My Chosen Man

My Chosen Man
Jangan pernah raguin rasa aku ke kamu


__ADS_3

...M.Y.C.H.O.S.E.N.M.A.N...


...Rasaku terlalu besar, Erlang...


Sampai aku khawatir dan takut dengan arti kehilangan karna sebuah kebohongan


...~Elena...


***


"Erlang." panggil perempuan itu ketika melihat Erlang yang sedang tidur diranjangnya.


"Salsa!" batin Elena yang langsung mengenali suara tersebut.


Ingin sekali ia keluar dari dalam toilet, tapi jika ia langsung keluar ia tidak akan tahu maksud dari kedatangan Salsa. Jadi ia memutuskan untuk menguping dari dalam toilet.


Dengan susah payah Elena mengintip dari lubang kecil kunci di pintu.


Salsa mendekati ranjang tempat Erlang berbaring. Ia duduk di kursi samping ranjang Erlang Sambil memandang wajah Erlang yang tetap mengeluarkan aura meski dalam keadaan mata terpejam. Ia menelusuri setiap garis wajah Erlang.


Tiba-tiba pergerakannya terhenti saat tangan Erlang menepis tangannya dari wajah Erlang.


"Ngapain loe kesini, loe enggak liat gue sedang istirahat. Loe ganggu tidur gue tau enggak!" tiba-tiba Erlang membuka matanya dan langsung bangun dari posisinya.


"Gu-gue cuma mau mastiin loe baik-baik aja Lang. Gue khawatir sama lo." ucap Salsa terbata-bata karena takut Erlang memarahinya.


“Dasar tepung, Erlang milik gue. Milik Elena Arabella yang cantik jelita.” Elena mengamati pergerakan Salsa dengan susah payah dari lubang teramat kecil.


"Sekarang loe liat gue baik-baik aja kan. Jadi sekarang loe bisa pergi dari ruangan gue, sekarang!" Erlang menunjuk pintu keluar menandakan ia tak ingin lama-lama melihat wajah perempuan tersebut.


“Mampus, diusirkan lo!” ingin Elena tertawa terbahak.


"Loe kok gitu sih Lang. Loe kan tau kalau gue suka sama loe. Bisa enggak lo hargain perasaan gue sedikit aja." mata Salsa berkaca-kaca.


"Seharusnya loe paham dari dulu kalau gue enggak pernah suka sama loe. Jadi seharusnya dari dulu juga loe akhiri perasaan loe ke gue." Erlang menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.


"Loe enggak mau coba buka hati loe buat gue Lang? Gue cantik, kaya dan gue popular. Apa yang kurang dari gue Lang?" ucap Salsa memberanikan diri untuk bertanya.


Tidak ada jawaban dari Erlang, Salsa yang merasa kesal pun berlalu menuju pintu dengan berat ia melangkahkan kaki keluar dari ruangan Erlang dan menutupnya dengan keras.


Perkataan Salsa menohok, hingga Elena tercekat. Benar, tak ada yang kurang dari Salsa. Jika dibandingkan dengan dirinya, bagai hitam dan putih.


Liat aja Lang,loe bakal jadi milik gue. gue akan buat loe berlutut di depan gue,ngemis-ngemis cinta dari gue Batin Salsa yang masih berdiri pintu di luar ruangan Erlang sambil menenangkan perasaan kesalnya lalu beranjak pergi sambil memikirkan cara agar bisa memiliki Erlang.


Elena masih diam di dalam toilet memikirkan kejadian Erlang yang menolak Salsa. Sejenak ia memikirkan mengapa Erlang memilihnya, padahal Salsa lebih perfect dari dirinya.


Apa yang Erlang lihat dari dirinya. Apa Erlang merencanakan sesuatu, atau Erlang sedang mengincar sesuatu darinya.


Elena merasa pikirannya seakan dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai Erlang. Tiba-tiba pintu toilet terbuka dan timbullah sosok Erlang dibalik pintu.

__ADS_1


"Salsa udah enggak ada kamu bisa keluar." tak ada jawaban, Elena masih berkecamuk dengan pikirannya.


"Elle." Erlang memanggil Elena namun masih tidak ada jawaban dari Elena.


"Elle." Erlang memegang bahu Elena membuat sang pemilik terkejut dan menoleh ka arah Erlang. Tatapannya sendu, sayu seakan berkata aku sedang tidak baik-baik saja.


"Kamu kenapa Elle?" tanya Erlang yang terlihat khawatir sambil mengecek tubuh kekasihnya, sambil membolak-balikkan tubuh Elena.


"Aku enggak papa Bie, kamu kenapa kesini. Seharusnya kamu diam berbaring di ranjang bukan jalan-jalan seperti ini."Elena menangkup wajah Erlang dengan kedua tangannya.


"Elle, yang sakit tanganku bukan kaki ku. Kamu kenapa bengong disini. Apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Aku tidak memikirkan apa-apa."


"Bohong." Erlang tidak percaya dengan apa yang dikatakan Elena. Ia melihat ada kebohongan yang terpancar dari raut wajah Elena yang sedang cemas.


