
...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...
...Mungkin terlihat konyol, namun beginilah caraku menjagamu, dengan cara menyakiti...
...~Erlang...
Terpancar tatapan sendu dari wajah Erlang. Setelah mengatakan kalimat tersebut, ia tak mampu lagi memandang wajah Elena. Ia mengalihkan pandangannya ke segela arah.
"Apa maksud kamu Lang?" tanya Elena. Ia benar-benar tidak memahami perkataan Erlang yang tiba-tiba saja mengatakan hal tersebut. Sebisa mungkin Elena membuang pikiran buruk dalam benaknya.
"Elang tatap aku dan katakan apa maksud dari perkataanmu." Elena memanggil Erlang dengan panggilan kecil mereka. Panggilan yang benar-benar Erlang rindukan. Tapi ia bisa apa sekarang.
Elena menggoyang-goyangkan lengan Erlang agar sang pemilik mata bercorak coklat itu memandangnya.
Erlang mengambil napas dalam-dalam sambil memejamkan matanya lalu mengarahkan pandangannya ke arah Elena yang sedari tadi meminta penjelasan dari ucapannya.
"Pernikahan kita tidak bisa dilanjutkan Elle, aku mau pernikahan kita dibatalkan." ucap Erlang sambil memasang wajah yang serius dan menatap lekat wajah Elena yang masih terlihat pucat.
"Elang, kamu bercanda kan?" ucap Elena dengan senyum yang dipaksakan meskipun hatinya sakit saat mendengar ucapan Erlang.
"Aku tidak bercanda Elle." Erlang menggelengkan kepalanya.
"Elang, ini tidak lucu, benar-benar tidak lucu." kata Elena dengan senyum yang masih ia paksakan.
"Elle..."
"Apa alasannya?" ucap Elena menghentikan kalimat Erlang.
"Apa alasan kamu membatalkan pernikahan kita Lang. Apa karena kondisiku yang seperti ini atau karena ada perempuan lain di luar sana yang membuatmu berpaling dariku?" suara Elena terdengar bergetar karena ia berusaha menahan telaga air yang siap menumpahkan cairan beningnya. Tenggorokannya pun terasa tercekat seakan dililit tali tak kasat mata. Berkali-kali ia menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.
Erlang hanya menggelengkan kepalanya.
"Lalu apa?" mata Elena tidak kuat lagi menahannya dan mulai menumpahkan cairan asin yang membentuk anakan sungai di pipi mungilnya.
"Aku tidak bisa mengatakannya."
"Kamu jahat Elang." ucap Elena sambil memukul lengan Erlang yang berada di samping tubuhnya. Tak ada perlawanan dari Erlang, ia hanya diam sambil merasakan pukulan dari Elena.
"Maaf." sepatah kata dari mulut Erlang semakin menyulut emosi Elena.
"Aku tidak mau melihatmu lagi, pergi dari sini." ucap Elena dengan keras sambil mengarahkan telunjuknya.
"Tidak Elle, aku akan tetap di sini untuk menjagamu."
"Tidak perlu."
"Elle, jangan seperti ini, ingat kondisimu masih belum membaik." ucap Erlang panik saat Elena mulai meronta-ronta saat Erlang menyentuhnya.
__ADS_1
"Ku bilang pergi dari sini." ucap Elena lagi.
"Ada apa ini." tutur Theo yang baru saja datang. Ia terlihat panik saat melihat putri kesayangannya mengamuk.
"Ayah." tutur Elena setelah melihat sosok sang ayah yang semakin mendekat.
"Ada apa Nak?" tanya Theo sambil mengelus puncuk kepala Elena lalu beralih menatap Erlang yang hanya berdiri mematung di samping ranjang Elena.
"Tolong suruh dia pergi Yah, aku tidak mau lagi melihat wajahnya."
"Dia siapa Nak?"
"Dia." tunjuk Elena tanpa mengalihkan pandangannya dari Theo.
"Ada ap..."
"Cepat Yah." desak Elena.
Theo benar-benar tidak paham dengan situasi saat ini. Ia bergantian memandangi Elena dan Erlang.
"Aku pamit Om." ucap Erlang sebelum Theo mengucapkan sepatah kata. Ia menundukkan kepalanya sambil tersenyum paksa ke arah Theo lalu beranjak pergi keluar ruangan Elena.
Alasan Erlang sebelumnya tidak mau keluar saat pertama kali Elena mengusirnya karena Erlang tidak ingin Elena sendirian di ruangan tersebut. Ia akan menjaga Elena sambil menunggu Theo datang dan sekarang Theo sudah datang jadi tak ada lagi alasan bagi Erlang.
