
"Bos..." panggil Pedro untuk kesekian kalinya.
Sementara Keenan masih melamun karena mengingat Tessa yang marah padanya.
Jangan tinggalkan aku, Tessa. Aku tidak sanggup menyandang gelar duda tampan dengan dua anak
Setelah dia berkata seperti itu tadi pagi, Tessa langsung marah besar pada suaminya.
"Kau mendoakan aku mati, Kee!?"
Tessa yang biasanya bisa sabar jadi marah sebegitunya. Bahkan Tessa sampai tidak mau menyiapkan sarapan untuk Keenan.
"Bos, ini sarapannya," sambung Pedro. Lelaki itu memberikan sandwich yang baru dibelinya.
Keenan mengambil sandwich itu dan memakannya tanpa banyak kata. Sampai gigitan demi gigitan, Keenan menemukan ide supaya Tessa memaafkan dirinya.
"Ped..." panggilnya.
"Iya, Bos," jawab Pedro yang masih ada di sana.
"Tessa merencanakan baby moon di alam terbuka, aku akan membelikannya campervan," ungkap Keenan.
"Campervan?" gumam Pedro sambil memikirkan sesuatu. "Bukankah tuan Sebastian pengusaha mobil?"
"Ah, aku baru mengingatnya pasti Bass bisa mendatangkan campervan hari ini juga," ucap Keenan seraya mengambil ponselnya.
Keenan menghubungi Sebastian dan mengutarakan niatnya.
"Anggap ini kado untuk Ethel dan Gretel, kali ini buat kadomu berguna!" tuntut Keenan.
"Setelah ini kau pasti dapat jodoh Bass!"
__ADS_1
_
Tessa yang masih kesal dengan Keenan memilih menghabiskan waktunya untuk yoga. Setelah dirasa tenang, Tessa membuat puding karena tiba-tiba dia menginginkan makanan yang teksturnya lembut.
"Aku akan tambah susunya," ucap Tessa seraya mengaduk puding itu di atas kompor.
Tapi, atensinya teralihkan saat mendengar suara gaduh di depan sampai security yang berjaga masuk ke dalam rumah untuk melapor pada Tessa.
"Nyonya, ada kiriman datang," lapornya.
Tessa mematikan kompornya karena penasaran, dia keluar ke halaman depan dan kaget karena ada campervan di sana.
"Oh, my God! Apa suamiku yang membelinya?" Tessa bergegas masuk ke dalam rumah lagi dan mencari ponselnya.
Belum sempat Tessa memencet nomor Keenan, ponselnya sudah berdering duluan.
"Apa kau menyukainya sayang?" tanya Keenan.
"Siapa yang membeli, itu hadiah dari Bass," sahut Keenan.
"Benarkah?"
"Aku yang memintanya,"
"Itu sama saja,"
Tessa menghela nafasnya, dia tidak perlu khawatir, dia lebih suka Keenan berlebihan ke arah positive dari pada menyiksa diri sendiri.
Malam harinya, Tessa menyiapkan makan malam dan menatanya di meja dekat campervan.
__ADS_1
"Kita akan makan malam di sini?" tanya Keenan yang baru pulang dari kantor.
"Biar suasananya seperti kemping," jawab Tessa.
"Aku mandi dulu!" Keenan bergegas membersihkan diri. Dia memakai baju santai dan kembali mendatangi Tessa.
Keduanya makan malam dan menikmati suasana seperti kemping.
"Jadi kita sekarang melakukan gladi resik?" tanya Keenan.
"Ya begitulah," balas Tessa dengan kekehan.
Keenan senang melihat senyum Tessa itu. "Kau sudah tidak marah padaku lagi kan, sayang?"
"Marah denganmu membuang tenagaku tapi jika kau berfikir tidak-tidak lagi..." Tessa menancapkan garpu ke meja. "Kita akan pisah kamar!"
"Aku tidak akan pernah berfikir sembarangan lagi sayang, aku janji!" Keenan menaikkan lima jarinya tanda janji yang telah dia ucapkan.
Tessa mengangguk. "Good husband, sekarang kita lanjutkan makan lagi!"
Selesai makan, Tessa meminum susu dan vitamin hamilnya. Dia juga menyiapkan obat suaminya.
"Kee, minum obatmu dulu!" ucapnya.
Keenan menerima obat pemberian Tessa dan langsung meminumnya. Sebelum mereka kembali masuk ke dalam rumah, Keenan mengajak Tessa melihat isi di dalam campervan.
"Kita bisa membawa banyak bahan makanan," komentar Tessa.
Bukan itu yang ada dipikiran Keenan, dia mencari tempat tidur di dalam campervan.
"Sayang, ayo kita lakukan gladi resik di sini," ajak Keenan seraya menunjuk tempat tidur.
__ADS_1
"Gladi resik?" tanya Tessa tidak mengerti.
"Tadi kan sudah gladi resik makan sekarang gladi resik kunjungan daddy. Sepertinya Ethel dan Gretel ingin disiram Keesa lagi," jawab Keenan mengandung modus.