My Chosen Man

My Chosen Man
Jatuh bersama asa


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


...Kita memang sama-sama jatuh...


...Kamu jatuh tenggelam bersama rasa, sedangkan aku jatuh tenggelam bersama asa...


...~Erlang...


***


"Sebenarnya gue sama Elena sudah saling kenal sejak SD."


"Kalian satu sekolah ya waktu SD?" Dean menyela kisah dari Erlang.


"Enggak usah nyela kalau orang lagi cerita." 


Arvel menarik hidung Dean dan dibalas tatapan tajam dari Dean. " Lanjut Lang."


Erlang melanjutkan ceritanya "Sebenarnya rumah gue sama Elena dulunya satu komplek. Setiap hari minggu kita main bareng di taman. Tapi minggu itu adalah minggu terakhir kita bertemu karena gue harus pindah dah lanjutin sekolah menengah pertama di Amerika,"


"Sebenarnya gue enggan buat pindah, tapi Elena yakinin gue kalau suatu saat gue balik lagi, hati Elena tetap buat gue." Erlang sejenak mengambil napas.


"Mungkin kebanyakan orang berpikir bahwa itu cinta monyet yang seiring waktu juga hilang. Tapi beda bagi gue, perasaan gue masih tetap sama buat Elena." sambungnya lagi.


"Terus kenapa dulu sikap loe cuek sama Elena Lang?" Dean kembali menyela cerita Erlang.


Erlang mengambil minum yang terletak di atas meja karena merasa tenggorokannya kering.


Ia melihat Dean dan Arvel yang masih setia menatapnya seakan meminta lanjutan dari kisahnya kaya bocil yang merengek minta dongeng sebelum tidur, ha ha ha. Eh jadi keinget Elena si bocilkan.


"Waktu gue balik ke Jakarta, gue segera menuju rumah Elena. Tapi Elena sudah pindah sekitar 2 tahun yang lalu. Begitu kata pemilik rumah yang baru,"


"Gue kecewa saat mengetahui Elena sudah pindah. Gue enggak tahu harus mencari Elena kemana lagi. Karena gue enggak punya nomor Elena."


"Dan untuk yang pertama kalinya gue melihat Elena sewaktu masa orientasi di sekolah. Gue enggak nyangka bakal satu sekolah sama dia. Gue seneng banget waktu itu. Tapi malah kekecewaan yang gue dapat. Elena seakan tidak mengenali gue. Dia sudah lupa akan janjinya dulu."


Arvel dan Dean masih mendengarkan cerita dari Erlang. Tak sedikitpun tatapan mereka terlepas dari menatap Erlang.


"Ternyata seperti ini ya kalau muka kalian lagi serius. Hahaha."

__ADS_1


"Ih enggak lucu tau. Orang lagi serius-seriusnya juga." oceh Dean sambil memukul paha Arvel.


"Sayang kenapa aku yang dipukul. Yang salah Erlang bukan aku." ucap Arvel tidak terima karena dipukul Dean. Ia mengelus-elus pahanya yang entah sudah berapa kali hari ini dipukul oleh Dean.


"Pacar aku itu kan kamu, aku cuma mau pegang kamu. Jadi kamu yang aku pukul. Masa aku pukul Erlang, lagian kan Erlang lagi sakit." jelas Dean dengan menunjukkan wajah tidak bersalahnya.


"Ini namanya mukul bukan megang sayang." terdapat penekanan pada kata Arvel.


"Sama aja, kan sama-sama nyentuh." Dean menjulurkan lidahnya, bukan membuat Arvel marah melainkan membuat Arvel semakin gemas.


Erlang melanjutkan ceritanya daripada harus melihat kelakuan sahabatnya yang membuat ia iri, begitu pikirnya.


"Gue enggak nyangka kalau Elena bakal lupain gue gitu aja. Gue mikirnya kalau Elena sudah punya cowok,"


"Tapi pikiran gue salah, gue dikejutkan saat Arvel bilang kalau Elena suka sama gue. Gue bener-bener bingung dengan jalan pikir Elena. Apa sebenarnya rencana dia? Gue kira dia mempermainkan perasaan gue, makanya gue cuekin dia. Karena gue sudah terlanjur marah dan kecewa dengan sikap Elena yang seenaknya."


Arvel dan Dean berusaha mencerna setiap kalimat yang terlontar dari mulut Erlang.


