My Chosen Man

My Chosen Man
Ada cinta


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


...Ada cinta dimatanya...


***


Sudah seminggu semenjak Elena mengundurkan diri. Sudah seminggu juga Bima selalu memarahi para pegawainya walaupun hanya kesalahan kecil yang mereka lalukan.


"Pak Bima sekarang jadi pemarah ya, padahal kesalahan saya hanya memakai baju warna merah tua." ucap salah satu pegawai kepada temannya saat keluar dari ruangan Bima.


Anggi yang tak sengaja mendengarnya merasa heran. Benarkah Ka Bima seperti itu ucapnya sambil beranjak mengarah ke arah pintu dan membukanya menampilkan sosok Bima yang sedang memijit-mijit pangkal kepalanya.


"Hai Kak." ucapnya sambil mendekat dan mendaratkan tubuhnya di sofa empuk yang berada di tengah ruangan tersebut.


"Ka Bima kenapa?" tanya Anggi saat melihat wajah Bim yang begitu kusut.


"Aku baik-baik saja." elak Bima. "Ada apa kamu kemari Anggi? tidak seperti biasanya kamu datang ke kantor tanpa memberitahuku terlebih dahulu." Bima berjalan mendekati Anggi dan duduk di sofa samping Anggi.


"Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan sama Ka Bima?"


"Apa itu?" ucap Bima sambil menyandarkan kepalanya dengan telapak tangan sebagai alas.


Anggi melihat-lihat sekitar, sekira dirasa sudah aman ia kembali membenarkan duduknya mencari posisi yang nyaman untuk melanjutkan kalimatnya.


"Tentang Ka Elena." ucapnya setengah berbisik.


Mendengar nama Elena, mata Bima langsung melotot. Ia benar-benar memfokuskan pendengarannya pada setiap kalimat yang meluncur dari mulut Anggi.


"Apa ada dengan Elena?" Bima langsung memposisikan duduknya dengan tegak.


"Aku hanya ingin bertanya, apa Ka Elena sudah mengetahui tentang pernikahan Kakak?" Anggi memasang wajah yang serius.


"Untuk apa kamu bertanya seperti itu, apa ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan Anggi?"


"Ti-tidak Ka Bima, aku hanya bertanya saja." ucap Anggi dengan terbata-bata, ia menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Benarkah?" tanya Bima.


"Iya, sekarang Ka Bima jawab pertanyaanku tadi. Apa Ka Elena sudah mengetahuinya?" Ia benar-benar serius kali ini.


"Hmm." Bima menghela napas panjang. "Iya itu sebabnya ia mengundurkan diri dari perusahaan." Bima kembali menyandarkan kepalanya. Tapi kali ini ia menutup mata dengan lengannya.

__ADS_1


Anggi tertunduk lemas, hilang sudah kesempatannya untuk mengambil hati Erlang. Kisah cintanya harus kandas padahal ia sama sekali belum memulainya.


***


Semakin hari hubungan Erlang dan Elena semakin dekat. Tak jarang mereka makan siang bersama saat jam istirahat.


"Ah tunggu sebentar, sepertinya aku meninggalkan kunci mobil di restoran tadi." ucap Erlang sambil memeriksa kantong jas kiri dan kanannya.


"Kenapa kamu bisa seceroboh ini?" ucap Elena yang kesal.


"Maafkan aku, kamu tunggu di sini aku akan kembali ke restoran untuk mengambil kunci mobil."


"Baiklah." sahut Elena kemudian dengan cepat Erlang beranjak masuk ke dalam restoran tadi.


Elena menunggu Erlang sambil bersandar di pintu mobil. Sesekali ia melihat orang-orang yang tengah berlalu lalang.


"Ka Elena." ucap seorang perempuan yang berjarak tak jauh dari posisi Elena berdiri.


"Anggi." tuturnya saat mengetahui Anggi yang berjarak sekitar 3 meter sedang berjalan perlahan-lahan mendekatinya.


"Ka Elena sedang apa di sini?" tanya Anggi sambil menampilkan senyumnya. Perempuan itu benar-benar tersenyum saat bertemu dengan Elena. 


Entah senyum dipaksakan atau senyum yang benar-benar tulus.


"Sedang menunggu Ka Erlang?" tebak Anggi saat ia mengenali mobil yang sedang Elena sandari."


