
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Jika takdir menarikmu kembali...
...Apa yang akan kamu pilih...
...Mencintai masa lalu?...
...Atau dicintai dengan yang baru?...
***
Pak Alex sudah pulang terlebih dahulu karena ada hal yang mendesak dan karena beliau pun hanya sebagai penanam saham.
Sedangkan Bima dan satu pimpinan lagi adalah orang yang akan mengurus pembangunannya.
Sekarang hanya tersisa Bima dan pimpinan dari perusahaan Amarta Indi yang juga merupakan perusahaan konglomerat multinasional yang bergerak di bidang infrastruktur sama seperti perusahaan Blue Internasional.
Untuk itulah mereka bekerja sama, karena keuntungan yang diraih pasti akan lebih besar.
"Senang bekerja sama dengan anda Pak Erlangga Bratadika."
"Senang juga bekerja sama dengan anda Pak Bima Rahardian."
Erlang dan Bima saling berjabat tangan.
"Saya sangat menyukai kepribadian anda. Apa kita bisa berteman Pak Erlangga?"
"Tentu saja."
"Baiklah, kalau begitu saya pulang dulu Pak Erlangga. Karena pacar saya sudah menunggu." Bima membereskan berkas-berkas di atas meja dengan dibantu oleh Erlang.
"Anda sudah mempunyai kekasih Pak Sabima?"
"Iya, nanti saya kenalkan."
"Saya tunggu."
***
"Bagaimana keadaannya? apa dia baik-baik saja"? tanya Bima yang baru saja sampai di ruangan tempat Anggi dirawat.
"Anggi baik-baik saja Mas, hanya sedikit luka dibagian kepala. Tapi dokter sudah menanganinya dan juga sudah diberi obat penahan sakit. Sekarang biarkan Anggi beristirahat." ucap Elena sambil menengok ke arah Anggi yang sedang tertidur pulas.
"Benarkah?" Bima juga ikut menengok ke arah Anggi.
"Apa menurut Mas aku sedang berbohong?"
"Tidak bukan seperti itu, aku hanya terlalu menghawatirkannya. Maafkan aku. Aku hanya takut terjadi sesuatu padanya." sambil memegang bahu Elena. Ia berusaha meyakinkan wanita di depannya.
"Baiklah, aku memahaminya." ucap Elena sambil mengangguk.
Mereka berjalan menuju sofa yang ada di ruangan Anggi dan membiarkan Anggi beristirahat.
"Bagaimana meeting-nya Mas? apa berjalan dengan lancar?" Elena mencari posisi yang nyaman untuk menatap Bima.
"Sangat lancar, mulai minggu depan proyek akan segera dilaksanakan." Bima mengeluarkan beberapa bungkus makanan yang telah ia beli sebelum berangkat ke Rumah sakit.
"Baguslah kalau begitu."
"Oh ya, aku mau kenalin kamu sama pimpinan perusahaan Amarta Indi. Kamu mau kan?" Bima menghentikan aktivitasnya dan mulai menatap Elena yang juga menatapnya saat itu.
"Buat apa Mas? apa ada sesuatu yang harus ku kerjakan dengan pimpinan perusahaan Amarta Indi ?"
"Tidak ada, hanya saja aku ingin mengenalkanmu kepadanya. Aku sangat menyukai kepribadiannya. Jadi aku memintanya untuk berteman."
__ADS_1
"Hmmm, baiklah. Kenalkan aku kepadanya." Elena mengambil sepotong pizza hangat di atas meja dan mulai memakannya.
***
"Wooyy." sambil memukul meja membuat seorang laki-laki yang sedang fokus dengan layar laptopnya terkejut.
"Apa kamu tidak punya kesibukan selain mengganggu orang?" tanya Erlang kepada perempuan di depannya yang berstatus sebagai sepupunya.
"Bagaimana mau punya cewek kalau kerjaan kaka cuma di kantor terus. Mau jadi jomblo seumur hidup." ucap Sisil dengan setengah mengejek. Ia bersandar di meja sebelah kiri Erlang.
"Apa kamu akan terus mengejek Kakamu ini?"
Erlang menghentikan jari-jarinya yang sedari tadi terus mengetik sesuatu.
"Aku punya teman Ka. Orangnya cantik, baik, dia sedang mencari kekasih. Mungkin akan cocok jika bertemu dengan Ka Erlang."
"Apa kamu sedang berusahan menjodohkan Kakamu ini dengan temanmu?" Erlang menyandarkan kepalanya di kursi sambil memejamkan mata.
"Aku tidak menjodohkan, hanya berusaha mengenalkan kaka saja. Tapi kalau Kaka berpikir seperti itu tidak masalah." Sisil mengangkat kedua bahunya.
"Kaka mau ya?" mendekat dan menggoyang-goyangkan bahu Erlang.
"Aku tidak mau, aku sedang sibuk. Kenalkan saja dia sama Guntur." Erlang tetap tidak bergeming dan terus memejamkan mata. Ia sempat terkekeh mengingat Guntur, pasti laki-laki itu sedang kewalahan mengelola perusahaan cabang milik Erlang.
"Sebentar saja ku mohon, aku sudah membuat janji dengan temanku. Kaka mau ya."