Saat Erlang beranjak keluar dan mulai memutar gagang pintu, Erlang kembali mengarahkan pandangannya ke arah Elena yang juga menatapnya saat itu. Namun dengan segera Elena mengarahkan pandangnnya ke lain arah saat ketahuan Erlang bahwa ia sedang menatap kepergian Erlang.
"Apa yang terjadi Nak?" tanya Theo setelah Erlang keluar dari ruangan tersebut.
"Erlang ingin membatalkan pernikahan kami Yah."
Theo terkejut saat mendengar penuturan dari mulut putrinya. Ia terlihat tidak percaya, serasa tidak mungkin pikirnya. Karena ia tahu betul perjuangan Erlang selama ini.
"Itu tidak mungkin Nak." Theo mengusap air mata yang sedari tadi menetes di pipi putrinya.
"Erlang yang mengatakannya sendiri Yah." jelas Elena lagi.
Theo terlihat sedang berpikir mengenai perkataan putrinya tersebut.
"Bagaimana bisa Erlang mengatakan seperti itu Nak."
"Aku juga tidak tau Yah."
"Nanti Ayah yang akan memastikan langsung kepada Erlang." ucap Theo menenangkan.
"Tidak perlu Yah, aku sudah tidak ingin berurusan dengannya lagi." elak Elena.
"Baiklah." ucap Theo mengiyakan. Sebenarnya ia tahu jika bukan itu yang sedang Elena rasakan. Tapi ia lebih memilih menghentikan pembicaraan tersebut dan akan meminta penjelasan dari Erlang secepatnya.
__ADS_1
Sementara di luar ruangan Erlang bersandar pada dinding rumah sakit sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia sebenarnya tidak ingin melakukan hal tersebut tapi ia tidak punya cara lain.
"Mungkin terlihat konyol, namun beginilah caraku menjagamu, dengan cara menyakiti."
***
Sudah 2 hari Elena tidak melihat Erlang, karena sejak ia menyuruh laki-laki tersebut ke luar dari ruangannya, sejak saat itu juga Erlang tidak pernah menampakkan dirinya di depan Elena lagi.
"Bagaimana bisa setelah membatalkan pernikahan, ia mencampakkanku begitu saja dan tak pernah datang ke sini lagi." ucap Elena sambil meletakkan handphone yang sedari tadi ia otak-atik.
Tak ingatkah bahwa ia sendiri yang mengusir Erlang dan mengatakan bahwa tidak ingin melihatnya lagi. Tapi sekarang malah ia yang merindukan sosok tersebut. Memang benar, ucapan dan perasaan kadang tidak sesuai. Dengan ego yang tinggi, kadang kita lebih mementingkan ego dibanding perasaan yang mengakibatkan sakit diakhirnya.
"Apa Erlang memang sudah menemukan perempuan lain." Elena kembali meneteskan air mata.
"Bagaimana bisa ia melakukan semua ini."
***
"Sebenarnya ada apa Nak? Kenapa kamu tiba-tiba membatalkan pernikahan kalian?" tanya Theo sambil menatap lekat wajah Erlang.
Sekarang mereka berada di sebuah caffe dekat rumah sakit. Tanpa Elena sadari, sebenarnya Erlang selalu datang ke rumah sakit dan memantau kondisi Elena.
"Apa Om mempercayaiku?" tanya balik Erlang dan Theo pun mengangguk.
"Aku hanya ingin menjaga Elena Om." jelas Erlang.
"Aku akan mencari jalan keluarnya tapi untuk sekarang hanya ini yang dapat aku lakukan Om." sambung Erlang lagi.
"Katakan apa masalahnya."
Erlang hanya memandang Theo, ia seakan enggan mengatakan masalahnya kepada laki-laki paruh baya di depannya.
"Katakanlah."
Dengan ragu, Erlang pun menceritakan masalah yang sedang ia sembunyikan dari Elena.
"Nak, bukan seperti ini cara yang tepat. Dengan melakukan hal seperti ini kamu malah membuat Elena salah paham."
"Lalu aku harus bagaimana Om?"
"Apa kamu masih mau menikah dengan anak Om?" tanya Theo dengan serius.
"Aku sangat mencintai Elena Om, tentu saja aku ingin menikah dengannya. Tapi tidak jika itu membahayakan keselamatan Elena.
"Kalian bisa tetap melangsungkan pernikahan tanpa takut ada yang melukai Elena."
"Bagaimana Om?"
__ADS_1
"Pernikahan rahasia."