
"Bos... Bos..." Tessa melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Keenan.
Sedetik kemudian Keenan langsung sadar dari lamunannya. Keenan mengusap wajahnya kasar, dia membayangkan bercinta dengan Tessa sambil menangis?
"Itu memalukan!?" gerutunya.
"Apanya yang memalukan?" tanya Tessa.
Keenan tidak mau menjawab, dia lebih memilih memberi hadiah utama pada Tessa. Diraihnya jemari manis gadis itu kemudian dia menyematkan cincin berlian di sana.
"Apa ini?" tanya Tessa tidak percaya.
"Itu cincin," jawab Keenan datar.
"Iya aku tahu kalau ini cincin tapi untuk apa?" tanya Tessa lebih detail.
"Aku melamarmu," jawab Keenan lagi.
"Melamar?" Tessa semakin bingung. "Kenapa tidak ada pertanyaan will you marry me?"
"Karena aku tidak menerima penolakan," jelas Keenan.
Suasana hati Keenan memburuk, seharusnya dia membayangkan adegan katak bertelur yang menjadi master piece-nya tapi kenapa justru dia jadi lelaki memalukan?
"Arrgh!" Keenan berteriak dan masuk ke dalam tenda. Dia memilih untuk tidur saja. "Besok jika suasana hatiku membaik, aku pasti akan meniduri Tessa!"
Sementara Tessa masih terdiam sambil memandangi cincin berlian di jari manisnya. Dia bingung harus bersikap seperti apa, rasanya semua begitu mendadak.
Akhirnya Tessa ikut menyusul masuk ke dalam tenda, dia membaringkan diri di samping Keenan sambil memandangi wajah lelaki yang sudah memejamkan mata itu.
"Apa kau tidak kedinginan, Bos?" gumam Tessa seraya menarik selimutnya untuk berbagi dengan Keenan.
__ADS_1
Rupanya Keenan belum sepenuhnya terlelap, lelaki itu menarik Tessa ke dalam pelukannya.
"Kita lanjutkan besok saja, suasana hatiku sedang buruk," desaahnya pelan.
"Kenapa tiba-tiba? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Tessa.
"Tidak, aku hanya membutuhkan Seksi sekarang," keluh Keenan.
"Seksi?" Tessa jadi berpikiran negative mendengarnya. "Apa-apaan ini? Kau sudah mempunyai kekasih tapi melamarku?"
Keenan jadi membuka matanya dan menahan Tessa yang ingin menjauh. "Seksi itu tidak seperti yang kau pikirkan!"
"Pasti Seksi itu wanita yang dijodohkan oleh tuan Grey, 'kan?" cecar Tessa dengan pikirannya sendiri.
"Astaga, itu adalah alat kejut yang mengeluarkan aliran listrik, Seksi menemaniku selama empat tahun ini," jelas Keenan.
"Kau menyetrum dirimu sendiri?" tanya Tessa kemudian.
"Jadi, kau menyiksa dirimu sendiri seperti itu?"
"Itu tidak ada artinya dibanding rasa sakit kehilanganmu,"
"Tapi bukankah kau mengawasiku? Kenapa tidak mendatangiku?"
"Kau terlihat bahagia dan bebas jadi aku tidak mau merusaknya,"
Tessa memeluk Keenan dengan erat, dia sekarang yakin jika Keenan benar-benar menyukainya.
"Setelah kita pergi dari pulau terpencil ini, kita akan menemui kedua orang tuaku, kita akan menikah di Pulau Borgia," jelas Keenan.
"Jadi keluargamu ada di sini?" tanya Tessa memastikan.
__ADS_1
"Ya, kami ingin merayakan ulang tahun Raphael, keluargaku dari Indo juga akan datang," jawab Keenan.
Tessa menggigit bibir bawahnya, sebenarnya mimpi apa dia semalam, kenapa semua seakan tidak nyata.
"Lebih baik kita tidur karena besok kau harus bekerja keras,"
"Bekerja keras apa?"
Keenan tidak menjawab, dia memilih memejamkan matanya sambil memeluk Tessa. Api unggun sudah mati dan hanya hawa dingin yang menyelimuti kedua anak manusia itu.
Keesokan paginya, cuaca tidak kelihatan cerah justru di pulau terpencil itu turun hujan.
"Hujan?" gumam Tessa yang baru bangun tidur. "Bagaimana caranya memasak kalau begini?"
Tessa kemudian menoleh ke arah Keenan yang masih tertidur. Dia mencoba membangunkan lelaki itu.
"Kee... Kee..." Tessa menggoyangkan tubuh Keenan.
Tapi yang bangun justru sesuatu yang lain, di tubuh bagian bawah Keenan tampak menonjol.
"Berpikirlah positive Tessa, itu adalah gejala alami di pagi hari," gumam Tessa yang tidak mau berpikiran buruk tentang Keenan.
_
_
_
_
Pasukan katak bertelur, tolong kasih tahu Tessa kalo Bangkee burungnya emang baperanš
__ADS_1