
“Mana Rengganis, Mi?” tanya Papi yang baru saja sampai di depan pintu rumah.
Laki-laki paruh baya yang masih penuh dengan pesona tampan di wajahnya itu segera pulang dari kantor setelah selesai meeting dengan kliennya, saat mendengar putri kesayangannya ada di rumah.
“Tuh di taman belakang, masih ngambek,” seru Mami dengan bibir bersungut-sungut.
“Mami, anak baru pulang juga sudah diomelin.” Papi melangkah meninggalkan Mami yang telah mengambil alih jas serta tas kerja suaminya.
“Mami lagi deh yang disalahin.’” Mami melangkah masuk ke kamar untuk meletakkan tas Papi yang kini dijinjingnya.
Bintang bertebaran di langit hitam yang luas, dalam taman bunga yang cukup besar di bagian belakang rumah milik keluarga Brata, Rengganis, sang pewaris tunggal, sedang duduk termenung di sisi kolam dengan air berwarna jernih sehingga ikan-ikan koi berwarna-warni yang sedang asik berlompatan seolah sedang memamerkan kebolehannya pada gadis berhidung mancung yang wajahnya masih terlipat kesal itu terlihat sangat jelas.
Sesekali helaan napas pendek keluar dari hidung mancung itu. Perasaannya yang bercampur aduk belakangan ini sukses membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak di setiap malam.
“Sedang apa, Nak?” suara Papi memecah keheningan taman belakang.
“Papi!” Rengganis berdiri menyongsong kedatangan Papi lalu memeluknya dengan erat, mencoba melebur semua perasaan yang tak tentu arah itu dalam dekapan hangat Sang Ayah yang sejak dulu selalu ada setiap saat untuk membelanya.
“Apa kabar?” tanya Papi sambil mengusap lembut rambut putri semata wayangnya itu.
“Sehat, Pi,” jawab Rengganis pendek.
“Tapi kok sepertinya sedang murung gitu?”
“Em gak papa, beneran gak apa-apa.”
Rengganis melepaskan lingkaran tangannya pada perut Papi dan bergerak menuju gazebo cantik yang berada di tengah kolam ikan dengan airnya yang terdapat pantulan bentuk wajah bulan malam itu.
Papi menyusul Rengganis yang telah mengambil posisi duduk diam dalam gazebo. Kepalanya bersandar pada sebuah tiang penyangga yang berukuran besar. Matanya yang indah tak lepas memandang pada seekor ikan koi yang sedang berkecimpung menggerak-gerakkan ekor belakangnya.
“Ceritakan pada Papi, Nak!” ujar Papi. Seperti biasa, laki-laki bijaksana yang rambutnya tak pernah lupa untuk disemir hitam itu sangat memahami perasaan putrinya.
“Pi, boleh Rengganis melanjutkan pendidikan Rengganis?” tanya gadis bermata bundar itu ragu-ragu.
“Dengar, Nak. Apa pun yang menjadi keputusan Rengganis, Papi akan dukung.” Papi mengangguk pasti. Mencoba memberi kekuatan pada putrinya lewat anggukkannya.
“Rengganis mau melanjutkan pendidikan profesi kedokteran Rengganis, Pi.”
“Bagus itu, Papi setuju.”
“Mau dimana? UI, UGM?” tanya Papi pura-pura tidak tahu, padahal siang tadi, Mami telah menceritakan semua yang dibicarakan Rengganis dan Nenek pada Papi melalui telepon.
“Rengganis akan coba mendaftar ke Seoul National University, Pi. Doain biar bisa diterima ya.” Gadis berkulit putih itu mengerjap-ngerjapkan mata indahnya beberapa kali
“Iya, Sayang. Papi pasti doakan. Papi dukung 100%.”
“Mami juga dukung 100%.”
__ADS_1
“Nenek juga.”
