
Raphael begitu senang karena semua anggota keluarga datang. Apalagi semua permintaannya selalu dipenuhi.
"Opa, aku mau main kuda-kudaan," ucap Raphael yang ingin bermain dengan Arse.
"Opa-mu sudah tua, sini bermain sama Grandpa saja," sahut Nick. [ Bapaknya Grey ]
"Heleh, kau lebih tua dariku. Aku gini-gini juga masih kuat. Ayo Raphael naik ke punggung Opa!" Arse membuat tubuhnya menjadi posisi merangkak.
Raphael mencoba naik ke punggung sang Opa tapi baru juga naik, Arse sudah kesakitan pinggang.
"Nah, apa aku bilang, 'kan?" Nick akhirnya mengangkat Raphael. "Jangan memaksakan diri!"
"Rasanya aku tidak percaya tubuh ini sudah menua dan sebentar lagi..."
"Hei, hei, hei, jangan mendahului takdir. Kita masih bisa melihat Raphael itu sebuah anugerah!"
Grey yang sudah menyelesaikan urusannya ingin ikut bergabung bersama ayah dan mertuanya tapi dia melihat Axe yang sedari tadi mengekori Flo karena menantunya itu yang tidak biasa bersosialisasi.
"Axe, pergilah datangi Raphael!" pinta Flo yang sibuk mempersiapkan pesta ulang tahun putranya. "Aku malu kalau kau terus begini!"
Flo berbicara pelan sekali karena dia bersama para sepupunya dan Axe terus mendekapnya dari belakang.
"Aku tidak mau jauh darimu, darling," bisik Axe memberi alasan.
"Ehem!" Grey berdehem. "Kau lebih mirip anak ayam yang tidak mau kehilangan induknya, mentang-mentang kau pengusaha ayam! Cepat, lepaskan istrimu!"
"Ayo ikut bersamaku!"
__ADS_1
Dengan terpaksa Axe melepaskan Flo dan ikut bersama Grey. Sebenarnya Axe tidak nyaman jika berhadapan dengan Arse yang selalu menatapnya penuh kebencian.
"Daddy..." panggil Raphael saat melihat Axe datang bersama Grey.
Axe hanya tersenyum kikuk, dia tidak berani bertatapan dengan Arse dan Nick di sana.
"Menantumu kadang memang tidak tahu diri, ya?" sindir Arse yang tidak suka dengan Axe dari dulu.
"Sudahlah, Dad. Axe sudah banyak berubah," sahut Grey membela menantunya.
Axe merasa terharu sampai ingin memeluk Grey di sana.
"Aku pasti akan memberimu cucu lagi, papa mertua," ucap Axe kemudian.
"Lebih baik kau tutup mulut atau Kapten akan semakin marah padamu," sahut Grey yang tidak mau Axe membuat masalah.
"Kau belum sah masuk ke keluarga ini karena ada hal yang belum kau lakukan," ucap Arse dengan tatapan tajamnya.
Axe menelan ludahnya susah payah. "A--apa itu?"
"Kau harus makan seblak!" jawab Arse.
"Itu makanan apa ya?" tanya Axe yang baru mendengarnya.
"Itu makanan Indo, keluarga istriku memang pecinta seblak," bisik Grey supaya Axe tidak banyak bertanya.
"Aku pasti akan memakannya!" Axe tentu saja menyanggupi tantangan memakan seblak. Dia ingin diakui di keluarga itu.
__ADS_1
Arse berseringai, kebetulan dia membawa banyak seblak instan.
"Bee, tolong buatkan seblak level setan!" seru Arse pada istrinya.
"Setan? Maksudnya apa, papa mertua?" tanya Axe sambil berbisik pada Grey.
"Maksudnya itu pedas di atas rata-rata," jawab Grey yang menahan tawanya.
Sudah Axe duga, tidak mungkin akan semudah itu. Tidak mungkin hanya makan seblak dan selesai.
Axe memejamkan matanya, dia harus mempersiapkan diri untuk memakan seblak setan itu.
"Tenang Axe, kau dulu sering melakukan misi berbahaya jadi seblak bukan masalah apa-apa," batinnya.
Di luar penginapan, Keenan dan Tessa sudah sampai. Pedro menyambut kedatangan mereka dan meminta petugas penginapan untuk mengangkat barang-barang Tessa.
"Selamat datang, Bos," sambut Pedro.
Keenan hanya menganggukkan kepalanya, dia menggandeng tangan Tessa untuk masuk supaya mengurangi kegugupan calon istrinya.
"Di mana yang lain?" Keenan menanyakan semua anggota keluarganya.
"Semuanya sedang berkumpul di taman karena ada upacara pengesahan menantu," jawab Pedro sambil menggaruk kepalanya
"Pengesahan menantu?" tanya Tessa yang tidak mengerti.
"Itu...." Pedro agak ragu menjelaskannya. "Tuan Axe sedang mencoba memakan seblak supaya sah menjadi anak menantu!"
__ADS_1
Keenan mengusap rambut Tessa supaya tidak syok. "Jangan berpikir keluargaku aneh, ya."