." puji Anggi membuat Elena merasa malu.
"Kamu juga cantik kok." puji Elena
"Tapi kenapa orang yang aku suka tidak pernah sedikitpun melihatku. Ia selalu saja mengabaikanku. Bagaimana caranya agar seseorang suka sama kita Ka?" Anggi menatap Elena seakan mencari jawaban dari pertanyaannya.
"Kamu tidak perlu merubah diri Anggi. Cukup jadi diri kamu yang apa adanya. Jangan memaksakan sesuatu, karena sesuatu yang dipaksakan kadang berakhir penyesalan." jelas Elena sambil menggenggam tangan Anggi.
"Ternyata benar kata Ka Bima. Ka Elena bukan hanya cantik tapi juga sangat dewasa."
__ADS_1
"Mas Bima bilang begitu."
"Iya." Anggi mengangguk dengan cepat. "Oh ya, Kaka mau tahu orang yang aku suka? tawar Anggi.
"Boleh." Elena menjawab dengan senyuman ketika melihat gadis di sampingnya dengan antusias mencari sesuatu di layar handphonenya.
"Ini Ka." Anggi mengarahkan layar handphonenya ke arah Elena, namun secara bersamaan Bima datang membuat tatapan Elena mengarah ke arah Bima dan mengabaikan sesuatu yang ingin ditunjukkan Anggi.
"Anggi sudah lama datang?" Bima duduk di samping Elena, sehingga Elena diapit oleh Anggi dan Bima.
"Hmmm lumayan." Anggi menyimpan handphonenya dan melupakan sesuatu yang ingin ia tunjukkan.
"Oh ya sayang, ini Anggi sepupu aku. Dia orang yang mau aku kenalin sama kamu. Dia sudah aku anggap sebagai adik sendiri." jelas Bima sambil memperkenalkan Anggi dan dibalas senyuman oleh keduanya.
"Dia ini anak dari Pak William yang waktu itu ketemu di acara peresmian perusahaan." sambung Bima lagi.
"Oh anak Pak William ya?" tanya Elena dan dibalas senyuman oleh Anggi. " Tapi kenapa tidak datang waktu acara peresmian perusahaan?" tanya Elena lagi.
"Waktu itu aku lagi Studi di Amerika Ka, dan baru beberapa bulan ini menetap di Jakarta. Sama seperti Kaka dan Ka Bima juga."
"Oh ya, kamu ngambil jurusan apa di sana?" tanya Elena sambil meminum es jeruknya.
"Wah hebat ya." ucap Elena tak kalah antusias. Bima terkekeh melihat Anggi dan Elena yang terlihat akrab padahal baru saja bertemu.
"Mba." ucap Bima sambil melambaikan tangannya ke arah pelayan caffe. Mereka memesan 3 porsi steak dan 1 porsi salad besar serta 3 buah jus jeruk.
"Ternyata selera kita sama ya." ucap Anggi sambil tertawa kemudian diiringi oleh Elena dan Bima.
"Oh ya Anggi sekarang bekerja di mana?" tanya Elena memecah keheningan. Karena semenjak pelayan datang membawakan makanan, ketiganya fokus dengan makanan masing-masing.
"Aku kerja di perusahaan Daddy Ka. Membantu sedikit-sedikit sekalian belajar." ucap Anggi sambil menyuap sepotong daging steak ke dalam mulutnya.
"Ohhhh." Elena menganggukkan kepalanya dan mereka kembali berbincang.
"Sampai bertemu lagi Ka Elena. Aku senang bisa kenal sama Kaka." Anggi memeluk erat Elena.
"Aku juga senang bisa kenal sama kamu." ucap Elena sambil menepuk-nepuk punggung Anggi.
"Aku pulang duluan ya Ka, dadahh." ucapnya sambil melambaikan tangan.
"Hati-hati di jalan." Elena membalas lambaian tangan Anggi.
__ADS_1
"Bagaimana hasil dari meeting Mas sama Pak Alex kemarin." tanya Elena ketika mereka sudah memasuki mobil.
"Meetingnya ditunda." ucap Bima sambil terus fokus mengemudi.
"Loh kenapa jadi ditunda Mas? bukannya semalam Mas bilang kalau hari itu adalah hari terakhir Pak Alex di Jakarta. Apa jangan-jangan semalam Mas datangnya telat dan Pak Alex sudah kembali ke Singapure?" ucap Elena yang terlihat panik sambil terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan.
Bima terkekeh saat melihat sikap Elena. Ia bingung pertanyaan mana yang harus ia jawab.
"Kok Mas malah ketawa sih." Elena mencubit pinggang Bima membuat sang pemilik meringis sambil memegang pinggang bekas cubitan Elena.
"Mas bingung harus jawab pertanyaan kamu yang mana dulu." ucap Bima sambil diiringi tawa.
"Oh begitu ya." Elena menyadari bahwa pertanyaan yang ia lontarkan memang banyak. "Jawab yang pertama saja." ucap Elena sambil mengacungkan jari telunjuknya.
"Kemarin harusnya metting dihadiri oleh 3 pihak perusahaan. Tetapi ada 1 perusahaan yang tidak hadir, jadi metting dengan terpaksa harus ditunda. "
"Loh kenapa bisa sampai tidak hadir sih Mas. Itukan namanya tidak profesional." protes Elena.
"Bukannya tidak profesional sayang, tapi ada hal mendesak yang mengharuskan pimpinannya terjun langsung ke lapangan."
"Apa perusahaan tersebut tidak mempunyai orang kepercayaan Mas?" tanya Elena lagi.
"Itu masalahnya, perusahaan tersebut sedang dilanda masalah. Sehingga mengharuskan pimpinannya langsung yang menangani." jelas Bima sambil tetap fokus dalam menyetir.
"Ohhhh." Elena mengangguk sebagai tanda ia memahami penjelasan Bina.
"Kapan mau metting lagi Mas." tanya Elena sambil terus menatap Bima.
"Besok lusa, Kamu bisa kan temani aku?" Bima mengalihkan pandangannya ke arah Elena yang sedari tadi terus memandangnya.
"Bisa Pak, akan saya urus nanti keperluannya." ucap Elena dengan berbicara formal sambil menundukkan pandangannya membuat Bima tertawa meihatnya. Mobil pun diisi dengan gelagak tawa keduanya.
Sesampai di kantor mereka selalu bersikap profesional. Karena mereka tidak ingin menyamakan urusan pribadi dengan urusan kantor.
****
Seorang gadis tengah memandangi foto di layar handphonenya. Sudah hampir setengah jam ia memandangi sesuatu dilayar tersebut.
"Sampai kapan Kaka mengabaikanku? apa kurangnya aku Ka? sebaik apa perempuan yang Kaka tunggu sampai Kaka tidak pernah sedikitpun melihatku?" ucapnya sambil terus memandangi foto laki-laki yang dalam beberapa bulan ini mengisi hatinya.
"Ka Erlang, jawab aku. Aku harus seperti apa agar Kaka mau menerimaku." terlihat sudut mata Anggi mengalir bulir-bulir air mata.
__ADS_1