Mami dan Nenek tiba-tiba muncul dari pintu ruang belakang yang langsung menghubungkan dapur terbuka mereka ke taman keluarga yang terawat dengan sangat cantik itu.
Bunga-bunga yang sedang bermekaran di taman itu seakan tak akan kalah cantiknya dengan bunga-bunga yang berada di Taman Bunga Nusantara di Cianjur atau Taman Bunga Bogor. Belum lagi bentangan rumput hijau basah seolah permadani indah yang terpapar luas.
Beberapa kandang burung berukuran raksasa berbaris rapi. Lovebird, Parkit, Cockatiel, Pacific Parrotlet, dan burung cendet mengisi sangkar-sangkar emas yang terbuat dari ukiran besi yang indah. Mereka akan selalu beradu bunyi saat pagi menjelang. Suasana yang selalu dirindukan Rengganis saat jauh dari rumah.
“Mami, Nenek.” Rengganis membentangkan kedua tangannya menyambut wanita-wanita terbaik dalam ada dalam hidupnya untuk bergabung dengan mereka.
“Maafkan, Mami ya, Sayang.” Mami mencium kepala anak gadisnya.
“Maafkan Rengganis juga ya, Mi, terlalu sensi sama Mami tadi siang.” Rengganis mencium telepak tangan wanita yang telah melahirkannya dengan takzim.
“ Tidak, Nak, Mami yang salah.”
“Sudah-sudah, jangan salah-salahan lagi. Hahaha.” Papi memutus kekakuan diantara mereka.
“Jadi, apa yang harus kami lakukan untuk membantumu, Nak?” tanya Papi.
“Besok Rengganis mau kekedutaan Korea, Pi. Rengganis dengar sebentar lagi ada seleksi dari Kedubes Korsel,” jawab Rengganis mantap.
“Perlu Papi temani?”
“Em Papi pasti sibuk, gak apa-apa Rengganis pergi sendiri. Rengganis bisa. Kan Rengganis sudah besar, Pi. Bukan anak kecil lagi."
“Jangan, nanti biar Mami coba cancel semua pekerjaan Mami untuk besok, Mami akan temani Rengganis kemana pun Rengganis pergi.”
“Terima kasih, Mi.” Rengganis memeluk Maminya.
Wanita yang menggunakan setelan bunga-bunga itu mengangguk berulang-ulang. Matanya berkaca-kaca penuh haru.
Malam terang yang ditaburi gemerlap cahaya bintang ini membuat hati Rengganis terhibur meski sedikit, dalam sanubarinya berkata,
“Seandainya kamu ada di sini, lengkaplah sudah kebahagiaanku, Kapten!”
**
“Selamat Pagi, Nyonya Brata,” sapa laki-laki bermata sipit yang ditebak Rengganis berkebangsaan Korea itu.
“Pagi, Tuan Choi.” Mami menerima uluran tangan Tuan Choi Yong Jin.
“Annyeong haseo,” Rengganis mencoba menyapa Tuan Choi dengan Bahasa negaranya.
Tuan Choi Yong Jin terlihat sangat senang meski dengan sapaan sederhana Rengganis tadi.
“Annyeong haseyo, Nona Rengganis. Jal jinae syeosseoyo?”
__ADS_1
“Hahaha, cukup-cukup. Saya malu, saya masih belum terlalu cakap menggunakan bahasa Korea aktif.” Pipi Rengganis memerah.
“Arraseo … arraseo.” Tuan Choi mengangguk-angguk pengertian.
“Pak Brata Warman semalam sudah menelepon saya, dia bilang putrinya akan mencoba ikut seleksi masuk perguruan tinggi di Korea Selatan,” jelas Tuan Choi.
“Betul sekali, Tuan. Ternyata Tuan Choi sudah sangat fasih berbicara dalam Bahasa Indonesia ya?” Rengganis tampak kagum dengan lelaki berkulit putih ciri khas warga negeri gingseng.
