
Sebelum pulang ke rumah, Tessa membawa Keenan ke panti asuhan di mana dia biasanya melakukan kegiatan amal bersama mertuanya.
"Ada anak laki-laki namanya Mike, dia sama seperti Raphaelo, lucu dan menggemaskan," ucap Tessa bercerita.
"Ah, aku jadi merindukan anak itu. Aku dengar Raphael sudah sekolah," tambahnya.
Keenan mengangguk. "Raphael sudah besar. Oh iya, para sepupuku di Indo akan menikah, kita sepertinya tidak bisa datang!"
"Padahal aku ingin melihat pernikahan para sepupumu," balas Tessa.
"Kita harus memikirkan kehamilanmu sayang, lagi pula acaranya pasti akan melelahkan," ucap Keenan sambil memikirkan kemungkinan yang ada.
"Bayangkan saja, ada 15 pasangan pengantin yang akan menikah sekaligus, acara pemberkatan saja membutuhkan waktu seharian,"
"Belum ke acara resepsi dan lain sebagainya!"
Tessa mengangguk setuju. "Aku jadi memikirkan pastor yang menikahkan mereka, pasti pastornya akan kebingungan!"
Lalu keduanya tergelak karena membayangkan pernikahan masal itu.
"Sekarang jauh lebih baik, 'kan?" tanya Tessa seraya memegang tangan suaminya.
__ADS_1
"Lumayan, aku akan mencoba melawan rasa takut itu," balas Keenan dengan menarik kepala Tessa ke pelukannya.
Sesampai di panti asuhan, Tessa memperkenalkan Mike pada Keenan. Awalnya Mike tidak suka lelaki itu tapi saat Keenan memerintahkan supir untuk membeli puluhan pizza, mereka jadi kesenangan.
Saat anak-anak memakan pizza, Tessa membawa suaminya duduk di sebuah bangku yang ada di taman.
"Aku akan sering membawa Ethel dan Gretel ke sini kalau mereka sudah besar," ungkap Keenan.
"Ya ampun, mereka saja masih di dalam perut," sahut Tessa dengan kekehan. "Tapi aku suka kau yang berfikir tentang masa depan mereka dari pada memikirkan hal buruk!"
"Bagaimana kalau kita melakukan baby moon saat usia kandungan sudah menginjak trimester kedua? Kau kan suka menyatu dengan alam, jadi kita akan melakukan kemping di alam terbuka!"
Keenan mengingat saat kencan mereka di pulau Borgia dulu bahkan Keenan sampai berhalunasi melakukan hubungan intim di dalam tenda.
_
Sesuai anjuran dokter, Keenan meminum obatnya secara rutin setiap hari. Tessa selalu memantau perkembangan suaminya dan melaporkan itu pada dokter.
Walaupun kadang Keenan masih suka berlebihan tapi mulai sedikit berkurang dari pada sebelumnya.
"Kee, coba lihatlah!" seru Tessa yang mengaca di depan cermin.
__ADS_1
Keenan pada saat itu bersiap memakai baju kantor tapi karena dipanggil istrinya, Keenan segera mendatangi Tessa.
"Ada apa sayang?" tanya Keenan.
"Perutku mulai membuncit," jawab Tessa seraya mengembangkan senyumnya.
Keenan berdiri di belakang Tessa, satu tangannya mengelus perut buncit itu. "Tidak sia-sia aku menyiramnya seminggu tiga kali, sekarang bayi-bayiku tumbuh dengan baik!"
"Ini karena memang waktunya," sahut Tessa dengan memajukan bibir. Bisa-bisanya Keenan menyangkut pautkan dengan pikiran mesumnya.
Kemudian Tessa membalik badannya. "Kosongkan waktu weekend ini, okay. Kita akan melakukan baby moon, kalau sudah memasuki trimester ketiga, aku akan mengurangi kegiatan."
"Apa itu berat? Kau membawa dua bayi sayang?" tanya Keenan.
"Kalau untuk sekarang, aku belum merasakan keberatan atau apapun," balas Tessa.
Keenan kembali memasang wajah khawatir, beberapa hari ini Keenan melihat video proses melahirkan secara normal dan operasi. Dua-duanya kelihatan menyakitkan.
"Kenapa?" tanya Tessa cemas. Dia takut paranoid suaminya kambuh lagi.
"Tidak apa-apa." Keenan mengecup kening Tessa lama sekali. "Aku tidak sanggup melihatmu melahirkan nanti!"
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku, Tessa. Aku tidak sanggup menyandang gelar duda tampan dengan dua anak!"