My Chosen Man

My Chosen Man
Masih mencintaimu


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


***


Elena memndang paper bag yang diberikan Lusiana tadi, tapi tak ada sedikitpun niatan untuk melihat isi dari paper bag tersebut.


Kini Elena baru menyadari bahwa masih ada rasa yang tersimpan di hatinya untuk Erlang. Tidak, bukan masih ada. Tapi sekarang rasanya lebih besar dari perasaannya yang dulu.


Tapi di saat ia menyadari semuanya seakan sia-sia. Orang yang ia harapkan sebentar lagi akan menikah.


Dengan cepat ia membereskan barang-barangnya ke dalam koper, tanpa pikir panjang lagi. Ia hanya ingin pergi cepat-cepat dari sini.


Selalu saja begitu, ia selalu menyimpulkan sesuatu dengan apa yang menurutnya benar tanpa mencari tahu terlebih dahulu apakah yang ia simpulkan sudah benar.


Dituruninya satu persatu anak tangga dan dengan cepat ia melewati Erlang yang sedang asik bercengkrama di ruang tamu. 


Meskipun kakinya masih belum pulih, tapi rasa sakit itu ia abaikan karena rasa sakit di dadanya lebih menyakitkan saat itu.


"Elle, kamu mau kemana?" ucap Erlang dengan setengah berlari mengejar Elena yang sedang menyeret sebuah koper.


Panggilan dari Erlang tidak akan menghentikan langkah Elena yang sedang kalut akan emosi. Ia sendiri juga tidak tahu apakah pantas ia marah seperti ini.


Elena memasuki gocar yang sudah ia pesan melalui aplikasi tadi. Dilihatnya dengan jelas wajah Erlang yang terlihat khawatir sambil menggedor-gedor kaca mobil.


"Jalan sekarang Pak!" ucap Elena dengan tegas.


"Ta-tapi Mba." ucap sang supir yang merasa kasihan saat melihat Erlang di luar sana.


"Jalan sekarang Pak." ucap Elena setengah berteriak. Mobil pun melaju sesuai dengan arahan dari Elena.


"Aakkhh." pekik Erlang saat mobil yang di tumpangi Elena melaju begitu saja.


"Ada apa Lang?" tanya Lusiana yang tiba-tiba menghampiri.


"Tidak tau Mba, tiba-tiba Elena pergi begitu saja. Apa Mba ada mengatakan sesuatu kepadanya?" tanya Erlang karena setahunya tadi Lusiana pergi ke lantai atas tak lama sebelum Elena pergi.


"Aku hanya memberikannya undangan." ucap Lusiana. Mereka menerka-nerka apa yang membuat Elena sampai seperti itu.


"Oke Mba, aku mengerti sekarang." ucapnya setelah sejenak berpikir kemudian berlalu mengambil sesuatu di kamarnya.


"Erlang kamu mau kemana?" tanya Lusiana saat melihat Erlang mulai mengendarai mobilnya.


"Nyusul Elena Mba." ucapnya kemudian terdengar suara deru mesin menandakan bahwa mobil tersebut siap untuk meluncur.

__ADS_1


***


Elena memilih untuk memejamkan matanya ketimbang menikmati indahnya pemandangan di Surabaya.


Ciiitttt


Suara gesekan ban mobil dengan aspal begitu menginging di telinga. Elena yang sedari tadi memejamkan mata terkejut saat kepalanya membentur kursi depan pengemudi.


"Kenapa Pak?" tanya Elena sambil kembali membetulkan posisinya.


"Itu Mba." tunjuk sang supir lada sebuah mobil hitam yang sedang menghalangi jalan mereka. Ya, mobil siapa lagi kalau bukan mobil hitam milik Erlang.


Tak lama keluarlah sosok yang sedari tadi ternyata telah mengikuti mobil yang ditumpangi Elena. 


Entah mengapa ia bisa mengingat dengan jelas mobil seperti apa yang Elena tumpangi.


Bukannya berjalan mengarah tempat penumpang, Erlang malah berjalan mengarah ke tempat pengemudi.


Tok tok tok


Diketuknya kaca mobil tersebut. Dengan ragu sang supir menurunkan kaca yang sedari tadi menjadi penghalang.


"Ini Pak, saya bayar ongkosnya. Sekarang tolong turunkan istri saya." ucapnya sambil menyodorkan dua lembar uang dengan jumlah 200 ribu.