Elena menggeleng masih enggan mengutarakan sesuatu yang mengganjal.


“Jawab aku Elle,”


"Apa kamu benar-benar menyukaiku atau kamu ada maksud lain dengan cara memakaiku? ku mohon jawab aku dengan jujur." dengan suara yang memberat dan dengan mata yang berkaca-kaca Elena menatap Erlang.


"Elle, sudah ku katakan bahwa aku benar-benar menyukaimu. Apa kamu tidak percaya padaku?" Erlang menghapus bulir air mata yang menetes dipipi mungil Elena.


“Jangan bohong!”


"Aku tidak berbohong,"


“Apa kamu melihat keraguan?” tak ada keraguan dimata Erlang, hanya tatapan tulus yang Elena lihat.


"Jangan berpikir seperti itu lagi dan jangan pernah raguin rasa aku ke kamu," Erlang memeluk dan menengkan Elena yang menangis sesegukan. Dibelainya rambut sang kekasih seakan menandakan semua baik-baik saja.


Rasaku terlalu besar, Erlang


Sampai aku khawatir dan takut dengan arti kehilangan karna sebuah kebohongan


"Maafkan aku."


"Hmmm, dengan satu syarat."


"Apa?"


"Temani aku malam ini, kan besok sekolah juga libur."


"Tapi..."


"Tidak ada tapi-tapian, ini bukan pilihan." Erlang menutup mulut Elena dengan jari telunjuknya. Elena pun mengiyakan permintaan Erlang dan sekarang mereka sedang duduk disofa sambil menonton tv.


Saat mereka sedang asik bercanda, tiba-tiba terdengar dering suara handphone Erlang. Tertera nama papa disana.

__ADS_1


Erlang dengan mengangkat telephone tersebut dengan perasaan kesal karena ada saja yang mengganggunya saat ingin bersama Elena.


Hallo pa


Erlang baik-baik aja,cuma cedera sedikit pa


Ngga usah suruh bi Sumi kesini pa, Erlang disini sama teman-teman. Jadi papa ngga usah khawatir


Erlang melirik Elena yang sedang menertawakannya.


Iya Erlang paham, papa urusin aja pekerjaan papa, Erlang disini baik-baik aja


Hmmmmm


Erlang menutup telephonnya.Erlang segera mendekati dan menggelitiki pinggang Elena menggunakan tangan kanannya yang tidak cidera.


"Ini hukuman karena kamu menertawakanku tadi." ucap Erlang dengan tangan yang masih menggelitiki Elena.


"Ampun Bie." Elena memohon kepada Erlang sambil menahan geli di pinggangnya. Erlang pun menghentikan tangannya karena melihat wajah Elena yang kelelahan tertawa.


Erlang menarik tangan Elena dan menyandarkan kepala kekasihnya di bahunya. Membelai rambut halus dan panjang milik Elena.


Keduanya hanyut dalam suasana. Baru saja sepasang kekasih itu menikmati waktu bersama tiba-tiba pintu kamar terbuka. Keduanya yang terkejut langsung melihat ke arah sosok yang membuka pintu.


Ternyata suter rumah sakit yang sedang mengantarkan obat untuk diminum Erlang.


"Maaf jika kehadiran saya mengganggu, saya hanya ingin mengantarkan obat untuk diminum sebelum tidur."


"Taruh di meja saja sus." ucap Erlang dengan ketus.


Suster tersebut menaruh obat di atas meja dan segera berlalu meninggalkan sepasang kekasih tersebut.


Dengan tergesa-gesa ia berjalan ke arah pintu dan menutup pintu secara perlahan. Sosok suter pun menghilang dari pandangan mereka. Dengan cepat Elena mengambil obat tersebut dan berjalan ke arah Erlang.


"Minum obatnya dulu Bie." Elena menyerahkan beberapa obat pemberian suster tadi ke tangan Erlang. Erlang menerima obat dari Elena dan menelannya dengan mudah.


"Ini airnya."  sodor Elena lagi dan Erlang meminum air sedikit.


"Pahit ngga Bie?" tanya Elena saat melihat Erlang dengan mudahnya menelan obat sedangkan dirinya harus bersusah payah menelan obat.


"Eggak pahit kalau minum obatnya sambil liatin kamu." Erlang mengacak-acak rambut Elena.


"Kamu gombal terus Bie."


"Ngga papa kan gombalnya cuma sama kamu." ucap Erlang sambil dibarengi senyum tipis membuat Elena tersipu malu sekaligus terpesona akan manisnya senyum milik kekasihnya itu.


Erlang kembali menarik tangan Elena untuk duduk lebih dekat


"Elle!" ucap Erlang dengan tangan masih membelai lembut rambut Elena.

__ADS_1


"Ada apa Bie?" Elena mendongakkan kepalanya, menatap sosok laki-laki yang sedang memanggilnya. Namun Erlang kembali menyandarkan kepala Elena di bahunya.


"Ada yang mau aku bilang sama kamu."


__ADS_2