MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
DEMI KAMU


__ADS_3

Seorang Kapten muda berperawakan tinggi dan tegap berdiri dengan wajah cemas, otak cerdasnya berputar, mengaitkan satu per satu informasi dari kejadian dan peristiwa yang di dapatkannya dari berandal desa bernama Marfandi.


“Anak Juragan Plenggo Hadi?” Kapten Biru memantapkan rencananya dan mulai melangkah memasuki teras depan rumah orang terkaya di desa ini.


Tak lama laki-laki berkumis tebal dengan topi fedora menghias kepalanya yang tertutup penuh oleh rambut berwarna putih itu datang.


Dua lelaki berbadan kekar dan berotot berdiri di belakangnya sebagai bodyguard sejati yang selalu setia mengiringi tuannya.


“Ada perlu apa, Pak Tentara?” Senyumnya tampak kurang bersahabat.


“Saya cari Bono, Apa ada di rumah, Pak?” tanya Kapten Biru berusaha meredam emosi yang bergejolak di dalam dadanya.


“Anda siapa?”


“Saya teman Bono dari kota, saya memiliki sesuatu untuk Bapak. Bapak pasti Juragan Plenggo yang kaya raya itu kan? Orang yang paling ditakuti dan disegani seluruh kampung? Ayah dari Bono, pria tampan yang digilai banyak wanita.” Kapten Biru mulai menjalankan tak-tiknya.


Sebelumnya Kapten muda itu memang telah mengorek banyak keterangan tentang Jurangan plenggo yang hobi menjalankan bisnis ilegal dengan berkedok membuka usaha penggilingan padi dan penyewaan tanah serta alat pertanian. Namun, di balik sifat kasarnya, Juragan Plenggo juga memiliki banyak kelemahan sebagai manusia biasa.


Laki-laki berwajah bundar ini paling mudah dirayu, ia tak tahan jika diberi pujian. Sifat sombong membuatnya haus akan sanjungan. Setiap ada orang yang mampu mengambil hatinya maka ia tak kan pernah segan-segan mengeluarkan berlembar-lembar uang merah dalam koceknya. Bahkan jika ada orang yang mampu membuatnya tersentuh, kabarnya ia akan mengabulkan semua keinginan orang tersebut.


Satu hal lagi, Juragan Plenggo selalu bermata hijau jika sudah melihat batu akik yang unik dan langka. Maka tak heran jari-jari tangannya dilingkari tiga buah cincin batu besar dengan liukan ukiran yang indah dan taburan permata yang berkilau-kilau.


“Oh teman Bono. Mari masuk!” senyumnya mulai melebar.


“Terima kasih.” Kapten Biru masuk ke teras rumah Juragan Plenggo bagian dalam dan mengambil posisi duduk di sebuah kursi jati berukiran jepara dengan busa yang sangat empuk.


“Wah keren sekali rumah Bono. Senangnya bisa memiliki orang tua sekaya Juragan Plenggo ini.” Kapten Biru pura-pura takjub.


Ekspresi wajah Pak Plenggo terlihat mencair seketika saat dipuji tentang kekayaannya.


“Ah, Nak Tentara bisa saja. Siapa namanya?”


“Panggil saja saya Kapten Biru, Pak.”


“Oh ya, nama yang bagus. Tapi Nak Biru juga gak kalah keren, ganteng lagi.” Pak Plenggo mencoba memuji balik tamunya.


“Ah masih keren Bono kok, Pak. Banyakkan dia fansnya. Sekarang saya jadi tahu ternyata ketampanan Bono turun dari bapak.” Wajah Pak Plenggo memerah persis kepiting rebus yang menguap-uap. Ukuran hidungnya tampak lebih besar dari biasanya.


“Hahaha.” Pak Plenggo mengipas-ngipas wajahnya dengan telapak tangan kanan.


“Dimana saya bisa bertemu Bono, Pak? Sudah jauh-jauh saya datang kemari sayang sekali kalau tidak ketemu dengan dia.”

__ADS_1


“Saya ini juga ndak tahu ya. Bocah nakal itu dari tadi pagi sudah gak kelihatan di rumah.”


“Biasanya kemana, Pak?”


“Ah biasanya ya muterin kampung tok, nyari perempuan cantik, sudah gitu ya pulang. Gak pernah lama. Tapi hari ini kok sudah gelap gak juga pulang.”


Pengawal Pak Plenggo yang sejak tadi berdiri mematung di sebelah kiri Pak Plenggo membisikkan sesuatu ke telinga laki-laki tua itu.


“Apa? Hah gak ada kapok-kapoknya anak itu!”


“Ada apa, Pak?” Kapten Biru sepertinya sudah mulai kehabisan kesabaran, yang ada di otak laki-laki tampan itu saat ini adalah keadaan Dokter Rengganis. Ia tak ingin sesuatu yang buruk kepada wanitanya itu.


“Ah tidak ada apa-apa.” Pak Plenggo seperti sedang menutup-nutupi sesuatu.


“Oh ini yang saya bilang tadi. Oleh-oleh buat Juragan. Maaf kalau tidak terlalu mahal. Saya hanya mampu memberi salam perkenalan sebatas itu.” Kapten biru memberikan sebuah cincin dengan batu akik topaz cantik berwarna biru berkilau.


“Waw.” Mata Juragan Plenggo langsung melotot melihatnya.


“Kamu dapat dari mana batu ini, Nak Biru?”


