My Chosen Man

My Chosen Man
Jadian


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


...Perlu waktu yang tepat buat ngungkap sebuah perasaan...


...~Erlang...


***


Elena keluar dari mobil dan melihat sekelilingnya. Hanya pohon karet yang menjulang tinggi dilihatnya, tidak ada rumah satu pun di sana. 


Hanya ada beberapa lampu jalanan sebagai alat penerang disana.


Elena terus mengamati sekitarnya, tatapannya terhenti pada sosok laki-laki yang sedang bersandar di belakang mobil. 


Elena segera menghampiri sosok tersebut dengan cepat Elena melangkah dan langsung memeluk laki-laki tersebut.


"Gue kira loe ninggalin gue disini, di tempat gelap ini sendirian." Elena nangis sesegukan dipelukan Erlang.


"Loe sudah bangun? mana mungkin gue ninggalin loe sendirian di tempat kaya gini. Emang loe pikir gue cowok apaan?" 


Erlang mengusap-usap punggung Elena berusaha menenangkan sambil mengeratkan pelukannya memberikan kehangatan pada Elena.


"Terus ngapain loe biarin gue di dalam mobil sendiri sambil kebingungan dan loe ngapain bawa gue ke tempat penuh pohon-pohon dan sepi kaya gini?" Tanya Elena yang tiba-tiba melepaskan pelukannya. 


Terlihat masih ada bulir air mata yang mengalir dipipi mungilnya.


"Tadinya gue mau bangunin loe, tapi kelihatannya loe sudah tidur lelap banget jadi gue nungguin loe bangun sambil nyari udara segar disini." ucap Erlang sambil memegang bahu Elena kemudian beralih untuk mengusap sisa air mata di pipi mungil Elena.


"Pertanyaan yang kedua belum dijawab?" Elena mengelap sisa buliran air matanya.


"Ada yang mau gue omongin sama loe."


"Apa?" tanya Elena yang semakin penasaran dan sedikit memaksa.


"Loe diam dulu disini, oke?" Elena mengangguk mengiyakan permintaan Erlang.


Erlang membuka bagasi mobil dan mengambil buket bunga mawar dan putih yang membentuk karakter hello kitty. 


Erlang tiba-tiba berjongkok dan mengangkat tangannya yang berisi buket mengadah ke arah Elena. Badan Elena seakan kaku tak percaya dengan apa yang dilakukan Erlang.


"Bunga ini sebagai perantara bagaimana rasaku terhadapmu. Orang yang belakangan ini mengganggu pikiranku, yang setiap malamnya menghampiri tidurku. Elle, terimakasih telah merubah pribadiku, menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari yang dulu. Elle, tak mampu ku ungkapkan semua rasaku. Tapi yang yang perlu kau tau, aku mulai menyukaimu. Elle, maukah kau menjadi pacarku? menjadi orang yang menghabiskan waktu bersamaku? menjadi orang yang berharga dalam hidupku?"


"Loe beneran suka sama gue Lang?" tanya Elena yang masih tidak percaya.


“Iya,”


“Beneran?” Tanya Elena lagi.


"Iya,"


"Berarti selama ini loe juga suka sama gue?"

__ADS_1


"Iya,"


"Cinta gue ga bertepuk sebelah tangan?"


"Iya,"


"Kenapa baru bilang sekarang?"


"Perlu waktu yang tepat buat ngungkap sebuah perasaan,"


“Lo ga lagi bercandakan?”


"Dengan yang semua aku lakuin kamu masih berpikir kalau aku bercanda? aku beneran suka sama kamu, kamu mau kan jadi pacar aku? Erlang mengulang kalimatnya.


"IYA, MAUUUU. GUE MAU BANGET JADI PACAR LOE!" jawab Elena sambil tersenyum dan mengambil buket bunga dari tangan Erlang.


Erlang terkekeh dan langsung berdiri memeluk erat Elena. "Mulai sekarang loe-gue nya diganti sama aku-kamu, oke?" Elena yang masih dipelukan Erlang hanya mengangguk sambil mengeratkan pelukannya.


"Aku sayang kamu Elle." Erlang mencium puncuk kepala Elena bertubi-tubi.


"Elle?" tanya Elena dengan wajah yang sedikit berpikir sembari melepaskan pelukannya.


"Itu panggilan sayang aku buat kamu, panggilan sayang buat aku apa?" Erlang mengangkat satu alisnya sambil menatap Elena dengan intens.