"Jika bapak tidak mau menurunkan calon istri saya, maka bapak akan saya laporkan atas tuduhan penculikan." ancam Erlang.


"Mohon maaf, Mba bisa turun sekarang. Saya tidak ingin terlibat." ucapnya dengan wajah penuh penyesalan.


"Tapi Pak, saya yang..."


"Mohon maaf Mba." perkataan sang supir mengentikan perkataan Elena. Dengan segera ia turun dari mobil tersebut. 


Dilihatnya Erlang yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Elena.


Setelah mobil yang ditumpanginya tadi melaju menjauh, Elena dengan cepat juga menyeret kopernya menjauhi Erlang.


Calon istri heh, omong kosong. Dia berbicara seenaknya. Sejak kapan aku jadi calon istrinya. Tidakkah ia ingat jika calon istrinya sedang berada di villa gumam Elena.


"Elle tunggu!" ucap Erlang namun tak dihiraukan oleh Elena. Ia tetap melangkah menyeret kopernya.


"Elle." ucap Erlang lagi sambil mencekal tangan Elena yang sedang menyeret koper, membuat koper tersebut lepas dari genggamannya.


"Ada apa denganmu, kenapa tiba-tiba seperti ini?" tanya Erlang yang pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja." ucapnya sambil melepas tangan Erlang dan kembali menyeret kopernya.


"Elle, aku minta maaf jika aku salah." ucap Erlang sambil berjalan mendahului Elena dan menghalangi jalan perempuan tersebut.


"Kamu tidak salah, aku yang salah." ucap Elena dengan suara yang mulai serak. Seakan ada tali tak kasat mata yang perlahan mulai mencekiknya.


"Kamu mau kemana Elle?"


"Bukan urusanmu, urus saja perempuan yang ada di villa. Yang sebentar lagi akan jadi istri kamu Erlang." terlihat Elena sedang mengatur napasnya. Seakan ia baru merasakan hawa yang begitu panas menjalar di tubuhnya.


"Oh ya satu lagi, aku bukan calon istri kamu." ucap Elena sambil mengarahkan jari tepat di depan wajah Erlang. Ingin sekali Erlang tertawa saat itu. 


Namun ia dengan sekuat tenaga harus berakting di depan Elena.


Elena kembali berjalan, namun kali ini Erlang tidak mencegahnya lagi. Ada apa gumam Elena. Ia merasa sedih saat Erlang tidak mencegahnya lagi.


"Apa kamu masih menyukaiku Elle?" perkataan Erlang menghentikan pergerakan kaki Elena.


"Jawab aku, apa kamu masih menyukaiku?" ucap Erlang sekali lagi.


Sesuai rencana Erlang, setelah ia melontarkan perkataan tersebut Elena berbalik dan menghampirinya. Napasnya tersengal-sengal seakan siap menyemburkan lahar panas.


Keberadaan Elena tepat dihadapan Erlang bersamaan dengan turunnya air hujan yang mulai membasahi tubuh keduanya. Namun tak ada niatan bagi keduanya untuk meneduh.


"Apa yang ingin kamu kamu dengar, aku masih menyukaimu Erlang. Itu yang ingin kamu dengar." mata Elena mulai memerah. 


Erlang tidak bisa melihat air mata yang mengalir dipelupuk mata Elena. Tapi yang jelas, Erlang tahu jika perempuan di depannya sedang menangis.


Erlang memang ingin mendengar pernyataan rasa Elena, tapi tidak dengan tangisan perempuan tersebut. Rasa bersalah menyelimuti hatinya, bukan ini yang ia inginkan.


"Elle." ucap Erlang.


"Iya Erlang, iya. Aku menyukaimu, masih menyukaimu, bahkan perasaan ini lebih besar dari perasaanku yang dulu." ucap Elena sambil berteriak. Suara derasnya hujan tak dapat mengalahkan kerasnya suara Elena.


Tanpa mengeluarkan kata-kata, Erlang langsung menarik Elena ke dalam pelukannya. Ditangkapnya tangan Elena yang sedari tadi memukul-mukul ringan di dadanya.


"Maaf Elle, maafkan aku." ucap Erlang sambil mengusap pelan puncuk kepala Elena.


"Jangan Erlang, jangan meminta maaf." ucap Elena disela tangisnya. Suaranya benar-benar memberat sekarang.


"Mau ku beritahu sesuatu." ucap Erlang melepaskan pelukannya. Ia menangkup wajah mungil Elena dengan kedua tangannya.


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2