
"Bos Keenan sangat sibuk dan tidak bisa diganggu," ucap Pedro sesuai dengan perintah Keenan.
Mendengar itu, tentu saja Tessa menjadi gusar. Dia sudah menurunkan egonya sekarang justru Keenan menolaknya.
"Aku tidak peduli, aku ingin bertemu dengan suamiku!" Tessa mematikan panggilan dan nekat naik ke lantai atas di mana ruangan Keenan berada.
Saat sampai, Tessa langsung membuka pintu ruangan Keenan tanpa mengetuk pintu. Dan benar saja, dia mendapati suaminya yang tengah berkutat di layar komputernya.
"Kau pura-pura sibuk, 'kan?" tuduh Tessa.
Kemudian Tessa menggelengkan kepalanya, dia sudah berniat tidak akan main tuduh Keenan lagi.
Jadi, Tessa mendekat ke meja suaminya dan berusaha membuat hubungan mereka membaik.
"Apa kau sudah makan siang, Kee? Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" bujuk Tessa.
Keenan menahan senyumnya, dengan wajah datar, dia melihat jam tangannya.
"Kau sangat beruntung, aku mempunyai waktu dua jam," sahut Keenan dengan arogan.
__ADS_1
"Itu sangat cukup, aku merasa beruntung bisa makan siang dengan suamiku," ucap Tessa menahan kekesalan.
"Baiklah, kalau kau memaksa!" Keenan mematikan komputernya lalu berdiri dari kursinya.
Tanpa banyak kata, Keenan mengambil jas dan memakainya.
Mereka makan siang di kantin yang berada di perusahaan atas kemauan Keenan.
"Bisa kita makan di tempat lain saja?" tanya Tessa yang merasa tidak nyaman. Semua karyawan memperhatikan mereka sekarang.
Bagi karyawan lama memberi respon biasa saja apalagi mereka mengenal Tessa tapi bagi karyawan baru menanggapi lain. Mereka pasti mengira jika Tessa yang mengejar-ngejar Keenan.
"Makanan di kantin rasanya lumayan kalau pindah tempat akan membuang waktu, apa kau mau menyia-nyiakan waktu bertemu denganku?" tanya Keenan begitu pongah.
"Memangnya kalau kau tidak tertidur, apa yang mau kau lakukan?" pancing Keenan.
Tessa rasanya ingin menumpahkan makanan yang ada di depannya tapi lagi-lagi dia harus menahan diri untuk sabar.
"Tentu saja melayani suamiku, kau tidak memberiku kesempatan untuk menyiapkan baju kantormu, sarapan atau makan siang seperti sekarang," jelas Tessa.
__ADS_1
"Bukankah kau yang menghukumku, aku menerima hukumannya, seharusnya kau senang," balas Keenan yang membuat Tessa langsung tidak bernafsu makan.
Bukan itu yang dia mau tapi kenapa Keenan tidak mengerti.
"A--aku, aku mencabut hukumannya," ucap Tessa tertunduk karena tidak mau menatap suaminya. "Kau boleh memproduksi Keesa lagi!"
Keenan terkekeh. "Jadi, kau merindukan pedang panjangku? Aku tahu itu!"
Wajah Tessa seketika langsung merona, dia tidak memungkiri jika merindukan percintaan panas mereka. Dia ingin Keenan yang mendorongnya dan membisikkan kata cinta seperti biasanya.
"Ayo kita lakukan, aku masih mempunyai waktu, 'kan?" ajak Tessa sambil menutup wajahnya dengan tangan karena malu.
"Kau ingin melakukannya di kantin?" Keenan semakin menggoda Tessa.
"Ah, sudahlah!" Tessa akhirnya berdiri, dia ingin pergi saja. Keenan memang menyebalkan sekali.
Saat dia berdiri dan ingin menjauh, tangan Tessa dicekal oleh Keenan begitu saja.
Keenan membawa Tessa untuk masuk ke dalam lift khusus yang biasa dia gunakan bersama Grey.
__ADS_1
"Sekarang mintalah dengan benar," ucap Keenan saat pintu lift sudah tertutup. Keenan memundurkan badannya dengan kedua tangan yang terlipat di dada.
"Bujuklah aku supaya mau mengeluarkan Keesa!"