"My hubbie, bagaimana apa kamu suka?" Elena memasang wajah yang menggemaskan.


"Hmmm, sangat suka. Apapun yang keluar dari mulut kecil kamu, aku sangat menyukainya." Erlang mengacak-acak rambut Elena membuat sang pemilik mengerucutkan bibirnya.


Saat ini Erlang dan Elena sedang duduk di atas mobil sembari menikmati angin malam.


"Bie!"


"Hmmm." masih mengelus-elus rambut Elena.


"Kamu di mana tahu tempat kaya gini. Apa kamu sering kesini sama cewek-cewek lain?" sambil menjauhkan tubuhnya dari Erlang. Cemburu nih ceritanya, mumpung sudah jadi pacar hak paten pencemburuan bisa diklaim.


"Elle, kamu ngomong apa sih, kamu itu orang pertama yang aku ajak kesini. Dan juga ini adalah perkebunan karet milik papa aku. Ya wajarlah aku tahu tempat ini." kembali menempatkan kepala Elena kepundaknya.


"Tapi kan papa kamu tinggal di kuar kota Bie." ucap Elena. Karena setahu Elena, Erlang dan papanya tinggal terpisah.


Papanya Erlang tinggal sendirian diluar kota karena semenjak mamanya Erlang meninggal, papanya Erlang memutuskan untuk kembali ke kota asalnya. Sedangkan Erlang hanya tinggal berdua dengan bi Sumi.


Entah karena alasan apa Erlang tidak mau tinggal di luar kota bersama papanya.


“Kamu tahu banyak ya?”


“Eh…” kan ketahuan, mulutnya dijaga neng kalau kata Jihan.


"Papa menitipkan perkebunan ini ke orang kepercayaannya yang keuntungannya dibagi rata." jelas Erlang.


"Ohhhhh."

__ADS_1


"Sudah terlalu larut cuacanya pun sudah semakin dingin. Yuk kita pulang" ucap Erlang. Elena pun mengiyakan dan mereka berjalan menuju mobil.


Sepasang kekasih yang sedang memadu asmara tersebut beranjak pulang ke rumah.


Selama diperjalanan Erlang terus memegangi tangan Elena dan sebelah tangan lagi sibuk memegang kemudi mobil, Sesekali ia cium tangan kecil Elena.


Ketika sampai dipekarangan rumah Elana, dengan cepat Elena membuka sabuk pengaman dan hendak turun.


Tapi tiba-tiba tangannya dicegat oleh Erlang. Elena terkejut dan menoleh ke arah Erlang.


"Ada apa Bie."


"Aku ada satu permintaan buat kamu, kamu mau kan ngabulin permintaan aku."


"Hmmm, apa yang tidak buat pacarku yang tampan ini." Elena menangkup wajah Erlang dengan tangan mungilnya.


"Jangan sampai orang sekolah ada yang tau ya sama hubungan kita" ucap Erlang sambil memegang tangan Elena yang masih melekat di wajahnya.


"Emang kenapa Bie kalau orang sekolah sampai tahu kita pacaran. Kamu malu ya pacaran sama aku? Elena menarik tangannya dari genggaman Erlang.


"Bu-bukaan begitu Elle, aku enggak mau sampai kamu dibuli sama cewek-cewek di sekolah trus mereka musuhin kamu dan itu bisa mengganggu belajar kamu."


"Termasuk sahabat aku sendiri?" tanya Elena sambil memasang wajah yang serius.


"Hmmm, kamu tau kan mereka itu suka ceplas-ceplos. Aku ngga mau sampai mereka membahayakan kamu. Kamu paham kan?" Erlang berusaha meyakinkan Elena.


"Ternyata gini ya rasanya punya pacar ganteng yang disukai banyak cewek." ucap Elena menyindir Erlang.


"Tapi si ganteng ini sukanya sama kamu." Erlang mencolek hidung Elena hingga membuat Elena tersipu.


"Jangan cemberut lagi nanti makin jelek.”


“Ihhh jahat.”


“Jangan ngambek nanti makin pendek.”


“Biieee!”


Erlang terkekeh “Masuk sana!”


“Aku marah!”


“Jangan.”


“Kenapa?”


“Nanti kamu kangen.”


“Ga jelas.”


“Tapi beneran kan?”

__ADS_1


IYA BENER teriak Elena tapi dalam hati wkkk


" Aku masuk rumah dulu ya Bie." pamit Elena kepada Erlang setelah hampir setengah jam berdebat hal yang tidak masuk akal.


__ADS_2