My Chosen Man

My Chosen Man
Sadar tapi terlambat


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


...Apa yang sebenarnya terjadi padaku? ...


...Apakah aku cemburu? ...


...Ini tidak benar...


...Jika memang aku cemburu sekalipun sekarang tidak akan ada artinya lagi...


...~Elena...


***


Dengan wajah yang kesal, Elena melangkahkan kaki menuruni tangga sambil sesekali mulutnya menggerutu. 


Elena mengibas-ngibaskan tangannya sebagai kipas, mendadak suasana seakan panas baginya.


"Dia menyuruhku untuk menunggu tapi dia malah asik dengan perempuan lain di dalam kamar." ucapnya sambil terus melangkahkan kakinya.


Elena sudah sampai di depan pintu, ia kembali mengarahkan pandangannya ke lantai atas sambil melihat jika ada sosok yang ingin ia lihat di sana.


"Heh, dasar laki-laki labil." ucapnya sambil dengan keras membanting pintu dan berjalan ke arah jalan setapak dengan berbantukan cahaya dari handphone-nya.


"Ada apa denganku? Kenapa aku merasa kesal jika melihat Erlang bersama perempuan itu? Apa aku cemburu?" ucapnya sambil terus berjalan, sesekali ia memetik daun yang tumbuh melayap di sekitar jalan setapak itu.


"Ah tidak mungkin aku cemburu, ini hanya perasaan kesal karena Erlang telah menyuruhku menunggu terlalu lama." tepis Elena.


Elena terus berjalan menapaki jalan sempit itu dengan menghentak-hentakkan kakinya. Tanpa disadari, ia menginjak sebuah batu yang berukuran sekepal tangan orang dewasa.


"Aawww." pekiknya saat kakinya tergelincir dari batu tersebut sampai membuat handphone yang ia pegang terjatuh.


"Elle." ucap seseorang dari arah belakang. Elena begitu mengenali suara tersebut. Ya, siapa lagi kalau bukan Erlang.


"Kamu kenapa Elle? Apa kamu baik-baik saja?" ucap Erlang sambil setengah berlari mendekati Elena.


"Apa kakimu sakit, biar aku lihat." ucapnya sambil berjongkok menyamaratakan dengan posisi Elena yang sedang memegangi kakinya, kemudian ia ambil handphone Elena yang terjatuh dan mulai memeriksa kaki Elena.


"Aawww." Elena meringis ketika Erlang memegangi kakinya yang sedang terkilir.


"Sakit?" ucap Erlang lalu dibalas anggukan oleh Elena. Dimatikannya senter dari handphone tersebut, lalu ia masukkan ke dalam saku celana miliknya.

__ADS_1


Erlang kemudian mengangkat tubuh Elena dengan kedua tangannya, membuat Elena terperanjak dan dengan refleks mengalungkan tangannya ke leher Erlang.


"Erlang, kamu mau apa?" pertanyaan Elena tidak dihiraukan oleh Erlang. Ia terus menggendong tubuh Elena.


"Erlang aku bisa jalan sendiri." ucap Elena meronta-ronta saat mengetahui Erlang membawanya kembali ke villa.


"Elle, dengan kaki yang terkilir seperti ini apa bisa kamu berjalan?" Erlang mennghentikan langkahnya.


"Tentu saja bisa." ucap Elena dengan remeh.


"Baiklah." ucap Erlang sambil menurunkan tubuh mungil Elena. Ia memperhatikan gerak-gerik perempuan tersebut.


"Aawww." pekiknya saat melangkahkan kaki tersebut.


"Sudah ku beritahu tapi tetap saja keras kepala." ucap Erlang dengan kesal sambil kembali menggendong tubuh Elena. 


Tak ada lagi penolakan dari perempuan itu, hanya perasaan takut saat melihat ekspresi kesal dari wajah Erlang kemudian memilih untuk menenggelamkan kepalanya di dada bidang Erlang.


"Kenapa kamu bisa seceroboh ini Elle? Untuk apa berjalan ke sana sendirian? Bukankah sudah ku beritahu untuk menungguku." ucap Erlang ketika mereka sudah sampai di lantai atas. 


Dengan perlahan Erlang merebahkan tubuh Elena di atas kasur.


"Menyuruhku untuk menunggu tapi kamu malah sibuk sama perempuan lain." ucap Elena yang terlihat kesal, ia melipat tangannya di dada sambil melotot ke arah Erlang.


"Lusiana." tebaknya Erlang.


Tidak ada jawaban dari mulut Elena, ia hanya mengarahkan pandangannya ke segala arah, kemana saja pikirnya asal tidak menatap mata Erlang.


