
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Bagaimana bisa aku melupakanmu Elle, melihat sikapmu yang lebih mengutamakan orang-orang disekitarmu malah membuatku semakin mencintaimu...
...~Erlangga...
***
Elena hanya terdiam di posisinya. Sosok yang tadi ia cari kini berada dihadapannya. Namun ia tak menginginkan situasi yang seperti ini.
"Sayang ayo." ucapan Bima membuyarkan lamunan Elena.
"Elena Arabella." sambil mengulurkan tangannya ke arah Erlang.
"Erlangga Bratadika, bisa kamu panggil Erlangga." ucap Erlang sambil membalas jabatan tangan Elena.
Elena duduk di kursi yang berhadapan dengan Erlang.
Tubuhnya seakan lemas, hatinya tak karuan. Ia pandang sejenak Erlang yang sedang duduk dihadapannya.
Tatapannya sendu seakan tersirat kekecewaan yang terdalam di sana.
Suasana benar-benar tidak nyaman bagi Erlang dan Elena, berbeda dengan Bima. Ia selalu saja memberikan perhatian-perhatian kecil namun selalu ditolak secara halus oleh Elena karena mata Erlang selalu mengawasi setiap gerak-gerik Elena.
Sampai dipenghujung acara baik Elena maupun Erlang, keduanya seakan enggan untuk berbicara.
***
"Terima kasih atau undangannya Pak Alex." Bima menjabat tangan Pak Alex dan dibalas jabatan juga oleh Pa Alex.
"Saya yang seharusnya berterima kasih karena kalian sudah mau datang ke acara kami Pak Bima."
Sesampai di depan mobil tiba-tiba handphone Bima berdering.
"Sebentar ya Sayang." ucap Bima sambil berjalan menjauhi Elena.
Elena mengangguk sambil bersandar di samping pintu. Ia memainkan handphone-nya sambil menunggu Bima.
"Ada apa Mas?" tanya Elena melihat wajah Bima yang terlihat panik.
"Aku ada urusan mendadak Sayang."
"Urusan apa Mas?" tanya Elena
"Temanku mengalami kecelakaan dan sekarang sedang kritis di rumah sakit." jelas Bima sambil menatap mata Elena.
"Apa kita perlu ke rumah sakit Mas."
"Tidak perlu, cukup aku saja. Aku takut nanti kamu akan kelelahan Sayang."
"Tapi Mas.." perkataan Elena tersendat saat Bima menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah Mas pergi sekarang, nanti aku pulang naik taksi." sambil membuka pintu mobil seakan meminta Bima untuk segera naik ke mobil.
"Tidak, Aku yang akan mengantarkan kamu pulang Sayang."
"Aku baik-baik saja Mas, percayalah."
Bima menatap Elena lekat-lekat. Diraihnya tangan mungil Elena dan digenggamnya tangan tersebut.
"Hati-hati Sayang." dikecupnya tangan tersebut dan berlalu meninggalkan Elena.
Sembari menunggu taksi yang lewat, Elena duduk di sebuah kursi dipinggir jalan.
Matanya tak henti-henti melihat mobil yang sedang berlalu lalang. Tak lama sebuah mobil mewah berwarna putih berhenti di depannya dan keluarlah sosok yang sangat Elena kenal.
__ADS_1
Sebenarnya Elena ingin menolak tawaran dari Erlang, tapi karena hujan mulai menetes membasahi tubuhnya akhirnya ia memutuskan untuk pulang bersama Erlang.
"Apa kamu mencintai Bima?" tanya Erlang ketika sudah sampai di depan rumah Elena dengan arahan dari sang pemilik rumah.
"Apa itu perlu kamu tanyakan."
"Apa kamu benar-benar tidak ingin memulai semua dari awal lagi Elle." tanya Erlang sambil menghadap ke arah Elena.
"Sekalipun aku ingin memulai semua dari awal itu tidak akan berakhir dengan baik Erlang. Aku tidak akan menyakiti orang-orang disekitarku."
"Tapi itu menyakiti aku dan dirimu sendiri Elle." ucapan Erlang membuat Elena terdiam sejenak.
"Lupakan aku." ucapan terakhir dari Elena sebelum ia keluar dari mobil.