"I-iya." ucap Elena dengan terbata-bata. Tak ia sangka, Anggi dapat menebak dengan benar.


"Aku bisa menjelaskan semuanya Anggi." sambungnya lagi.


"Apa yang ingin Ka Elena jelaskan?" Anggi melipat tangan di dadanya.


"Ini tidak seperti yang kamu lihat Anggi."


"Ka Elena." panggil Anggi, saat Elena belum sempat menyelesaikan kalimatnya.


"Iya." sahutnya.


"Ka Elena tidak perlu berbohong." Anggi masih tetap dengan posisi melipat tangan.


"Ma-maksud kamu apa Anggi?" kenapa Anggi menyebutnya berbohong pikir Elena.

__ADS_1


"Aku sudah mengetahui semuanya Ka. Ka Elena adalah orang yang selama ini Ka Erlang tunggu kan?"


"Anggi."


"Sebenarnya aku kecewa dengan Ka Elena karena tidak jujur kepadaku. Tapi setelah ku pikir-pikir, aku yakin Ka Elena pasti punya alasan dibalik itu semua."


"Anggi aku." ucapan Elena kembali diputus oleh Anggi


"Oh ya mungkin waktu itu aku penah memberitahu Ka Elena untuk merebut hati Ka Erlang karena aku tidak tahu seperti apa orang yang sedang ditunggu Ka Erlang." ucap Anggi sambil terus mengoceh. Ia mengambil napas sejenak.


"Tapi setelah aku tahu jika sainganku adalah Ka Elena, aku tidak sanggup Ka. Aku mundur." sambungnya lagi.


"Anggi sekarang biarkan aku menjelaskan. Sekarang aku dan Erlang hanya sebatas atasan dan sekretaris. Sedangkan diluar kantor, aku dan Erlang hanya sebatas teman." terdapat penekanan pada kalimat teman yang Elena lontarkan.


"Teman, tidak mungkin Ka Elena. Aku melihat ada cinta di mata Ka Erlang." ucapan terakhir Anggi masih membekas di telinga Elena. Beberapa kali Erlang mengajaknya berbicara saat di dalam mobil, namun selalu saja tak dihiraukan oleh Elena.


***


"Ini Bu Elena berkas yang ibu minta." ucap karyawan perempuan sambil menyodorkan beberapa lembar berkas penting.


"Terima kasih." ucap Elena sambil mengambil berkas-berkas tersebut lalu kembali berkutat dengan laptopnya.


"Kenapa? apa ada sesuatu yang kamu lupakan?" ucapnya lagi sambil melihat ke arah karyawan perempuan tadi yang masih tetap tidak bergeming dari posisinya.


"Tidak ada Bu Elena." jawabnya namun masih tetap memperhatikan setiap gerak-gerik Elena.


"Lalu kenapa kamu masih tetap di sini?"


"Saya hanya kagum sama Bu Elena. Sudah cantik, pintar, bisa menyelesaikan pekerjaan dengan mudah, jadi kesayangan Pak Erlangga lagi. Saya ingin belajar dari Bu Elena."


"Ke-kesayangan Pak Erlangga, maksud kamu apa?" tanya Elena heran. Ia kembali mencerna kalimat yang dilontarkan karyawan tersebut


"Iya pantas Pak Erlangga suka sama Bu Elena. Ibu Elena benar-benar paket komplit." ucapnya sambil memgacungkan kedua jempolnya.


"Saya sama Pak Erlangga tidak ada hubungan apa-apa kok." ucapnya sambil tersenyum kikuk.


"Benar Bu?"karyawan perempuan itu menatap Elena dengan serius. Ia benar-benar tidak percaya dengan perkataan Elena. Karena ia sering melihat Elena dan Erlang makan bersama saat jam istirahat.


"Iya benar."


"Tapi saya melihat ada cinta di mata Pak Erlangga saat melihat ibu. Tatapan yang berbeda ketika Pak Erlangga menatap ibu." perkataan karyawan itu membuat Elena tak berkutik. Kenapa perkataannya sama dengan apa yang dikatakan Anggi.

__ADS_1


Elena kembali mengingat perkataan Anggi ditambah dengan perkataan karyawan perempuan tadi. Apa benar pikirnya.


Benarkah Erlang masih menyimpan rasa setelah aku beberapa kali menyuruh Erlang untuk melupakanku.


__ADS_2