My Naughty Boss

My Naughty Boss
MNB BAB 68 - Kedinginan


__ADS_3

"Raphaelo, berhenti menangis. Mommy tidak apa-apa," bujuk Flo supaya anaknya tidak berpikir dia sakit karena dipukuli Axe.


"Mommy, Ayo kita hubungi kantor polisi saja," ucap Raphael yang tidak mau berhenti menangis.


Pupil mata Axe membesar mendengar kalimat yang Raphael lontarkan.


"Aduh, anak ini." Axe mencoba mengambil alih Raphael ke gendongannya. "Daddy itu cinta mati dengan mommy, mana mungkin daddy pukul!"


"Benarkah? Daddy tidak bohong, 'kan?" tanya Raphael.


"Tentu saja, laki-laki sejati tidak pernah berbohong," jawab Axe menggebu-gebu.


"Jadi, jangan lapor pada Grandpa-mu, nanti dia sakit kepala, kalau sampai masuk rumah sakit bagaimana?"


Raphael langsung menggeleng. "Tidak mau!"


"Karena hari ini kita tidak bisa memancing, bagaimana kalau kita bermain hujan saja?"


"Mau, mau, mau, Horeee...."


Flo tersenyum melihat suaminya bisa membujuk Raphael. Dia kemudian beralih pada Pedro dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Jadi, Keenan dan Tessa terjebak di pulau terpencil saat hujan badai begini?" tanya Flo setelah Pedro selesai bercerita.


"Seharusnya saya menjemput mereka besok, Nona. Tapi, kalau hujannya seperti ini saya takut persediaan makan cepat habis dan tendanya tidak akan cukup kuat," jelas Pedro.

__ADS_1


"Aku yakin Keenan dan Tessa pasti tidak apa-apa," sahut Flo yang berusaha setenang mungkin.


_


_


_


_


Sesuai perkiraan tenda memang tidak cukup kuat apalagi sekarang hujan disertai angin yang kencang.


"Tendanya tidak akan bertahan, bagaimana ini?" Tessa mulai panik.


Keenan memikirkan apa yang harus mereka lakukan di situasi seperti itu.


"Hutan? Itu lebih menakutkan," protes Tessa.


Tapi, memang mereka tidak punya pilihan lagi. Akhirnya Keenan dan Tessa berlari masuk ke dalam hutan karena tenda tidak kuat lagi sebagai tempat berlindung.


Beruntung ada senter di dalam tas jadi Keenan dan Tessa membawanya bersama mereka.


Mereka mencari pohon yang besar untuk tempat berteduh.


"Di sana!" tunjuk Keenan saat menemukan pohon yang dicari.

__ADS_1


Keduanya kemudian menuju pohon itu dan duduk berdua sambil berpelukan. Sumpah demi apapun, Keenan dan Tessa terlihat seperti kucing jalanan.


"Gaya kencan mu membuatku trauma, Bos. Saat keluar dari sini, aku tidak mau berkencan lagi denganmu," ungkap Tessa.


"A--apa? Kenapa jadi begitu? Kita kan mau menikah kalau kau trauma padaku, bagaimana pernikahan kita nanti? Aku mau membangun rumah tangga bukan rumah duka," bujuk Keenan sambil mengeratkan pelukannya.


Tessa diam saja tidak menjawab, pikirannya kacau karena berada di hutan yang gelap.


"Bantuan pasti segera datang, orang tuaku tidak mungkin tinggal diam," tambah Keenan.


Hawa semakin dingin, bibir Keenan dan Tessa jadi membiru.


"Apa ini memang ajalku?" gumam Keenan yang mengingat kata-kata Sebastian dan Luke. "Mereka pasti tertawa saat mendengar kabar kematianku!"


Wah, mati


Benar kan kataku, hahaha


Keenan jadi berhalusinasi membayangkan ekspresi wajah Sebastian dan Luke.


"Rasanya tidak keren mati dengan cara seperti ini? Tapi, aku akan mati dengan Tessa jadi tidak apa-apa!" Keenan semakin merancau.


"Bos, sadarlah! Kau itu bicara apa!?" Tessa jadi kesal mendengar gumaman Keenan.


"Tessa karena kita akan mati, apa kau tidak mau mengutarakan cintamu padaku?" tanya Keenan.

__ADS_1


Keenan menatap Tessa dengan sayu. Dia kemudian mencium bibir Tessa yang dingin. "I love you!"


__ADS_2