
Hari berlalu begitu cepat, Tessa sekarang sibuk mengurus pembangunan rumah dan terapi pengobatan untuk penyakitnya.
Sementara Keenan semakin sibuk dengan perusahaan bahkan tak jarang Keenan harus melakukan perjalanan bisnis untuk mengecek anak-anak perusahaan. Dan juga melakukan kerja sama yang menguntungkan.
"Sudah tiga bulan bukan?" gumam Tessa di ruang tunggu rumah sakit.
Hari ini waktunya untuk check up setelah tiga bulan Tessa menjalani terapi dan minum obat-obatan rutin setiap hari.
Tessa juga datang sendiri saja tanpa ditemani kakak ipar atau mertuanya seperti biasa.
"Tenang Tessa, semua akan baik-baik saja!" Tessa berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Sampai akhirnya namanya dipanggil dan Tessa melakukan pengecekan kembali.
"Bisakah hasilnya nanti dikirim lewat pesan saja? Saya mau menjemput suami saya di bandara," ucap Tessa saat selesai melakukan tes.
"Bisa, Nyonya," jawab perawat yang bertanggung jawab. "Hasilnya akan diperiksa dokter terlebih dahulu setelah itu kami bisa mengirimnya pada Nyonya!"
"Terima kasih," balas Tessa.
Waktu bertepatan dengan Keenan yang kembali dari luar negara, Tessa sudah berjanji akan menjemput suaminya hari ini.
Sepanjang perjalanan ke bandara tidak ada kemacetan jadi Tessa sampai tepat waktu saat pesawat yang ditumpangi Keenan mendarat.
__ADS_1
"Kee..." Tessa berlari ke arah suaminya ketika melihat lelaki itu keluar dari pintu kepulangan.
Keenan menyambut istrinya yang meloncatkan badan ke arahnya. Dia dengan sigap menangkap tubuh Tessa dan memeluknya serta memutar tubuh kurus itu.
"Aku merindukanmu," ucap Tessa seraya mencium suaminya.
Keduanya berciuman yang membuat Pedro langsung memalingkan wajah.
"Haist, nasib perjaka tua!" kesal Pedro pada dirinya sendiri. Tapi, dia harus tetap bersikap profesional.
"Ehem!" Pedro berdehem. "Bos, sepertinya sudah cukup! Bisa dilanjut lagi di mobil!"
Keenan dan Tessa segera melepas ciuman mereka, memang benar kata orang ketika jatuh cinta dunia serasa milik berdua.
"Kau yang menyetir, Ped!" Tessa melempar kunci mobil pada Pedro.
Di apartemen, Keenan dan Tessa kembali bercumbu saat pintu sudah tertutup bahkan saat Pedro berpamitan pulang, mereka seakan tidak mendengar.
"Kau sudah makan?" tanya Tessa saat mereka melepas ciuman mereka sejenak.
"Aku ingin memakanmu!" Keenan menjawab seraya menggendong istrinya ke pantry dapur dan menurunkan tubuh ramping itu di sana.
Keenan melakukan apapun yang dia mau sampai membuat Tessa terus mendesaah tak karuan. Saat waktunya tiba, Keenan mencari persediaan pengamannya dan langsung memasangnya perlahan.
__ADS_1
"Kee..." Tessa mencengkram lengan Keenan saat raga kekar itu mendorong miliknya masuk ke dalam tubuhnya.
Rasanya penuh dan sesak seperti biasanya, apalagi saat Keenan bergerak, Tessa hanya bisa mengangakan mulutnya tanpa henti.
"Kita pindah sayang!" ajak Keenan yang menggendong tubuh istrinya ke sofa kemudian membalik tubuh Tessa yang membuat perempuan itu mencengkram pinggiran sofa.
Percintaan di ruang tamu itu terasa semakin panas sampai keduanya merasa terganggu karena ponsel Tessa yang terus berdering.
"Aku ingin melihat panggilan itu, siapa tahu penting," ucap Tessa berusaha menghentikan suaminya yang terus bergerak.
Keenan akhirnya berhenti dan membiarkan Tessa menerima panggilan.
"Halo?" Tessa menjawab panggilan yang ternyata dari pihak rumah sakit. Tessa mendengarkan seksama penjelasan dari perawat yang membacakan hasil tes Tessa sebelumnya.
"Ja--jadi saya sudah bisa program hamil?" tanya Tessa memastikan, air matanya sudah menetes saat perawat menjelaskan parasit di tubuhnya tidak aktif lagi.
"Iya Nyonya tapi harap terus konsultasi pada kami saat mengalami keluhan apapun itu,"
"Terima kasih,"
Tessa refleks berlari ke arah suaminya dan memeluk Keenan yang di mana mereka masih dalam keadaan polos tanpa busana.
"Kita tidak perlu menggunakan ini lagi!" Tessa melepas pengaman yang dipakai suaminya.
__ADS_1
"Jadi, kita bisa membuka pabrik bayi kita lagi?" tanya Keenan ikut terharu.
"Iya, kita bisa mengeluarkan banyak Keesa sekarang,"