“Saya dapat dari salah seorang kolega di Srilangka. Ini batu terbaik yang sudah berumur ratusan tahun.”


“Ah saya tahu, saya tahu.” Pak Plenggo tampak fokus mengamati cincin barunya dengan kaca pembesar berukuran mini yang selalu disimpan di saku jaket. Matanya begitu takjub hingga tak bisa berpaling lagi.


Pak Plenggo memberi isyarat agar laki-laki bertubuh kekar itu menunduk mendekatkan telinganya ke mulut Pak Plenggo. Ia tampak membisikkan sesuatu kepada laki-laki itu.


“Silakan ikut, Domik.” Pak Plenggo menunjuk laki-laki yang tadi berbisik padanya.


Kapten Biru segera berdiri. Dia melangkah keluar mengikuti laki-laki bertubuh kekar itu dengan tak sabar.


“Ikut aku!” Laki-laki itu memberi perintah.


Kapten Biru naik ke atas boncengan motor yang dikendarai si Domik, nama yang lucu. Ya, seluruh pengawal pribadi Juragan Plenggo diberi nama khusus oleh majikannya itu. Hal itu dimaksudkan untuk menutupi jati diri mereka yang sebenarnya.


Motor besar itu berjalan melaju memecah sepinya jalan berbatu. Adzan magrib tak terdengar dari jalur yang mereka ambil. Sepertinya tempat yang mereka tuju benar-benar jauh dari perkampungan warga.


Lama berjalan di pinggiran hutan kecil dan perkebunan tak lama mereka sampai di sebuah vila yang terletak di atas sebuah perbukitan. Penjaga gerbang vila membuka pintu saat melihat pengendara motor yang datang adalah Domik.


Laki-laki yang memboncengi Kapten Biru memarkirkan motornya di halaman yang luas itu.


“Ayo!” Ajak Domik kepada Kapten Biru yang terlihat sedang mengamati keadaan sekeliling.

__ADS_1


Mereka berdua bergegas masuk ke dalam Vila. Seorang laki-laki memanggil Domik dan mengajaknya berbincang sesaat. Wajah mereka tampak tegang.


“Baiklah aku akan mencarinya, kau antarkan Kapten ini menemui Den Bono. Dia temannya dari kota.”


Brandox menyipitkan mata, seolah-olah tak percaya bahwa majikannya memiliki teman seorang tentara. Ia diam tak bergerak meski telah mendapat perintah dari Domik.


“Ini perintah Juragan!” suara Domik menekan.


Laki-laki bernama Brandox itu mau tak mau mengikuti apa yang diperintahkan Domik. Kapten Biru mengikuti langkah laki-laki itu dari belakang. Tubuhnya tetap dalam posisi berjaga. Ia siap menyerang juga siap menghadapi serangan yang akan datang padanya.


Kapten Biru dibawa ke sebuah ruangan yang luas. Terlihat dari barang-barang yang ada di sana, ruang itu adalah ruang tengah vila besar dan mewah ini. Seorang lelaki tinggi berkulit hitam manis berdiri menjambak rambutnya sendiri.


“Bodoh.” Tangannya meninju angin. Tubuh kurusnya memutar saat mendengar langkah kaki Brandox dan Kapten Biru.


“Sudah kamu temukan dia?” tanya Bono dengan kasar.


“Belum, Den. Domik dan yang lain sedang mencari. Mereka yang lebih paham area sini.”


“Bodoh-bodoh-bodooooh kalian semua. Mencari satu orang perempuan lemah saja kalian tak becus. Lalu kenapa kamu kembali?” Mata Bono menangkap bayangan lain di belakang Brandox. Pria tampan berseragam loreng lengkap.


“Siapa dia? Kenapa kau bawa ke sini?” Bandox dan Bono tampak sama-sama terkejut.


Bono terkejut melihat ada seorang tentara datang ke vilanya, sementara Brandox terkejut saat tahu bahwa Bono tak mengenali pria berseragam loreng yang tadi mengaku sebagai temannya.


Sementara Bersamaan dengan itu pula terdengar bunyi siulan yang sangat keras.


Kapten Biru melepaskan tendangan sapuannya ke tubuh Brandox.


Laki-laki itu tersungkur, namun, segera berjingkat bangun. Sementara Bono berlari ke sudut rumah menghindari pertarungan yang terjadi.


Beberapa kali laki-laki kekar bertato itu melepaskan pukulan mematikannya ke arah Kapten Biru, namun, mampu dilumpuhkan pria muda pemegang sabuk hitam karateka itu dengan sangat mudah.


“Prak.” Kapten Biru berhasil mematahkan tangan laki-laki kekar itu pada menit kesekian. Lolongan panjang keluar dari mulut Brandox, sakit yang teramat sangat dirasakannya saat tulang sendinya patah.


“Duk.” Pukulan keras terakhir kembali bersarang di perut Brandox, laki-laki itu rubuh seketika. Matanya terpejam, ia pingsan.


Bono semakin beringsut ke tepi dinding. Mulutnya tak henti-henti berteriak meminta bantuan.


“Bilo, Marta, Well, Daka. Mulut Bono berteriak memanggil semua nama yang diingatnya, namun, tak ada satu pun dari mereka yang datang mendekat.


Apa yang terjadi selanjutnya di vila?

__ADS_1


Kita tunggu kisahnya di episode mendatang!


Jangan bosan, selalu nantikan kisah My Possessive Kapten!


__ADS_2