
Beberapa kali Tessa memanggil Keenan tapi lelaki itu tidak muncul justru lampu di lantai atas mati semua.
Keadaan jadi gelap gulita dan beberapa detik kemudian ada beberapa drone terbang mengelilingi Tessa untuk memberikan cahaya warna-warni.
Pasti lagi-lagi Keenan meminta bantuan pada Red.
"Kee..." panggil Tessa lagi.
Tiba-tiba perut Tessa disentuh tangan dari belakang otomatis Tessa mencengkram tangan itu supaya tidak bisa pergi.
Tessa membalik badannya. "Kena kau!"
"Ini bukan permainan petak umpet, bodoh!" balas Keenan yang memunculkan dirinya.
"Lalu permainan apa lagi ini?" tanya Tessa seraya mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh lelaki itu.
"Bukan apa-apa, hanya gelap-gelapan biasa. Kalau terang, kau tahu sendiri reaksi tubuhku ini seperti apa," kesal Keenan jika mengingat tubuhnya yang rusak.
"Jadi gelap-gelapan adalah solusinya?" tanya Tessa sambil tertawa karena Keenan yang berusaha mengontrol tubuhnya sendiri.
"Sejauh ini, solusinya adalah gelap. Jadi..." Keenan mencium bibir Tessa kemudian mendorong tubuh ramping itu untuk merapat ke dinding. "Bagaimana jika kita melakukannya sekarang? Aku sudah tidak tahan lagi!"
"Untuk sementara tubuhku baik-baik saja jadi ayo cepat lakukan Tessa!"
__ADS_1
Tessa menggigit bibir bawahnya, dia jadi bingung sendiri. Kalau laki-laki sudah horny pasti dia akan melakukan apapun supaya hasratnya bisa terpenuhi.
"Lakukan pelan-pelan," ucap Tessa kemudian.
Keenan berseringai, dia mencium Tessa lagi dengan satu tangan yang menaikkan satu kaki gadis itu. Dia tidak menyadari jika drone-drone yang mengelilingi mereka ada kameranya.
"Kee, ternyata nekat!"
"Ayo panggil bantuan!"
Saat Keenan membuka celananya, lampu di lantai atas tiba-tiba menyala.
Silver, Bianca dan Kate sudah berada di sana dengan mengacak pinggang mereka.
"Mom... kau membuatku malu!" protes Keenan.
Bianca dan Kate mencoba membantu Tessa memperbaiki penampilannya.
"Aduh, dulu aku suka jika cucuku berbuat nakal tapi karena aku sudah tua jadi hidupku sekarang mau yang tenang-tenang saja," ucap Kate.
"Akhirnya kau sadar juga," balas Bianca dengan kekehan.
Semenjak hari itu, semuanya sepakat memisahkan Keenan dan Tessa sampai hari pernikahan mereka untuk menghindari Keenan yang berbuat mesum sebelum waktunya.
__ADS_1
Para wanita membawa Tessa untuk mencoba baju pengantin yang Kate bawa sebelumnya.
"Sorry jika baju pengantinnya kurang maksimal karena pernikahan ini terlalu mendadak," ucap Kate yang membantu Tessa memakai gaun itu.
"Kurang maksimal? ini sungguh cantik, Nyonya," balas Tessa.
Gaun itu berwarna putih cerah dengan taburan batu-batu kecil seperti diamond di bagian dadanya. Cukup simple dan elegan menurut Tessa.
"Haish, sudah beberapa kali aku bilang, jangan panggil nyonya, kau bagian dari keluarga ini sekarang," ucap Kate lagi.
"Iya, panggil aku Oma seperti yang lain," timpal Bianca.
Silver mendekat dan memasangkan kalung berlian di leher Tessa. "Aku sudah lama memiliki kalung ini, kalung yang ingin aku berikan pada menantu perempuanku nanti. Dan ternyata kau lah orangnya Tessa!"
Air mata Tessa tidak terbendung lagi, gadis itu menangis sejadi-jadinya.
"Tessa, kenapa menangis?"
Semua orang jadi panik melihat Tessa yang seperti itu.
Tessa menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa, aku hanya terharu. Selama ini aku selalu sendirian sampai aku lupa rasanya memiliki keluarga!"
Semuanya langsung memeluk gadis itu bersamaan.
__ADS_1
"Sekarang kau tidak sendiri lagi, we are your family!"