
Keenan tidak mau memaksa jika Tessa memang tidak mau disentuh, dia akan memberikan istrinya waktu untuk menenangkan diri sendiri. Dia sadar diri jika menerima masa lalunya tidak lah mudah apalagi Tessa ikut andil di dalamnya.
"Aku akan mengantarmu ke mansion, menginaplah malam ini," ucap Keenan, dia membalik arah mobilnya.
Tidak ada tanggapan dari Tessa yang membuat Keenan berpikir itu adalah jawaban iya.
Saat mobil Keenan sampai di mansion, Tessa turun dari mobil duluan dan masuk mansion seorang diri.
"Tessa, kau datang lebih cepat!" seru Silver yang melihat menantunya datang.
Tessa langsung memeluk Silver di sana, Silver mengerutkan keningnya sambil melihat Keenan yang baru saja masuk. Sepertinya memang ada masalah.
"Ayo mommy antar ke kamar!" Silver ingin Tessa tenang dulu.
Sementara Keenan mencari sang daddy yang berada di ruang kerjanya.
Ada beberapa masalah saat Grey ke Pulau Borgia waktu itu jadi Grey ingin menyelesaikannya satu persatu.
"Dad..." panggil Keenan.
Grey memicingkan matanya melihat putranya yang tidak bisa dihubungi itu.
__ADS_1
"Kau ingin duduk di kursiku tapi kau sepertinya lupa untuk duduk di situ harus ada usaha keras, harus punya tanggung jawab besar, kalau kau tidak peduli seperti ini, jangan harap kau bisa menyentuh posisi itu," ucap Grey dengan tegas.
Seperti biasa jika melihat Keenan, Grey akan langsung memberikan ultimatum seperti itu. Keenan yang sudah terbiasa hanya menaikkan kedua bahunya.
Keenan duduk di kursi yang berada di depan meja Grey, tangannya memutar-mutar globe yang digunakan sebagai pajangan.
"Aku tidak akan bisa menjadi sepertimu, Dad," ucap Keenan yang nadanya terdengar putus asa.
"Siapa yang menyuruhmu menjadi seperti aku," sahut Grey. Dia langsung melepaskan kaca matanya kemudian menutup pekerjaannya sejenak.
"Bertanggung jawab untuk diriku sendiri saja, aku masih belum bisa," sambung Keenan.
"Lalu kau akan menyerah?" tanya Grey.
"Kau harus lebih dariku, Kee!"
Keenan membalas tatapan sang daddy. "Aku hari ini membuat Tessa menangis karena masa laluku, rasanya aku memang tidak akan bisa menyamaimu apalagi lebih baik darimu, Dad!"
"Masa lalu? Kau pasti pernah mendengar pepatah yang mengatakan jika kesalahan itu adalah guru terbaik. Kau harus berterima kasih pada pembuat pepatah itu kalau kau tidak pernah berbuat kesalahan, kau tidak akan bisa sampai di titik ini," ucap Grey.
"Ya, kau benar, Dad. Aku akan menyelesaikan masalahku terlebih dahulu!" Keenan undur diri karena enggan membahas masalah perusahaan terlebih dahulu. Dia ingin menyelesaikan urusan pribadinya.
__ADS_1
Keenan menyusul Tessa yang berada di kamarnya, di dalam sana sepertinya Tessa mulai tenang dari pada sebelumnya.
Mungkin Tessa juga baru mendapat wejangan dari Silver.
"Sayang..." panggil Keenan hati-hati, dia takut membuat Tessa kehilangan moodnya lagi.
Tanpa Keenan duga, Tessa justru merentangkan kedua tangannya.
"Peluk aku!" pinta Tessa.
Dengan cepat Keenan berlari ke arah istrinya dan langsung memeluk Tessa dengan erat.
"Maafkan aku, aku pasti akan menebus semua kesalahanku di masa depan," ucap Keenan seraya mengecup puncak kepala istrinya.
"Hm, maafkan aku juga, seharusnya aku tidak marah karena masa lalumu," sahut Tessa.
"Jadi, kita baikan, 'kan?"
"Iya, tapi kau harus dihukum!"
"Hukum saja aku sesuka hatimu sayang,"
__ADS_1
"Baiklah, hukumannya.... kau harus berhenti produksi Keesa untuk sebulan ke depan!"
"A--apa?"