"Selama bertahun-tahun aku menunggumu Elle, bagaimana bisa aku melupakanmu begitu saja." ucap Erlang yang berhasil mengejar Elena. Kembali ia cengkram lengan wanita yang ada di depannya.
Hujan membasahi tubuh Erlang dan Elena, tapi seakan tidak dihiraukan oleh keduanya. Mereka hanya sibuk dengan perasaan masing-masing.
"Jika aku dan kamu bersama, maka akan banyak hati yang tersakiti." Elena menghempas tangan Erlang dari lengannya.
"Maksudmu apa Elle?" Erlang terlihat kebingungan.
"Anggi." satu nama yang Elena lontarkan mampu membuat Erlang terdiam sejenak.
"Dari mana kamu tahu dengan Anggi, Elle?"
"Tidak penting dari mana aku mengetahuinya. Yang jelas Anggi menyukaimu Erlang, jangan lupakan itu. Jika kita bersama maka kita menyakiti 2 orang sekaligus."
"Tapi aku tidak menyukai Anggi, Elleku mohon jangan memaksakan perasaan karena pada akhirnya kamu akan terluka."
"Aku juga tidak mau jika harus bahagia di atas penderitaan orang lain. Mungkin sudah takdir bahwa kita tidak mungkin bersama Erlang."
Elena mengambil napas berusaha menormalkan rasa sesak yang sudah menghimpit.
"Maaf karena tidak memberikanmu kesempatan dan pergi begitu saja saat itu." Elena menyeka air mata dengan lengannya.
"Kadang cinta juga diciptakan tanpa harus memiliki. Mungkin itu yang terjadi di antara kita. Jadi ku mohon lupakan aku." air matanya meluncur dengan deras bersamaan dengan terpaan air hujan yang menetes ditubuhnya.
Bagaimana bisa aku melupakanmu Elle, melihat sikapmu yang lebih mengutamakan orang-orang disekitarmu malah membuatku semakin mencintaimu
Tak kusangka Kamu tumbuh menjadi semakin dewasa sekarang.
Elena meringkuk tubuh mungilnya seperti bayi di atas kasur. Ia menangis sesegukan sambil memegang kedua lututnya.
"Aku yang bodoh, aku yang salah, aku yang jahat." ucapnya sambil bulir-bulir air mata terus menetes dari pelupuknya.
Ia teringat perkataannya dengan anak kecil di pesta waktu itu. Heh, dasar bodoh pikirnya lagi. Ia bisa mengatakan untuk tidak menangis kepada anak kecil tersebut, tapi nyatanya ia juga tidak bisa untuk tidak menangis.
Elena memejamkan mata sambil terus merutuki kesalahan yang ia perbuat. Ia tak menyangka jika keputusan yang ia ambil akan berujung kisah yang rumit seperti ini.
***
Matahari masih belum menunjukkan dirinya. Hawa dingin pun masih begitu menusuk dirasa. Elena turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya dengan gontai. Ia kehilangan energinya karena lelah menangis tadi malam.
Dibukanya lemari pendingin sambil melihat-lihat sesuatu yang bisa ia masak. Dengan mulut yang berulang kali menguap, Elena tetap memaksakan dirinya untuk memasak.
"Setidaknya aku harus megisi perutku." ucapnya sambil terus memotong buah wortel. Satu potong, dua potong berhasil lolos dari tajamnya pisau.
"Memotong wortel saja sekarang aku tidak bisa." ucapnya yang kesal sambil dengan cepat menggerakkan tangannya untuk mengupas wortel."
"Aaawwww." jari telunjuknya teriris pisau. Dengan cepat ia menuju wastafel dan menyiram lukanya.
Dengan kesal Elena mengambil beberapa helai roti dan mengoleskan selai di atas sana. Mungkin lebih baik jika memakan roti saja pikirnya.
"Tumben Mas Bima tidak menghubungi pagi ini. Apa dia sedang sibuk? lebih baik jika aku berangkat sendiri." ucapnya sambil mengambil kunci mobil dan berlalu menuju kantor.
__ADS_1
"Pagi Bu Elena." sapa salah satu karyawan perempuan.
"Pagi." ucap Elena membalas sapaan karyawan tersebut dengan ramah.
Dilihatnya ruangan Bima yang masih kosong. Benar pikirnya jika Bima sedang ada urusan.
