
Sebastian dan Luke langsung mengerti, mereka kemudian tertawa sambil memegang perut mereka.
"Bass, apa perlu kita memberi nama pabrik bayi kita juga?" tanya Luke.
"Sepertinya ide yang bagus Luke," balas Sebastian yang tidak bisa berhenti tertawa.
Keenan merasa jengah karena selalu menjadi objek kedua temannya itu untuk menghibur diri mereka.
"Jangan bahas hal itu lagi, lebih baik kalian pikirkan pasangan untuk menghadiri pesta pernikahanku nanti," ucap Keenan dengan ketus.
"Pasangan? Tentu saja kami sudah punya," sahut Sebastian membanggakan diri.
"Sebentar lagi pasangan kita pasti sampai," timpal Luke.
Dan benar saja, tak lama ada dua orang perempuan cantik bak model memasuki bar.
Kedua perempuan itu mencari keberadaan Sebastian dan Luke, saat mereka menangkap sosok dua pria yang mereka cari, mereka langsung mendatangi kedua pria itu.
"Hai, Babe." Sebastian menyambut kedatangan kekasihnya.
Hal sama dilakukan oleh Luke bahkan kekasihnya tanpa malu duduk di pangkuannya.
__ADS_1
"Mereka kekasih kalian?" tanya Tessa yang sedari tadi menatap geram pada kedua perempuan yang diklaim menjadi kekasih kedua teman suaminya.
Kedua perempuan itu tampak kaget saat sadar jika ada Tessa di sana, mereka semakin terkejut karena Keenan ikut serta, mereka jadi salah tingkah.
"Iya, kami berkencan sudah satu bulan ini kan, Luke?" jawab Sebastian seraya melirik Luke untuk mengonfirmasi perkataannya.
"I think so..." Luke menanggapi dengan memainkan rambut kekasihnya kemudian membaui rambut itu.
Keenan yang melihat itu menahan tawanya sedari tadi akhirnya dia bisa menertawakan kedua sahabatnya itu. Sampai Keenan sadar jika Tessa saat ini dalam mode sangar, istrinya meneguk beberapa gelas anggur untuk meluapkan emosinya.
"Bersenang-senanglah kalian dan jangan lupa menghadiri pesta pernikahan kami," ucap Keenan kemudian.
Keenan berdiri dan mengajak istrinya untuk pergi dari bar itu.
Sepanjang perjalanan, Tessa hanya melihat jalanan dari kaca jendela mobil.
"Aku minta maaf ribuan kali pun, aku tidak akan bisa mengubah masa laluku," ucap Keenan tidak tahu harus berkata apa karena dia tahu suasana hati istrinya sedang buruk.
Kenyataan bahwa kedua perempuan yang menjadi kekasih Sebastian dan Luke adalah mantan teman kencan Keenan dahulu sungguh membuat Tessa kesal setengah mati.
"Kedepannya pasti ada lagi, 'kan?" tanya Tessa tanpa mau memandang suaminya.
__ADS_1
"Aku tidak mau mendahului takdir Tuhan," sahut Keenan.
Tessa menghela nafasnya berat, itulah resikonya menjadi istri seorang Keenan. Dia harus bisa berbesar hati.
"Sebaiknya Sebastian dan Luke harus tahu," ucap Tessa memberi usul.
"Jangan, biar mereka tahu sendiri!" Keenan tidak setuju.
Mendengar itu, Tessa langsung menatap suaminya dengan tajam.
"Jadi, kau akan membiarkan kedua temanmu menikmati wanita bekasmu? Dan bagaimana jika Sebastian dan Luke menikah dengan mereka?"
"Kita akan sering bertemu dengan mereka, apa kau tidak memikirkan perasaanku?"
Tessa meneteskan air matanya, entahlah dia merasa sakit hati. Atau mungkin Tessa memang didera rasa cemburu yang luar biasa sekarang.
Sedetik kemudian Tessa merasa tersentak karena mobil yang tiba-tiba berhenti tanpa peringatan.
Keenan menepikan mobil, dia tidak bisa melihat Tessa yang menangis begitu.
"Jangan menangis sayang," bujuk Keenan, dia berusaha menghapus air mata Tessa tapi tangannya yang terulur ditepis oleh istrinya itu.
__ADS_1
"Aku tidak mau, jangan sentuh aku!" tolak Tessa.