
Sementara Keenan sendiri saat ini tengah menemani Sebastian dan Luke, mereka ingin memutuskan hubungan dengan kekasih mereka.
Di sebuah restoran Sebastian dan Luke melakukan double date.
Keenan duduk menjauh dengan memakai topi dan jaket yang menutupi kepala supaya tidak ketahuan.
Awalnya mereka semua makan dengan tenang sampai Sebastian membuka suaranya.
"Aku ingin putus," ucap Sebastian.
"Aku juga," timpal Luke.
Keduanya kemudian berdiri untuk meninggalkan kekasih mereka yang kebingungan. Mereka belajar dari Keenan untuk menunggu kekasih mereka kenyang dulu baru diputuskan.
"A--apa? Apa kami tidak salah dengar?"
"Tidak!"
Buru-buru Sebastian dan Luke melangkah pergi tapi kaki keduanya tiba-tiba terasa berat karena kekasih mereka menahannya.
Mereka duduk bersimpuh sambil memegangi kaki kedua pria itu.
"Apa salah kami, kenapa tiba-tiba minta putus?"
"Kalau salah, apa salah kami?"
"Kami minta maaf!"
Keenan yang melihat dari kejauhan sebenarnya tidak tega apalagi saat dia mendapat laporan dari Pedro jika keduanya sudah tidak menjadi wanita panggilan lagi.
"Aku mencintaimu, Bass!"
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu, Luke!"
"Jangan tinggalkan kami, kami berjanji akan berubah!"
Tapi, keputusan Sebastian dan Luke sudah bulat, dengan berat hati, mereka tetap memutuskan hubungan mereka dan pergi.
Keenan yang melihat kedua temannya keluar dari restoran dengan cepat mengekori mereka.
"Aku mau pulang sendiri," pamit Sebastian yang suasana hatinya kembali memburuk.
Luke mengangguk. "Aku juga ingin sendiri, jangan hubungi aku sementara waktu!"
"Kita bertemu saat pesta resepsi Tessa!"
Lalu keduanya menatap Keenan dengan tajam dengan mengacungkan jari tengah mereka.
"Seharusnya kalian intropeksi diri, belajarlah dari kesalahan," ucap Keenan sok bijak.
"Antar aku ke mansion!" perintahnya.
Sepanjang perjalanan, Keenan menyenderkan kepalanya di kursi mobil sambil memejamkan matanya. Ingatan kedua mantan temannya terngiang di kepalanya.
"Mereka mengungkapkan cinta secara gamblang," gumamnya.
Keenan jadi sadar jika Tessa belum pernah mengungkapkan cinta padanya. Terkadang justru Tessa masih memanggilnya Bos.
"Bahkan saat acara pernikahan, dia tidak bilang I love you padaku, aku terlihat seperti memaksanya dan bertepuk sebelah tangan!"
"Arghhhh..."
Pedro melirik dari kaca spion keadaan bosnya di belakang karena berteriak seperti itu.
__ADS_1
"Apa ada yang sakit, Bos?" tanyanya.
"Hatiku tiba-tiba sakit," jawab Keenan ketus.
Saat sampai di mansion, Keenan memerintahkan Pedro untuk mempersiapkan diri kembali ke kantor.
"Daddy bilang ada masalah saat kita pergi ke Pulau Borgia. Jadi, mulai besok kita kembali bekerja," ucap Keenan.
"Mabuk cintanya sudah selesai, Bos?" tanya Pedro memastikan.
"Apa kau bilang, mabuk cinta? Aku tidak pernah seperti itu," balas Keenan yang berniat jual mahal.
Keenan ingin Tessa bergantian mengejar-ngejarnya sampai gila. Tessa harus bilang I love you tanpa Keenan yang memintanya.
Sementara Tessa merenung seorang diri di kamar karena seharian ini menunggu suaminya menjemputnya. Bukankah mereka harus kembali ke apartemen?
"Sepertinya suamiku begitu menikmati hukumannya," gumam Tessa sebal.
Tak lama pintu kamar terbuka, Keenan menyembul masuk tanpa satu patah kata pun.
Tessa melirik ke arah Keenan, dia berharap Keenan membujuknya dengan bunga atau cokelat tapi Keenan justru tidak membawa apa-apa.
"Kau tidak membawa apapun untuk istrimu?" tanya Tessa kemudian.
Keenan menjawab dengan gelengan kepala.
"Kenapa tidak menghubungi istrimu sama sekali?" tanya Tessa lagi.
Dan lagi-lagi di luar dugaan, Keenan hanya membalas dengan menaikkan kedua bahunya.
Keenan enggan membuka mulutnya yang mana membuat Tessa jadi berpikir jika Keenan sakit.
__ADS_1
"Apa kau sariawan, Kee?" tanyanya.