Erlang sejenak menatap Sisil. Nampak dari raut wajahnya yang sedang berharap.
"Baiklah."
"Yeyy, nanti hari minggu Kaka temui dia di Mall dekat pusat perbelanjaan ya."
***
Karena hari libur Elena memutuskan untuk berbelanja.
Selesai berbelanja sayur dan daging ia menuju mobil dan hendak pergi dari pusat perbelanjaan.
Entah perasaan apa yang membuatnya menuju sebuah Mall yang dekat dengan pusat perbelanjaan tersebut.
Ia melangkahkan kakinya melihat-lihat sekitar sekedar mencuci mata.
"Seharusnya aku tidak ke sini. Niat ingin merefreshkan mata malah menjadi iri melihat orang-orang pacaran."
"Sekarang aku malah merasa lapar" Elena memegang perutnya sambil melihat-lihat sekitar mencari caffe tedekat untuk mengisi perutnya.
Mmm
I will never not think about you
From the moment I loved, I knew you were the one
And no matter what I-I do, oooh, mmm
I will never not think about you
What we had only comes
Once in a lifetime
For the rest of mine, always compare
Lagu 'Never Not' - Lauv diputar di caffe yang sedang Elena datangi. Lagu tersebut merupakan lagu kesukaan ia dan Erlang.
Elena benar-benar merasa seperti terbuai oleh masa lalu. Dering handphone membuyarkan lamunan Elena.
__ADS_1
Hallo Mas, ada apa?
Tidak ada apa-apa, aku hanya merindukan kekasihku saja
Mas gombal, baru satu hari tidak bertemu masa sudah kangen
Aku selalu memikirkanmu Sayang, bahkan setial saat aku selalu memikirkanmu
Masa, Mas bohongkan?
Mas tidak bohong, Mas berbicara dengan sejujur-jujurnya. Sayang kamu di mana sekarang? kenapa ribut sekali?
Aku sedang makan di caffe Mas
Sama siapa? kenapa tidak memberitahuku?
Sendiri Mas. Oh ya Mas sudah dulu ya, nanti aku telepon lagi. Pesananku sudah datang.
Elena menutup telepon secara sepihak dan mulai memakan hidangan yang sudah ia pesan.
Disisi lain,
"Ka Erlang, sepertinya temanku akan sedikit terlambat karena dia sedang terjebak macet." ucap Sisil sambil memperlihatkan sebuah chat pribadi ke arah Erlang.
"Aku tidak bisa jika menunggu terlalu lama. Jika temanmu tidak datang dalam 15 menit maka aku akan pergi."
"Ka Erlang jangan begitu, kasian temanku Ka."
"Aku seperti orang yang kekurangan pekerjaan. Jika bukan karenamu, aku tidak akan mau seperti ini." ucap Erlang yang masih fokus dengan layar handphonenya.
"Mba minta Bill-nya." teriak seorang wanita dari sudut lain.
Erlang seperti mengenali suara tersebut, seperti tidak asing baginya. Dengan cepat ia mencari asal suara tersebut.
Pandangannya terhenti pada wanita yang sedang membayar tagihannya. Tanpa disadari sudut bibir Erlang membentuk sebuah senyuman.
"Elle." satu kata yang terlontar dari mulutnya. Wanita yang sudah lama ia cari sekarang berada di depannya.
Senang yang tidak dapat digambarkan bagaimana perasaan Erlang sekarang. Dengan cepat ia berdiri dari posisinya dan hendak mendatangi Elena, namun tangannya dicekal oleh Sisil.
"Kaka mau kemana? Kaka tidak akan pergi kan? sebentar lagi temanku akan sampai."
"Aku ada urusan mendesak, biarkan aku pergi Sisil. Ada hal yang lebih penting yang harus ku urus."
Erlang melepaskan pegangan Sisil dan melihat sosok Elena sudah keluar dari caffe. Dengan cepat ia melangkahkan kalinya keluar caffe.
"Ka Erlang!" teriak Sisil namun tak dihiraukan oleh Erlang. Ia terus melangkahkan kakinya semakin menjauh dari pandangan Sisil.
Erlang mulai mencari sosok yang sangat ia rindukan.
Namun setelah ia keluar dari caffe ia tidak menemukan Elena karena begitu banyak orang yang berlalu lalang sehingga menyulitkannya untuk mencari sosok Elena yang kecil.
"Kamu kemana Elle, aku sangat merindukanmu."
Elena melangkahkan kaki menuju parkiran. Dibukanya pintu mobil yang sedang terparkir rapi.
Tapi ia merasakan jika ada sesuatu yang sedang memegangnya. Dibaliknya tubuhnya menghadap sosok yang sedang memegang tangannya. Ia mengadahkan wajahnya untuk melihat siapa sosok tersebut.
"Erlang." ucap Elena yang masih mematung di tempatnya. Ia tak mampu lagi untuk berkata-kata. Tubuhnya seakan kaku ketika melihat sosok di depannya.
Jika takdir menarikmu kembali
Apa yang akan kamu pilih
Mencintai masa lalu?
__ADS_1
Atau dicintai dengan yang baru?