
Keesokan harinya, Tessa kebingungan mencari Keenan berada. Suaminya pergi tanpa berpamitan yang membuatnya khawatir.
"Kee menginap di apartemen Luke pasti bersama Sebastian juga," ucap Silver mencoba menenangkan menantunya.
Silver membuat dua cangkir teh chamomile kemudian memberikan satu pada Tessa.
"Kalau Sebastian dan Luke sudah mempunyai istri apalagi anak, pasti mereka akan jarang bertemu jadi biarkan saja," tambahnya.
"Aku hanya takut mereka berbuat hal yang tak terduga," sahut Tessa was-was.
Silver terkekeh. "Mereka memang seperti itu dari dulu bahkan saat masih sekolah, kami sering dipanggil ke ruang kepala sekolah!"
"Lebih baik kita membicarakan masalah pesta, Flo sebentar lagi pasti datang!"
Dan benar saja, tak lama suara Raphael memekik di seluruh penjuru mansion.
"Grandma... Grandma..." panggil Raphael sambil berlari mencari Silver.
"Raphaelo, jangan berlari-lari!" Flo menjadi kewalahan mengejar putranya.
Sampai akhirnya Flo bisa menangkap Raphael lalu menggendong bocah itu.
"Hap! Raphael tertangkap!" Flo menciumi pipi Raphael yang menggemaskan.
__ADS_1
"Mommy, geli..." Raphael tertawa menahan ciuman dari sang mommy.
Interaksi itu tentu saja dilihat oleh Tessa, dia sampai refleks mengusap perutnya sendiri.
"Tidak usah terlalu buru-buru, nikmati saja waktu berdua dengan Keenan," tegur Silver yang seakan tahu apa yang ada dipikiran menantunya.
"Kee ingin mempunyai anak kembar, aku takut membuatnya kecewa," sahut Tessa sambil tertunduk.
"Jangan terlalu dipikirkan jika memang Tuhan berkehendak, kalian pasti akan mempunyai anak kembar. Aku dan mommy Kate mempunyai kegiatan amal setiap bulan di panti asuhan, apa kau mau ikut?" tawar Silver.
"Tentu saja, Mom," jawab Tessa cepat.
"Coba ceritakan, apa yang kau lakukan selama empat tahun lalu? Pasti kau bebas bukan lepas dari Kee?" cecar Silver kemudian, dia ingin tahu banyak mengenai hidup menantunya.
"Aku harus ke kantor dulu tadi, aku juga ingin tahu, apa yang kau lakukan Tessa," timpal Flo tidak sabar.
Tessa semakin menunduk malu mendapat pertanyaan seperti itu.
"Um, aku tidak banyak melakukan apapun, aku hanya suka memotret apa yang aku rasa menarik," jawab Tessa malu-malu.
"Kenapa merendah? Bukankah kau bermain saham selama ini? Kau juga berpindah-pindah negara? Itu adalah sesuatu yang keren," sahut Flo sambil menepuk pundak Tessa.
"Tapi, aku merasa kehilangan pijakan kakiku," sambung Tessa.
__ADS_1
"Bukankah kau sudah menemukan pijakan kaki sekarang? Berbahagialah Tessa," balas Silver yang juga menepuk pundak menantunya.
"Terima kasih semuanya!" Tessa lagi-lagi merasa terharu.
"Lebih baik kita cepat merancang pesta resepsi!"
Ketiganya kemudian berdiskusi mengenai pesta resepsi. Tessa yang berpengalaman mengatur acara memberikan masukannya, Flo dan Silver mengatur konsepnya.
"Aku mau pestanya sederhana saja tapi elegan," ungkap Tessa. Dia tidak sanggup mendengar gunjingan semua orang mengenai dirinya kalau pesta diadakan besar-besaran.
"Tenang saja Tessa, aku akan mengatur bahwa kau tidak akan membaca berita negatif," ucap Flo yang tahu akan rasa rendah diri Tessa.
"Pokoknya menurut saja," sela Silver.
Tessa hanya bisa menganggukkan kepalanya, dia jadi merindukan Keenan. Padahal Tessa memberi hukuman pada suaminya tapi justru dia yang rindu duluan.
"Apa suamiku akan menghindariku selama sebulan?" gumamnya.
Padahal dia berharap jika Keenan tidak tahan dan menggodanya seperti biasa.
"Seharusnya dia itu peka terhadap wanita, gelarnya saja playboy tapi tidak mengerti sama sekali mengenai wanita!" Tessa jadi marah-marah sendiri.
"Kalau iya itu berarti tidak, begitu sebaliknya!"
__ADS_1