
"Kee..." panggil Tessa supaya suaminya tidak mengganggu Pedro.
Keenan yang mendengar panggilan istrinya langsung mendatangi Tessa di meja lain.
"Jangan ganggu Ped, biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri," ucap Tessa.
"Aku hanya membalas seperti yang Ped lakukan dulu pada kita," sahut Keenan yang duduk di depan istrinya.
"Jangan, justru nanti Mishel akan menganggap Ped semakin aneh," cegah Tessa.
Sementara Pedro yang gugup hanya diam sambil terus menyedot minuman dari gelasnya.
"Ped..." panggil Mishel.
Pedro terkejut sampai badannya menyembul, dia belum bisa mengontrol debaran jantungnya.
"Maafkan aku ya karena sudah memblokir nomor ponselmu," ucap Mishel seraya mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. "Aku akan membuka blokirnya!"
"Jadi, sekarang kita berteman lagi!"
Pedro sedikit kecewa karena dia ingin lebih dari teman tapi ingin mengucapkan itu rasanya sangat sulit. Pedro sudah membaca biodata Mishel, perempuan itu single, mandiri dan pekerja keras. Tipe ideal Pedro karena bukan gadis manja seperti perempuan-perempuan yang pernah dikenalnya dulu.
Kesempatan tidak datang dua kali jadi Pedro mengumpulkan keberanian penuh.
"Mishel..." panggilnya.
__ADS_1
"Iya," jawab Mishel dengan menatap wajah Pedro yang gugup.
"Maukah kau menikah denganku?" tanya Pedro to the point.
Keenan yang mendengar itu seketika langsung menyemburkan minumannya.
"Apa-apaan itu? Kenapa langsung mengajak menikah?" Keenan tidak habis pikir.
Keenan berdiri ingin mendekati meja Pedro tapi ditahan oleh Tessa.
"Jangan ganggu mereka!" cegah Tessa.
Keadaan di meja Pedro jadi canggung lagi, Mishel tidak percaya jika Pedro akan langsung melamarnya.
"Aku mempunyai tabungan yang cukup untuk masa depan kita, aku sudah membaca profilmu, kau sama sepertiku hanya sebatang kara jadi mari kita hidup bersama dan membangun keluarga yang bahagia," bujuk Pedro.
"Orang seperti kita pasti akan memahami satu sama lain karena kita sama-sama kesepian," jawab Pedro.
Entah kenapa jawaban Pedro membuat Mishel jadi tersentuh, memang benar jika mereka yang kesepian dan sebatang kara akan saling memahami karena mereka sejatinya tidak ingin sendirian.
"Baiklah," ucap Mishel malu-malu.
Senyum mengembang di bibir Pedro, dia langsung menggandeng tangan Mishel dan mereka segera mendatangi meja Keenan.
"Bos, saya dan Mishel akan menikah sekarang juga, kami akan mendaftarkan pernikahan, saya harap bos Keenan dan bos nyonya menjadi saksinya," ucap Pedro mantap.
__ADS_1
Keenan dan Tessa hanya bisa saling pandang, Pedro benar-benar tidak main-main, hari itu juga dia menikahi Mishel dan mendatangi kantor pencatatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan mereka.
"Kyaa..." Mishel meloncatkan badannya pada Pedro setelah buku pernikahan telah mereka tanda tangani.
Pedro menangkap tubuh Mishel yang sudah menjadi istrinya itu.
"Nanti kita atur acara pemberkatan dan resepsi, sekarang kita pulang dan..." Pedro jadi malu-malu. Akhirnya dia bisa melepas masa perjakanya. Dia akan mengikuti nalurinya sebagai laki-laki.
Keenan melihat pasangan pengantin baru itu dengan gelengan kepala.
"Astaga! Bisa-bisa Ped dan Mishel akan lama tidak masuk ke kantor kalau begini caranya," komentar Keenan.
"Biarkan saja, lagi pula besok sudah weekend kan, aku yakin jika bekerja mereka akan profesional," sahut Tessa seraya menggenggam tangan Keenan. "Kita langsung pulang, ya. Aku lelah!"
Satu tangan Keenan mengusap kepala istrinya. "Baiklah, besok kita akan menghabiskan baby moon berdua!"
"Jangan pernah berpikir untuk melakukan di campervan lagi, pinggangku jadi sakit," keluh Tessa.
"Iya-iya, tapi lakukan di tenda ya," balas Keenan.
Keduanya terus berdebat dan memikirkan acara baby moon mereka sampai Tessa merasa bayi kembarnya bergerak.
"Akh!" Tessa memegang perutnya. "Kee..."
"Kenapa sayang?" tanya Keenan cemas.
__ADS_1
"Ethel dan Gretel baru saja bergerak," jawab Tessa kesenangan.
"Benarkah?" Keenan langsung berjongkok dan mencium perut istrinya. "Anak-anak daddy, apa kalian merindukan Keesa?"