My Chosen Man

My Chosen Man
Kejutan


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


...Seseorang yang jika bersamanya membuat hati saya bergetar. Seseorang yang jika hanya dengan melihat senyumnya saja mampu membuat saya bahagia. Seseorang yang selalu membuat saya khawatir jika tak berada di sampingnya. Seseorang yang tidak akan tergantikan...


...~Erlang...


Waktu menunjukkan pukul 19.00, Elena sedang bersiap hampir setengah jam di depan cermin. Beberapa kali ia menghapus lalu memoles lagi, menghapusnya kembali lalu memolesnya lagi.


Setelah dirasa sudah tak terlalu menor barulah ia mengenakan dress yang telah Erlang belikan tadi siang. Ia berdiri di depan cermin sambil berputar-putar sambil mengagumi dress yang dibelikan Erlang tersebut. 


Pilihannya terlihat begitu polos namun terlihat elegan.


Elena melangkahkan kakinya menuruni tangga dengan hati-hati karena ia sedang memakai hells. 


Elena bergegas ke arah pintu karena tadi Erlang baru saja menelponnya dan mengatakan bahwa ia sudah menunggu di depan teras.


Sebelum membuka pintu, Elena merapikan baju serta tataan rambutnya yang sudah terlihat rapi. Ia mengambil napas dan berharap Erlang akan memuji tampilannya.


"Maaf membuat kamu menunggu lama." ucap Elena sambil menampilkan senyumannya kepada laki-laki di depannya.


Mata Erlang tak berkedip selama beberapa saat, ia tersadar dan langsung dengan refleks berdiri dari posisinya. Dipandangnya wajah perempuan yang sedang tersipu di depannya.


Elena mempersiapkan diri untuk pujian yang akan dilontarkan Erlang. Ia menunduk sambil menahan malu saat Erlang tak henti-hentinya menatapnya.


"Elle." ucapan Erlang membuat Elena mendongakkan kepalanya. Dilihatnya Erlang sedang berjalan mendekat ke arahnya.


"Iya." sahutnya Elena, ia yakin sebentar lagi Erlang pasti akan melontarkan pujian untuknya.


"Sejak kapan kamu tumbuh Elle." timpal Erlang, bukan itu yang ingin Elena dengar.


"Maksud kamu apa Erlang." sahut Elena.


"Ternyata kamu sudah besar dan sudah tumbuh, sekarang kamu bukan bocah tengil lagi." ucap Erlang yang sedang menjahili Elena. Ia menahan tawa saat melihat ekspresi kecewa dari wajah Elena.


"Kamu jahat, bukannya memuji penampilan aku tapi malah mengejek." Elena memukul dada bidang Erlang berkali-kali.


"Aku belum selesai bicara Elle. Maksud aku, sejak kapan bocah tengil ini tumbuh menjadi perempuan yang sangat cantik." jelas Erlang sambil memegang tangan Elena yang sedari tadi memukul dadanya. Ia beralih memegang dagu Elena.


"Apa ini pujian?" tanya Elena.


"Tentu saja."


"Tapi kenapa aku merasa ini seperti ejekan." sanggah Elena yang tidak terima dengan pujian dari Erlang.

__ADS_1


Erlang hanya terkekeh dan tidak merespon perkataan terakhir Elena. Ia memutuskan untuk menarik tangan Elena dan berjalan ke arah mobil. Sambil sesekali menengok wajah Elena dengan mulut yang terus mengoceh.


Sekitar setengah jam, mobil memasuki halaman rumah yang sangat besar. Sudah begitu banyak orang yang datang, terlihat dari banyaknya mobil yang sudah berjejer rapi di depan halaman.


"Erlang, aku gugup" ucap Elena sambil memegangi dadanya memeriksa detak jantungnya yang berdetak tak karuan.


"Untuk apa kamu gugup, ini bukan acara pernikahan kita." ucap Erlang sambil menampilkan wajah yang sedang menahan tawa.


"Erlang." tutur Elena yang tidak suka dengan respon Erlang. Ia memukul paha laki-laki di depannya


"Aku serius." tambahnya lagi.


"Iya Elle, iya." ucap Erlang sambil mengusap pahanya, ia tak henti-hentinya tertawa menambah jengkel Elena.


Setelah puas dengan tawanya, Erlang memposisikan tubuhnya menghadap ke arah Elena yang sedang menghadap ke luar jendela mobil sambil melipat tangan di dadanya.


"Elle." ucap Erlang sambil mengambil salah satu tangan Elena dan menggenggamnya dengan erat.


"Apa yang sebenarnya kamu khawatirkan?" tanya Erlang sambil menatap lekat wajah perempuan di depannya.


"Erlang, di dalam pasti banyak keluarga kamu. Aku takut mereka tidak suka melihatku. Aku takut jika mereka..."


"Sssttt." Erlang menutup mulut Elena dengan jari telunjuknya.


