
Keenan dan Tessa saling menatap satu sama lain, mereka berbaring di atas ranjang setelah melakukan percintaan mereka.
"Apa Keesa akan cepat menjadi janin seperti sebelumnya?" tanya Tessa yang berharap penuh.
"Jangan terlalu memikirkan hal seperti itu, yang terpenting parasit di tubuhmu tidak aktif lagi, itu sudah cukup," balas Keenan seraya mengecup kening istrinya. "Terima kasih sudah berjuang untuk sembuh!"
Tessa memeluk suaminya tanpa berkata-kata lagi, dia bersyukur Keenan tidak pernah menuntutnya sama sekali.
"Berarti sekarang waktunya aku menepati janji," ucap Keenan lagi.
"Janji?" tanya Tessa.
"Janji untuk bulan madu kedua, sebenarnya aku sudah mempersiapkan tempatnya sayang,"
"Kali ini tidak aneh-aneh, 'kan?"
"Tidak, hanya saja, aku suka menyatu dengan alam,"
"Hah? Kenapa firasatku jadi tidak enak, ya?"
Ternyata Keenan tidak main-main, lelaki itu memilih tempat yang memang menyatu dengan alam.
"Kee..." Tessa jadi takut karena mengingat gaya kencan primitif mereka.
"Kali ini aman sayang," bujuk Keenan seraya membawa istrinya ke rumah pondok yang sudah dia pesan.
Dan sepertinya memang aman jadi Tessa menuruti suaminya. Keenan sudah mengambil libur demi bulan madu kedua mereka jadi Tessa tidak mau membuat suaminya kecewa.
__ADS_1
"Tempatnya cukup nyaman," komentar Tessa setelah berkeliling rumah pondok tersebut.
Keenan tersenyum miring. "Cocok untuk memproduksi Keesa yang berkualitas, bukan?"
"Berkualitas?" Tessa terkekeh. "Kenapa aku jadi takut anak kita akan dominan menuruti sifatmu!"
"Baguslah kalau begitu, anak kita akan menjadi keren," balas Keenan.
Selama beberapa hari kedua anak manusia itu menghabiskan waktu mereka berdua untuk membuka pabrik bayi. Setiap saat mereka akan bercinta diberbagai sudut.
"Aku lelah," keluh Tessa ketika suaminya menciumi punggungnya yang telanjang.
"Hanya ciuman sayang," sahut Keenan memberi alasan.
"Aku ingin keluar, tadi aku sudah memesan makanan," pinta Tessa yang membuat Keenan langsung memakaikan dress putih untuk istrinya.
"Bagaimana kalau kita berdansa, Princess?" Keenan memutar tangannya seraya membungkukkan badan.
"Dengan senang hati, Pangeran," balas Tessa melebarkan ujung dressnya dan menundukkan badan.
Sepasang suami istri itu berdansa dan tertawa bersama.
Disisi lain, Pedro mendatangi Grey di mansion dengan membawa banyak berkas penting. Saat lelaki itu memasuki mansion tubuhnya jadi sasaran tembakan Raphael.
__ADS_1
"Raphael!" tegur Axe yang melihat putranya menyerang Pedro.
"Dia musuh kita daddy, kita harus melindungi mommy," ucap Raphael. Ternyata jiwa mafia Axe menurun pada anaknya.
"Kita main tembakan di taman saja, daddy akan mengajarimu menembak sasaran dengan tepat!" Axe kemudian menggendong putranya untuk pergi ke taman mansion.
Pedro mengelus dadanya karena masih kaget diserang secara tiba-tiba.
"Kau tidak apa-apa, Ped?" tanya Flo.
Flo dan keluarga kecilnya berada di mansion karena ingin berpamitan, besok dia akan berangkat ke Perancis.
"Tidak apa-apa, Nona," jawab Pedro.
"Apa Kee masih pergi bulan madu?" tanya Flo lagi.
"Iya Nona tapi besok bos Keenan sudah pulang,"
"Baguslah, aku masih sempat bertemu dengan adik-adikku,"
"Kalau begitu, saya permisi Nona,"
Pedro segera pergi ke ruang kerja Grey karena bos besarnya itu sudah menunggunya sedari tadi.
"Ini laporannya, Tuan," ucap Pedro seraya memberikan berkas-berkas yang dia bawa. "Sejauh ini kerja sama dengan para tender besar berjalan baik dan nilai saham stabil sekali apalagi beberapa minggu ini mengalami kenaikan!"
Grey melihat semua berkas itu dan tersenyum puas atas kerja keras Keenan. "Sepertinya sudah waktunya memberi kursiku pada putraku, Ped."
"Aku bisa tenang melepas perusahaan sekarang," ucapnya.
__ADS_1