
Begitu banyak nama Rose di dunia ini tapi kenapa Keenan merasakan debaran itu lagi. Keenan harus memastikan Rose yang ini Tessa atau bukan.
"Red..." panggil Keenan pada sepupunya melalui telepon.
"Setidaknya jika menghubungi aku, ingatlah waktu!" kesal Red di sana karena baru saja memejamkan mata.
"Ini penting, kau harus melacak keberadaan Tessa. Apa benar dia ada di Pulau Borgia?" tanya Keenan.
Red mendengus sebal tapi dia tetap melakukan permintaan Keenan. Beruntung dia tertidur di Lab-nya.
"Veronica!" Red menepuk tangannya untuk mengaktifkan teknologi kecerdasan buatan itu. "Cepat lacak ID 919!"
Red memberi kode tersendiri untuk Tessa alias Rose. Setelah beberapa menit Veronica melacak ternyata memang benar Tessa ada di Pulau Borgia.
"Ini terakhir kalinya, aku meminta bantuanmu," ucap Keenan kemudian.
"Oh iya? Aku tidak yakin," cibir Red.
"Kali ini aku akan menemui Tessa jadi bersiaplah menerima undangan pesta pernikahan kami nanti," tambah Keenan yang membuat Red tidak percaya.
"Kau mau mendahuluiku, ya?" Red merasa tidak terima karena dia lebih tua tiga tahun dari pada Keenan.
__ADS_1
"Aku tidak mendahului, kau saja yang tidak menikah-menikah padahal Kika sudah lama menunggumu," jawab Keenan ketus sambil menyebutkan nama kekasih Red.
"Wanita itu butuh kepastian," tambahnya.
Mendengar kalimat itu, rasanya Red ingin meninju wajah Keenan karena lelaki itu seolah tidak sadar diri atas sikapnya pada Tessa selama ini.
Dari pada membuang energinya, Red memilih mematikan panggilan secara sepihak.
"Ck!" Keenan berdecak karena panggilan mati sepihak tapi tidak masalah karena dia sudah tahu pasti jika Rose pemenang undian adalah Tessa.
Keenan kemudian memikirkan cara supaya Tessa bisa berkencan dengannya. Tapi sebelum itu dia harus latihan bersama Pedro supaya tidak membuat malu nantinya.
"Ped..." panggil Keenan.
"Kau duduk di sana!" tunjuk Keenan ke arah sofa. Kemudian lelaki itu berdiri dengan angkuh dan duduk di ujung meja.
Kedua tangan Keenan bersilang dada, matanya fokus menatap Pedro dan membayangkan lelaki itu adalah Tessa.
"Hai, apa kabar?" tanya Keenan dengan kaku. "Kebetulan sekali kita bertemu di sini seolah semua ini adalah takdir!"
Pedro yang tidak tahu menahu tentang latihan Keenan hanya bisa menelan ludahnya. Dia jadi takut karena Keenan yang seperti itu.
__ADS_1
Apalagi Keenan meriah dagunya membuat pupil matanya melebar.
"B-- bos..." Pedro tergagap.
"Ssstt!" Keenan menaruh jari telunjuknya di bibir Pedro. "Jangan banyak bicara, aku tahu perasaanmu! Pasti kau ingin mati melihatku yang begitu keren sekarang!"
Keenan memajukan wajahnya yang membuat Pedro semakin panik.
"Bos, saya normal! Jangan...." Pedro menutupi dadanya seraya memejamkan matanya.
Pada saat itu, Grey masuk ke ruangan Keenan untuk membicarakan perjalanan mereka ke Pulau Borgia.
"Kee..." Grey langsung tercengang melihat pemandangan di depannya. Pemandangan seolah Keenan ingin mencium Pedro. "Apa yang kau lakukan pada Pedro, hah!?"
Seketika khayalan Keenan buyar karena mendengar teriakan Grey. Keenan kembali berdiri dan memasang tampang biasa saja.
"Aku hanya latihan," ucap Keenan singkat.
"Latihan apa?" Grey mendekati putranya dengan gusar. "Jangan bilang sekarang kau mempunyai kelainan karena lama tidak berhubungan dengan wanita!"
"Aku masih normal, Dad!" Keenan kembali duduk di kursinya seolah tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
"Lihatlah, apapun yang kau lakukan selalu membuatku khawatir," ucap Grey gusar.
"Tenang, Dad. Aku hanya memikirkan cara untuk menambah cucu untukmu!" sahut Keenan datar.