Hampir satu jam Elena berkutat dengan berkas di atas mejanya. Fokusnya teralihkan saat mendengar ada seseorang yang sedang memanggil namanya.
"Temui saya di ruangan." ucap Bima yang baru saja datang dan melongos pergi menuju ruangannya tanpa belum sempat Elena memberikan balasan.
"Ada apa Pak?" tanyanya ketika sudah masuk ke ruangan Bima.
Bima hanya diam dan memutar kursinya menghadap Elena seakan mengisyaratkan sesuatu dibalik matanya.
"Mas sakit?" tanya Elena yang berjalan melewati sofa dan berhenti di meja besar kepemilikan Bima. Ia tidak lagi memakai bahasa formalnya. Dilihatnya wajah Bima yang sedang pucat.
"Badan Mas panas, kenap tetap memaksakan ke kantor. Ayo sekarang kita ke Rumah sakit Mas." ucap Elena setelah memeriksa dahi Bima yang memang panas. Di paksanya tubuh besar itu untuk berdiri.
Namun bukannya berdiri, Bima malah menariknya kepelukan. Elena terkejut dan ingin segera berdiri karena posisinya sedang tidak nyaman.
Bagaimana tidak, ia sedang duduk dipangkuan Bima dengan tangan laki-laki tersebut melilit di pinggangnya.
"Mas, aku sedang dalam posisinya tidak nyaman." ucap Elena jujur.
"Sebentar saja ku mohon." Bima mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan kepalanya di antara bahu Elena.
"Kalau ada yang melihat bagaimana Mas?" Elena terlihat panik.
"Tidak mungkin Sayang, karena ruangan ini di desain sedemikian rupa agar orang luar tidak bisa melihat aktivitas orang di dalam." jelas Bima seakan membungkam mulut Elena.
"Mas." ucap Elena karena mereka sudah terlalu lama dalam posisi tersebut. Beberapa kali Elena memanggil namun tidak ada balasan dari Bima.
"Mas sebenarnya ada apa?" ucap Elena setelah Bima mengangkat kepalanya.
"Aku hanya merindukanmu, itu saja."
"Tapi wajahmu terlihat pucat Mas." Elena memegang wajah Bima dengan tangan kirinya.
"Kenapa jarimu Sayang." Bima baru menyadari jika jari Elena menggunakan plester.
"Hanya luka sedikit teriris pisau saat aku ingin memasak." jelasnya.
Elena terkejut saat Bima tiba-tiba berdiri dan mengambil handphone-nya. Ia mengetik sesuatu di atas sana.
"Kenapa Mas, apa ada sesuatu yang kamu lupa?" tanya Elena sambil terus memperhatikan gerak-gerik Bima.
"Tidak, aku hanya ingin menghubungi seseorang untuk mencarikanmu asisten Rumah tangga."
"Buat apa Mas, aku tidak perlu asisten rumah tangga. Aku juga tidak pernah meminta Mas untuk mencarikanku asisten rumah tangga." Elena terlihat kesal, ia sedikit meninggikan suaranya.
"Ini apa." Bima mengangkat tangan Elena yang jarinya teriris pisau.
Elena terdiam memikirkan perkataan Bima. Apa yang sedang Bima pikirkan.
"Aku tidak mau jika kamu terluka Sayang." ucapan Bima begitu lembut.
"Ini hanya luka kecil Mas." Elena melepaskan tangannya dari genggaman Bima.
"Tetap saja, aku tidak mau kamu terluka sedikitpun Sayang. Besok akan ku kirimkan seseorang untuk membantumu di rumah." ucap Bima yang juga meninggikan suaranya karena kesal dengan sikap Elena.
"Mas, ku mohon. Aku tidak memerlukannya." Elena melunakkan suaranya. Mungkin dengan cara seperti ini akan mempengaruhi Bima pikirnya
"Tapi aku khawatir Sayang." ucapan Bima kembali melunak.
"Aku janji akan lebih berhati-hati." Elena mengacungkan tangannya membentuk huruf V.
__ADS_1
"Lain kali berhati-hatilah, karena kamu sangat berarti buatku Sayang." Elena mengangguk sambil memberikan senyumnya kepada laki-laki di depannya.
Sebesar itukah kamu mencintaiku Mas, sampai luka kecil pun kamu terlihat sangat khawatir.