
"Wahhhh..." Raphael merasa kagum melihat pemandangan pulau Borgia dari jendela pesawat saat pesawat yang bocah kecil itu tumpangi akan mendarat.
Raphael duduk di pangkuan Axe di dekat jendela pesawat.
"Apa nanti kita akan memancing ikan, Dad?" tanya Raphael.
"Apa kau mau, Boy? Kita bisa ikut para nelayan kalau perlu," sahut Axe.
Flo yang mendengar itu langsung menyenggol lengan Axe. "Jangan bawa putraku ke lautan, kita ke sini kan mau merayakan ulang tahun Raphael!"
"Sini sama mommy, kau tidak mau tidur dari tadi." Flo mengambil alih Raphael ke pelukannya.
"Kita mendarat, darling. Tidurkan Raphael di penginapan saja tapi di kamar papa mertua," ucap Axe yang mempunyai maksud tersembunyi.
Saat pesawat benar-benar mendarat, satu persatu penumpang dari kelas bisnis turun. Tapi Keenan masih tampak duduk di kursinya sepenjang perjalanan lelaki itu juga hanya diam.
"Bos, kita sudah sampai. Semua sudah menunggu, mobil jemputan juga sudah sampai," ucap Pedro.
Keenan diam dan sedetik kemudian, lelaki itu berdiri sambil memakai kaca mata hitamnya.
"Sebenarnya bosmu kenapa?" tanya Axe yang keheranan. Dia sudah terbiasa dengan sikap dingin adik iparnya tapi kali ini tampak berbeda. "Apa dia menghemat kotak suaranya?"
"Kotak suara?" tanya Pedro tidak mengerti.
"Seumur hidupku, aku tidak pernah menonton kartun tapi semenjak ada Raphaelo, aku sering melihat animasi itu, salah satunya yang bentuknya kotak kuning," jelas Axe.
"Maksudnya Spongebob?" tanya Pedro memastikan.
__ADS_1
"Nah, itu! Ada suatu adegan di sana yang menyebutkan kotak suara," jelas Axe lagi.
"Tuan, Spongebob hanya kartun fiksi jadi jangan percaya," sahut Pedro dengan gelengan kepala.
_
_
_
_
"Ayo kita ke kamar, Honey," ajak Grey sambil menggendong Raphael yang tertidur.
Mereka sudah sampai di penginapan yang sudah dipesan sebelumnya.
"Mereka mencuri kesempatan untuk pergi berdua," sahut Grey sambil merangkul Silver.
"Bukankah mereka ikut bersama Keenan memeriksa store parfum? Biarkan saja mereka mengabiskan waktu berdua tanpa anak,"
"Aku jadi mengingat saat kita masih muda. Kau sudah mengundang semua keluarga di Indo kan, Honey?"
"Tentu saja tapi mungkin tidak akan datang bersamaan, kau tahu sendiri jumlah mereka yang banyak,"
"Kapten tidak akan benisiatif melakukan pelayaran dengan membawa Raphael, 'kan?"
"Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Raphael kan mempunyai darah campuran antara mafia dan bajak laut!"
"Grey..."
Mereka kemudian tertawa bersama sampai bayangan mereka hilang karena memasuki lorong penginapan.
Sementara Keenan terus saja diam, dia tengah memeriksa pusat perbelanjaan bersama Pedro. Dia tengah melakukan rapat kecil dengan manager tempat itu.
"Jadi, bagaimana, Bos?" tanya sang manager.
Keenan hanya mengangguk dan mengacungkan ibu jarinya. Dia ingin urusannya cepat selesai.
"Baiklah, kami akan mengurus para pemenang dan Kim Jong Doo sesuai agenda,"
Setelah semua urusan selesai, Keenan memberi kode pada Pedro untuk segera pergi meninggalkan pusat perbelanjaan.
"Kita akan meninggalkan tuan Axe dan nona Flo, Bos?"
Lagi-lagi Keenan tidak menjawab yang membuat Pedro jadi kebingungan.
Mereka masuk ke dalam mobil tapi bukannya kembali ke penginapan, Keenan justru memerintahkan supir menuju penginapan Tessa berada.
"Sekarang apa lagi, Bos?"
"Diamlah!" Keenan akhirnya membuka suara. "Kita akan mengintip Tessa sebentar!"
"Padahal besok kau bisa melihatnya sampai puas Bos, tidak perlu mengintip!"
__ADS_1