"Tapi lama kelamaan sikap Elena semakin menunjukkan kalau dia benar-benar suka sama gue. Dan secara tidak kebetulan saat pergi ke supermarket waktu itu gue ketemu sama asisten rumah tangga Elena yang dulu,"


"Dia cerita kalau Elena dan keluarganya mengalami kecelakaan waktu dia duduk di sekolah menengah pertama kelas 2. Yang mengakibatkan dia amnesia dan nyokapnya meninggal dunia. Gue benar-benar enggak nyangka dan gue sudah berpikiran buruk sama dia."


"Hmmm." Erlang memberi tanda dengan menganggukkan kepalanya.


"Sejak kapan loe tau Lang?" tanya Arvel yang merasa penasaran dibuatnya.


"Gue baru tau semenjak kenaikan kelas tahun kemarin."


"Jadi kalian pacaran sudah lama dan selama itu juga kalian pacaran diam-diam." 


Dean sedikit meninggikan suaranya. Ia tidak terima jika Erlang dan Elena merahasiakan hubungan mereka sudah sangat lama dan tidak memberitahunya, padahal Dean adalah sahabat Elena dan Arvel adalah sahabat Erlang.


"Kita pacaran baru beberapa bulan." perkataan Erlang sedikit membuat marah Dira berkurang.


"Kenapa?" tanya Dean lagi membuat Arvel jengah sambil memutar kedua bola matanya.


"Sebenarnya gue mau deketin Elena waktu gue baru tau kalau dia amnesia. Tapi gue terlalu gengsi dan enggak punya alasan buat tiba-tiba deketin dia. Sampai pada akhirnya bokap gue nyuruh gue buat cari guru les. Seperti yang kalian tau Elena orangnya pintar, jadi gue gunain kesempatan itu." jelas Erlang yang dibalas anggukan oleh Arvel dan Dean.


Tiba-tiba datang bi Sumi sambil membawa barang berisikan baju Erlang di tangan kanan dan makanan yang telah ia masak sewaktu pulang tadi di sebelah kiri. 

__ADS_1


Kedatangan bi Sumi menghentikan pembicaraan mereka.


Bi Sumi terlihat bingung karena melihat ekspresi ketiganya yang tiba-tiba mengarah kepadanya tanpa mengatakan sepatah kata pun.


"Ada apa Tuan Muda, apa kedatangan bibi mengganggu?" tanya bi Sumi sambil melangkah ke arah sofa dan meletakkan barang-barang yang ia bawa tadi di atas meja dekat sofa."


"Enggak kok bi." ucap Erlang sambil merebahkan tubuhnya. "Gue mau istirahat, jadi kalian bisa pulang." Erlang menarik selimut sampai menutupi wajahnya.


"Cerita lagi Lang, gue masih penasaran tau." Dean menarik selimut yang menutupi tubuh Erlang.


"Capek gue kelamaan cerita bisa-bisa berbuoh nih mulut gue." Erlang memiringkan tubuhnya hingga membelakangi Arvel dan Dean. 


Arvel hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya yang suka berubah-ubah.


"Ihh kok Erlang gitu sih Sayang?" Dean menatap Arvel sambil menunjukkan wajah yang cemberut.


"Kita pulang aja ya, kasian Erlang mungkin dia capek." Arvel mengusap-usap kepala Dean.


"Kita pulang ya Lang, loe istirahat yang cukup." ucap Arvel.


"Hmmmm." jawab Erlang tanpa bergeming dari posisinya. Arvel dan Dean pun pergi meninggalkan ruangan Erlang.


Kita memang sama-sama jatuh


Kamu jatuh tenggelam bersama rasa, sedangkan aku jatuh tenggelam bersama asa.


***


Elena sudah sampai di Canada. Ia menunggu jemputan dari ayahnya sambil duduk disebuah caffe. 


Dengan memesan secangkir americano karena merasa sangat ngantuk. Ia lebih memilih untuk membungkusnya dan meminum americano di kursi pinggir jalan dari pada harus meminumnya di dalam caffe.


Ia berjalan sambil menyeret kopernya sambil meminum secangkir americano yang ia pesan tadi an tak sengaja ia menyenggol lengan seorang lelaki dan menumpahkan minuman yang ia pegang hingga mengenai kemejanya.


"I am Sorry," ucap Elena sambil membersihkan noda kopi yang mengenai kemeja laki-laki tersebut.


"Its oke, don’t worry,” ucapnya sambil memegang tangan mungil Elena menghentikan pergerakan di sana. 


Elena mengadahkan wajahnya menghadap sosok laki-laki di hadapannya.

__ADS_1


"What! Kamu?"


__ADS_2