
Karena pernikahan yang serba dadakan, upacara pernikahan Keenan dan Tessa nanti hanya keluarga saja yang mendatangi.
Lagi pula acara akan lebih berkesan jika hanya orang terdekat yang hadir. Untuk acara resepsi bisa mereka lakukan saat pulang nanti.
Yang terpenting acara pemberkatan nanti semua anggota keluarga hadir.
Malam itu, Tessa tidak bisa tidur karena gelisah memikirkan pernikahannya esok hari. Rasanya masih seperti mimpi.
Tessa tidak percaya akan menjadi istri Keenan.
"Apa kata media saat tahu pernikahan kami nanti?" gumam Tessa. Dia sudah berpikiran buruk duluan.
"Pasti headline berita akan berkata seorang gelandangan sepertiku setelah bertahun-tahun hilang kemudian kembali dan menggoda bosnya,"
"Atau...."
Lamunan Tessa buyar karena pintu kamarnya tiba-tiba diketuk seseorang.
"Siapa tengah malam begini?" gumam Tessa yang sudah berdiri siap membuka pintu.
Saat pintu terbuka, tubuh Tessa langsung terdorong ke belakang. Rupanya bukan hanya Tessa yang tidak bisa tidur, calon mempelai pria juga sama.
Keenan sampai nekat menunggu tengah malam saat anggota keluarga tidur supaya dia bisa menyelinap masuk ke kamar Tessa.
__ADS_1
"Kee...," protes Tessa.
Tapi, namanya Keenan sudah kecintaan dengan Tessa jadi lelaki itu tidak menghiraukan protes calon istrinya. Justru dia memeluk Tessa dengan erat.
"Aku merindukanmu," bisiknya.
Saat Keenan ingin mencium Tessa, gadis itu menaruh jari telunjuknya pada bibir Keenan.
"Kau seharusnya tidak ke sini, mommy bisa marah," ucap Tessa.
Mendengar itu, Keenan merasa ditolak. Keenan lalu memasang wajah cool di depan Tessa supaya harga dirinya terselamatkan.
"Aku hanya ingin membicarakan sesuatu," ucap Keenan. Lelaki itu duduk di sofa kamar Tessa seraya melipat satu kakinya.
"Mengenai honeymoon, kau ingin honeymoon di sini atau negara lain? Saat kita kembali nanti, aku akan sibuk dengan urusan kantor jadi belum tentu bisa honeymoon dalam waktu dekat," jelas Keenan. Dia harus membuat rencana yang matang supaya tidak gagal lagi.
Apalagi para sepupunya meremehkan dirinya karena berani menikahi Tessa. Dia akan membuktikan jika dia bisa membangun rumah tangga dengan baik.
"Um...." Tessa tampak berpikir. "Mungkin di Pulau Borgia saja sudah cukup, yang penting kan quality time-nya!"
Keenan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kalau begitu kita hanya perlu pindah penginapan. Dan untuk tempat tinggal, saat kita kembali nanti, kita tinggal di apartemenku dulu, aku memang sudah berencana akan membangun mansion sendiri jadi kita lakukan bertahap, okay."
Saat Keenan serius pasti selalu membuat Tessa berdebar. Gadis itu meraih tangan Keenan dan mengecupnya.
__ADS_1
"Okay. Kita lakukan bertahap," ucapnya.
Keenan langsung memalingkan wajahnya untuk menghindari detak jantungnya yang tidak terkendali.
"Sebenarnya ada hal yang jauh lebih penting dari semua itu," ucap Keenan lagi.
"Apa?" tanya Tessa.
"Aku ingin tahu, kau ingin punya anak berapa?" Keenan bertanya tanpa mau memandang wajah Tessa.
"Anak? Kau sudah memikirkan sejauh itu, Bos?" Tessa rasanya tidak percaya. Menikah saja rasanya seperti mimpi apalagi mempunyai anak.
"Aku tidak mau egois karena kau yang akan mengandung nanti jika kau ingin menundanya, kita bicarakan dari sekarang," jelas Keenan.
Tessa menundukkan wajah sambil menautkan jari-jari tangannya. "Sepertinya tidak usah ditunda!"
"Berarti kau setuju kita cepat mempunyai anak?" tanya Keenan memastikan.
Tessa hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Kalau begitu, aku mau punya anak kembar laki-laki dan perempuan jadi satu pasang," sambung Keenan.
"Kembar?" tanya Tessa. "Apa kita harus program?"
__ADS_1
Keenan menggeleng. "Tidak perlu, aku hanya butuh belajar dari Opa. Dia berpengalaman membuat anak kembar!"