My Naughty Boss

My Naughty Boss
MNB BAB 69 - Produk Gagal


__ADS_3

Grey menatap langit yang masih gelap, hujan mulai reda hanya sisa gerimis saja. Sepertinya sudah cukup aman untuk melakukan pencarian.


"Tuan, semuanya sudah siap!"


Grey menoleh dan mengangguk. Untuk mempersingkat waktu, Grey menyewa sebuah helicopter sebagai sarana menjemput Keenan.


"Ped, ayo!" ajak Grey supaya Pedro cepat menaiki helicopter tersebut.


"Iya, Tuan." Pedro bergegas mengikuti masuk.


Helicopter mulai terbang ke arah pulau terpencil di mana Keenan dan Tessa berada.


Saat sampai, helicopter mendarat di pinggir pantai. Tenda yang berdiri sebelumnya sudah tidak ada lagi sesuai perkiraan.


"Bos..." Pedro semakin merasa khawatir.


Sementara Grey berusaha tenang, satu-satunya tujuan Keenan dan Tessa pasti hutan di pulau itu.


"Kita harus masuk ke dalam hutan!" perintah Grey.


"Iya, Tuan." Pedro mengikuti arahan dari Grey dengan patuh.


Mereka segera masuk ke hutan untuk mencari Keenan dan Tessa. Mereka berjalan sambil memanggil-manggil nama keduanya.


Samar-samar Tessa mendengar suara orang yang memanggilnya. Walaupun kedinginan, dia masih terjaga lain dengan Keenan yang sudah pingsan setelah menyatakan perasaannya.

__ADS_1


"Bos...," panggil Tessa dengan lemah. "Bantuan datang, bangunlah!"


Tapi, Keenan yang wajahnya sudah pucat dan membiru benar-benar tidak sadarkan diri.


"Kalau dipikir-pikir, kita seperti di film Titanic. Bedanya kita kedinginan di hutan," tambah Tessa yang kesadarannya mulai menipis.


Sebelum tak sadarkan diri, ada sorot cahaya yang mendatanginya.


"Itu mereka, Tuan!" seru Pedro yang menemukan keduanya.


Grey berlari ke arah Pedro, dia menggelengkan kepalanya melihat Keenan dan Tessa yang sekarat karena gaya kencan primitif.


"Ped, kalau kau jatuh cinta nanti, jangan menyusahkan orang sampai begini. Lihatlah mereka, yang jatuh cinta siapa yang repot siapa," ucap Grey sampai kehabisan kata-kata.


_


_


_


_


Setelah berhasil keluar dari hutan, Grey membawa Keenan dan Tessa ke rumah sakit. Keduanya langsung mendapat perawatan di sana.


"Di mana mereka?"

__ADS_1


Suara bariton itu terdengar yang membuat atensi Grey mencari sumber suara. Saat itu Grey dan Pedro menunggu di ruang UGD.


"Kapten!" Grey langsung mendatangi ayah mertuanya. "Kau sudah sampai?"


Grey memeluk Arse yang tubuhnya sudah tua tapi masih saja kuat mengingat cucunya yang berjumlah 18 ditambah 1 cicit, Raphaelo.


"Aku baru sampai dan mendengar berita tidak mengenakkan," keluh Arse. Dia mengingat baru sampai penginapan dan mendapati putrinya Silver yang menangis karena mencemaskan keadaan Keenan.


Saat mendapat kabar jika Grey sudah kembali dan berada di rumah sakit. Mereka semua akhirnya menyusul.


"Anak itu tidak berhenti membuat masalah, beruntung kami datang tepat waktu," jelas Grey.


Arse mencoba melihat keadaan Keenan yang sudah selesai di periksa dokter. Dia duduk di kursi yang berada di samping ranjang pasien. Matanya terus fokus melihat Keenan.


"Sebagai penerusku, kau paling memalukan setelah Dewa si tukang boker itu," ucap Arse menyebutkan anak kelimanya yang hobi boker sampai bisa menghasilkan kentut mematikan.


Itu merupakan aib keluarga tapi dibandingkan tukang boker, Keenan lebih memalukan.


"Tessa..." Keenan membuka matanya perlahan karena mulai sadar. Dia mengira jika dirinya sudah berada di alam baka.


Keenan mencari keberadaan Tessa, kalau mereka mati seharusnya mereka masih bersama-sama. Tapi, dia justru mendapati sang kakek di sana.


"Opa, kapan matinya?" tanya Keenan yang membuat Arse langsung emosi.


"Kau memang produk gagal, Kee," komentarnya.

__ADS_1


__ADS_2