My Naughty Boss

My Naughty Boss
MNB BAB 55 - Penyesalan


__ADS_3

Di mansion Grey tampak ramai karena semua anggota keluarga berkumpul. Mereka bersiap akan melakukan perjalanan ke Pulau Borgia. Raphael berlarian sambil membawa cokelat cair dan tumpah kemana-mana.


Bahkan Raphael sengaja membuang cokelatnya ke kolam renang.


"Raphaelo!" tegur Axe yang melihat putranya begitu nakal.


Axe melihat cokelat yang dibuang Raphael di kolam renang. "Untung bukan ayam yang dibuang di kolam kalau ayam pasti akan berminyak dan penuh bumbu!"


"Jadi aku boleh membuang apapun kecuali ayam, Dad?" tanya Raphael.


"Jangan! Nanti grandpa pingsan, kita kabur saja," sahut Axe seraya menggendong Raphael menjauh dari kolam renang.


Axe pikir dia aman padahal Grey memperhatikan tingkah menantu dan cucunya.


"Jangan marah, nanti darah tinggimu naik. Biar aku yang mengurusnya," bujuk Silver pada suaminya.


Grey menghembuskan nafasnya kasar, dia lebih memilih memaklumi menantu yang berjiwa mafia itu, semoga Raphael tidak bercita-cita melakukan kejahatan di muka bumi.


"Walaupun begitu, Axe bertanggung jawab pada keluarganya, lebih baik kau memikirkan anak laki-lakimu," tambah Silver.


"Aku selalu memikirkan begundal itu, sepertinya kalau dia belum menikah, aku tidak akan tenang," sahut Grey sambil memijit pelipisnya. "Di mana dia sekarang?"


"Ada di taman belakang, dia sedang melakukan yoga," jelas Silver.

__ADS_1


"Yoga? Tidak biasanya,"


"Katanya butuh ketenangan jiwa,"


"Astaga, sepertinya benar kata Sebastian dan Luke, ajalnya sebentar lagi tiba,"


_


_


_


_


Sementara Tessa yang berada di Pulau Borgia begitu menikmati waktunya, dia benar-benar melakukan perawatan, spa, sauna, jalan-jalan dan kuliner.


Tessa membeli makanan itu dan memakannya sambil berdiri di depan outletnya.


"Tessa..." panggil seseorang.


Tessa menoleh dan matanya tampak berbinar karena melihat Kevin juga ada di sana.


"Kevin!" pekiknya. Tessa berlari dan spontan memeluk lelaki itu. "Lama sekali kita tidak bertemu!"

__ADS_1


"Kau juga ada di sini? Aku sedang bernostalgia, kebetulan sekali bertemu denganmu," sahut Kevin.


Tessa melepas pelukannya sembari menatap Kevin. "Kau tidak berubah hanya bertambah tua!"


"Kau semakin dewasa dan cantik, Tessa," puji Kevin.


Tiba-tiba dari arah belakang terdengar deheman yang kuat. Dari suaranya, suara perempuan.


"Aku merasa tidak dianggap di sini," ucapnya.


"Bella? Kau juga ada di sini?" Tessa tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Iya, aku dan Kevin menjalin hubungan setelah kepulangan kami dari pulau ini. Kami sedang bernostalgia dan Kevin baru saja melamarku," jelas Bella seraya menunjukkan cincin dari jari manisnya.


"Benarkah? Selamat untuk kalian, aku tidak menyangka kalian akan menjadi suami istri," sahut Tessa.


"Secara tidak langsung kau dan Keenan yang menjodohkan kami," ucap Kevin kemudian.


"Ngomong-ngomong, bagaimana hubunganmu dengan Keenan? Apa kalian tidak pernah berkomunikasi sama sekali?"


Tessa hanya membalas pertanyaan Kevin dengan senyuman dan hal itu cukup memberi jawaban.


"Hari itu, Keenan datang padaku dan mencoba mencarimu, dia seperti orang gila bahkan dia sampai nekat ingin mencelakakan dirinya sendiri. Keenan sangat menyukaimu Tessa," jelas Kevin.

__ADS_1


Bella yang merasa bersalah meraih tangan Tessa dan mencoba meminta maaf pada gadis itu. "Apa kau pergi karena terprovokasi dengan perkataanku?"


"Maafkan aku, Tessa. Waktu itu aku masih belum dewasa dan hanya memikirkan diriku sendiri. Aku sangat menyesal," ucap Bella tulus.


__ADS_2