“Saya suka Indonesia, saya pun cinta bahasa Indonesia. Lama saya belajar bahasa ini,” jelas Tuan Choi dengan logat Korselnya.
“Jadi apa yang harus saya lakukan, Tuan?” tanya Rengganis tidak sabar.
“Oh, ya, silakan masuk. Nanti akan saya jelaskan.” Tuan Choi mempersilakan Rengganis dan Mami masuk ke dalam kantornya.
Tuan Choi Yong Jin adalah pria berusia kepala lima, namun, pembawaannya tetap riang dan energik. Pria yang memegang jabatan cukup penting di Kedubes Korea Selatan ini merupakan kenalan baik Papi Rengganis.
Sudah beberapa kali Tuan Choi diundang ke rumah untuk makan malam bersama keluarga Rengganis. Jadi pertemuan kali ini bukanlah pertemuan pertama untuk mereka.
“Terima kasih atas penjelasannya, saya akan segera mendaftar dan memenuhi semua persyaratan dengan baik, Tuan,” ucap Rengganis penuh percaya diri.
“Saya harap Nona Rengganis bisa lulus semua prasyarat dan tes, jika kelak dapat berhasil, Tuan Brata dan Nyonya tidak perlu khawatir, Rengganis bisa tinggal di rumah keluarga kami. Saya rasa istri saya akan sangat senang.” Tuan Choi bersemangat.
“Kami hanya memiliki satu orang putra, bernama Ye Jun, Choi Ye Jun. Pria keras kepala yang gila bekerja. Dia jarang di rumah hingga istri saya sering merasa kesepian, sendiri, di usia tuanya.” Tiba-tiba terdengan nada sendu dari mulut laki-laki bermata sipit itu.
“Terima kasih atas semua kebaikan, Tuan. Saya akan berusaha melakukan yang terbaik agar tidak mengecewakan harapan Tuan Choi.” Rengganis tersenyum sambil berdiri.
“Kalau begitu, kami pamit dulu, Tuan. Semoga dalam waktu dekat ada kabar baik yang akan kami terima ya.” Mami menjabat tangan relasi suaminya itu.
“Saya pun mengharapkan hal serupa.” Tuan Choi ikut berjalan mengantarkan Rengganis dan Maminya menuju pintu keluar.
“Lain waktu mampirlah ke rumah, kami akan menunggu kedatangan, Tuan,” ucap Mami sebelum melangkah meninggalkan ruangan kerja Tuan Choi.
Tuan Choi mengangguk senang sekali lagi menerima undangan dari keluarga Brata yang terkenal sangat murah hati itu.
Ayunan langkah kaki Rengganis terasa begitu ringan. Kini Keputusan telah diambilnya. Ia akan meninggalkan semua kegundahan hatinya di Negara ini. Mencoba meraup pengetahuan dan pengalaman baru di negeri orang.
Cinta yang selama ini membelenggu langkah kakinya kini perlahan berusaha dilepaskannya. Rengganis mengizinkan takdir yang memutuskan ke arah mana ia akan berlabuh pada akhirnya, ia pasrah, menerima jalan jodoh yang terbentang di hadapannya.
“Kemana lagi kita, Sayang?” tanya Mami.
“Rengganis mampir ke dinas kesehatan sebentar, Mi, mau tanya-tanya masalah izin belajar. Setelah itu terserah Mami deh.”
“Kita ke mall yok, sudah lama kita gak berjalan hang out berdua,” ajak Mami.
“Siap, Mi. Kemana pun Mami pergi, Rengganis siap menemani.”
“Ah kamu.” Mami memeluk Rengganis sambil melangkah keluar dari teras besar kantor Kedutaan Besar Korea Selatan.
__ADS_1
Bagaimana perjuangan Rengganis selanjutnya untuk dapat meraih mimpinya?
Kita nantikan kisah selanjutnya ya, Kakak-kakak semua.