"Apa kamu cemburu Elle?" tebak Erlang, dengan menumpu tangan pada sisi kasur sambil mendekatkan wajahnya ke arah Elena.


"Tidak." ucap Elena sambil mendorong tubuh Erlang dengan kedua tangannya. Sekilas ditatapnya wajah Erlang lalu ia alihkan lagi ke sembarang arah.


Tidak ada perkataan lagi yang terlontar dari mulut Erlang, ia hanya terdiam sambil memandangi Elena sejenak. Kemudian ia pergi berlalu meninggalkan kamar yang sedang di tempati Elena.


Erlang melangkahkan kaki ke arah dapur sambil mencari sesuatu di sana. Dibuka tutupnya beberapa laci lemari yang ada di dapur. 


Setelah menemukan sebuah kotak berisikan obat p3k, Erlang pun segera mengahmpiri Elena yang sedari tadi masih setiap dengan posisinya.


"Apa di sini yang sakit?" tanya Erlang sambil berjongkok dan meletakkan kaki mungil Elena di atas pahanya. 


Elena mengangguk saat Erlang memegang titik sakit pada kakinya.

__ADS_1


Erlang membuka kotak berisikan p3k tadi dan mencari sesuatu untuk bisa meredakan sakit. Ditemukannya gel pereda nyeri dan dioleskannya dengan telaten pada kaki Elena.


Elena mengamati wajah Erlang yang sedang serius berkutat dengan kakinya. Walaupun tidak bisa melihat sepenuhnya wajah Erlang, tapi itu cukup membuat Elena terpana.


"Sudah." perkataan Erlang membuyarkan pandangan Elena yang sedang asik melihat pemandangan yang indah menurutnya.


"Lain kali hati-hati, jangan ke sana sendirian saat malam hari. Sekarang kamu istirahat, jangan kemana-mana." entah kenapa perkataan yang Erlang lontarkan seakan membius Elena. Ia dengan mudahnya mengangguk dan menuruti perkataan Erlang, padahal baru tadi ia merasa kesal saat melihat Erlang dengan Lusiana.


***


Elena sudah siap dengan baju santainya. Sambil sesekali ia bernyanyi mengiringi tangannya yang sedang sibuk menyisir rambut.


Tok tok tok


Suara ketukan menghentikan pergerakan tangan Elena. Ia meletakkan sisir di atas meja dan beranjak membuka pintu.


Ada apa Erlang sepagi ini sudah mengetuk pintu. gumannya sambil memutar gagang pintu.


"Ada aap..." perkataannya terputus saat melihat bukan Erlang yang sedang berada di depan pintu melainkan Lusiana. 


Perempuan yang akhir-akhir ini membuat Elena kesal tanpa alasan yang jelas.


"Mba Lusiana, ada apa ya?" tanyanya sambil tersenyum kikuk karena tidak menyangka akan kehadian Lusiana.


"Begini, 3 hari lagi aku mau menikah. Karena kamu adalah sekretaris Erlang, jadi aku mau mengundang kamu." tutur Lusiana.


"Me-menikah?" ucap Elena.


"Iya, ini undangannya." ucapnya sambil menyerahkan sebuah paper bag berisikan sebuah undangan dan souvenir-souvenir kecil.


"Aku ke bawah dulu ya, mau melihat-lihat desain kue pernikahan." ucapnya kemudian berlalu setelah ada anggukan kecil dari kepala Elena.


Elena melangkahkan kakinya mengintip keadaan di lantai bawah berharap apa yang di pikirkannya adalah sebuah kesalahan.


Dilihatnya ada 6 orang yang sedang bercengkrama di lantai bawah. 


Mereka yaitu Erlang, lusiana, 2 orang laki-laki, dan 2 orang perempuan yang entah itu siapa mungkin orang-orang yang akan mengurus desain kue pengantin tersebut pikir Elena.


Pandangannya melemah, harapannya sirna setelah melihat Erlang sedang membolak-balikkan buku desain kue pernikahan tersebut.


Elena segera lari ke arah kamar yang ia tempati tadi. Sekali lagi ia merasa kesal, marah, bahkan ingin menangis tanpa alasan yang tidak ia ketahui mungkinkah ia cemburu pikirnya. Ia terus berkecamuk dengan segala pikirannya.

__ADS_1


Apa yang sebenarnya terjadi padaku? apakah aku cemburu? ini tidak benar. Jika memang aku cemburu sekalipun sekarang tidak akan ada artinya lagi


__ADS_2