"Tidak perlu berpikiran seperti itu. Percayalah, semua akan baik-baik saja."


Erlang menanggukkan kepalanya seraya meyakinkan Elena.


"Kita turun sekarang?" tanya Erlang.


"Iya." jawab Elena pasrah.


"Tunggu di sini?" ucap Erlang sambil menuruni mobil dan berjalan ke arah pintu penumpang. Elena yang paham akan situasi ini langsung tersenyum.


"Silahkan tuan putri." Erlang membungukkan tubuhnya dan mengadahkan tangan ke arah Elena, kemudian di sambut tangan oleh Elena. Keduanya pun tertawa kecil sambil berjalan ke dalam rumah sambil bergandengan tangan.


Tak seperti bayangan Elena, ternyata keluarga Erlang sangat baik kepadanya. Ia benar-benar merasa nyaman di dekat mereka.


"Ka Erlang." ucap salah satu perempuan cantik, wajahnya sangat mirip dengan Lusiana, pikir Elena.


Perempuan itu mendekat sambil meyenggol bahu Erlang. Ia tak henti-hentinya menatap Elena sambil menampilkan senyumannya.


"Ini pasti Ka Elena." ucapnya tanpa basa-basi. Ia mengetahui Elena dari kisah Anggi ditambah dengan kisah Lusiana.

__ADS_1


"Iya." ucap Elena sambil tersenyum sambil menampilkan deretan giginya.


Elena memandangi Erlang seakan bertanya siapa perempuan yang ada di depannya.


"Aku Sisil, adik Ka Lusiana." ucapnya sambil seraya mengadahkan tangannya dan dibalas jabatan oleh Elena.


"Kamu kenapa?" tanya Erlang sambil menyentil jidat Sisil. Perempuan itu tak henti-hentinya tersenyum ke arah Elena.


"Aww." ucap Sisil memegangi jidatnya. Ia memandang sinis ke arah Erlang.


"Aku heran kenapa perempuan secantik Ka Elena bisa menyukai laki-laki menyebalkan seperti Ka Erlang."


"Apa menyebalkan, jaga ucapanmu." Erlang mengacak-acak rambut Sisil. Kemudian menarik tangan Elena untuk menjauh dari Sisil sebelum perempuan itu menceritakan hal konyol tentangnya kepada Elena.


"Ka Erlang, aku belum berbicara banyak dengan Ka Elena." ucap Sisil sambil membuntuti Erlang dan Elena.


"Erlang biarkan aku berbincang lebih lama lagi dengan Sisil." sahut Elena.


"Benar kata Ka Elena." timpal Sisil.


"Lain kali saja, lebih baik kamu temui teman kamu di sana." ucap Erlang sambil menunjuk ke arah Anggi yang sedang mencari keberadaan Sisil.


"Anggi." ucap Sisil sambil berjalan ke arah Anggi.


"Anggi ada disini juga?" tanya Elena dan diangguki oleh Erlang.


"Dia teman Sisil." jelasnya lagi.


"Aku ingin menemui Anggi." ucap Elena.


"Nanti ya, sekarang kita duduk disana." ucap Erlang sambil kembai menarik tangan Elena dan duduk di kursi yang menghadap ke arah panggung pengantin.


Acara berjalan dengan khidmat, setelah acara hampir selesai tiba-tiba Erlang berdiri dan beranjak ke arah panggung. Erlang mengambil mic dan berjalan ke tengah panggung.


"Selamat malam semua." ucapnya di atas sana.


"Disini saya ingin memperkenalkan kepada kalian semua dengan seseorang yang selama ini telah menetap di hati saya." suasana hening seketika. Pandangan Erlang tertuju pada Elena yang juga sedang menatap ke arahnya. Elena benar-benar tidak menduga jika Erlang akan melakukan hal seperti itu.


"Seseorang yang jika bersamanya membuat hati saya bergetar. Seseorang yang jika hanya dengan melihat senyumnya saja mampu membuat saya bahagia. Seseorang yang selalu membuat saya khawatir jika tak berada di sampingnya. Seseorang yang tidak akan tergantikan." perkataan Erlang terjeda.


"Dia adalah Elena." ucap Elang, suasana yang awalnya hening menjadi ramai seketika. Erlang menatap seakan meminta Elena untuk maju ke depan.


Dengan perasaan ragu, Elena menggenggam erat dress-nya kemudian berdiri dan berjalan mendekati Erlang.

__ADS_1


Elena sangat gugup saat telah berada di atas panggung, sekarang ia menjadi sorotan dari para tamu. Namun Erlang memegang erat tangan Elena seakan menghapus rasa gugup di hati Elena.


"Perempuan yang sedang berada di samping saya adalah Elena, perempuan yang sangat saya cintai. Dan kami akan menikah 2 minggu lagi." tutur Erlang.


__ADS_2