
Adzan Asar berkumandang dari sebuah surau kecil tak jauh dari rumah mewah keluarga Plenggo. Rumah berarsitektur Jawa modern.
Rumah joglo permanen yang memiliki pelataran sangat luas ini awalnya memang warisan orang tua Plenggo yang memang sudah kaya raya sejak dulu. Setelah wafat, semua aset kekayaan jatuh pada anak laki-laki satu-satunya, ayah Bono ini menjadi pewaris tunggal puluhan hektar tanah perkebunan, puluhan petak sawah siap panen serta dua buah peternakan sapi.
Ditambah bisnis-bisnis ilegal yang Plenggo jalankan dengan mulus, harta kekayaannya semakin bertumpuk-tumpuk tiap harinya. Kini, Bonolah yang digadang-gadang sebagai penerus garis keturuan dan pewaris kekayaan keluarganya.
Bono memang lahir dari wanita yang tak dicintai Plenggo, istri hasil perjodohan ini adalah wanita penurut, anak kepala desa rekanan ayah Juragan Plenggo.
Sedikit pun Plenggo tak pernah menganggap Heni ada, istri yang telah dinikahinya secara sah ini harus menerima siksaan lahir dan batin sepanjang perjalanan rumah tangganya.
Meski lahir dari istri yang tak pernah dikehendakinya, Bono tetap disayang dan diperlakukan seperti anak emas oleh Plenggo. Anak laki-laki satu-satunya yang diharapkannya bisa menjadi senjata untuk membalaskan dendamnya pada perempuan yang telah menghancurkan mimpinya, Maya Purbaningrum, Bidan desa yang telah menolak cinta Plenggo mentah-mentah.
Harapannya terkabul, Bono memang mampu memacari Ayu tanpa sepengatuan kedua orang tuanya, suatu sore Bono berhasil membawa Ayu ke vila milik keluarga Plenggo dengan rayuan gombalnya.
Ayu yang masih sangat belia terpikat oleh keramahan dan kebaikan Bono. Gadis itu akhirnya harus menjadi santapan serigala-serigala liar setelah sampai di vila yang menakutkan itu.
Sama seperti Ayu, Bono berniat melakukan hal serupa pada Rengganis. Tapi takdir berkata lain, Rengganis bukanlah wanita lemah. Meski gadis itu adalah gadis kaya yang manja tetapi kecerdasan membuatnya lepas dari kandang serigala.
Namun sayang, Astuti, perawat yang telah dianggap Rengganis seperti saudara kandungnya sendiri bernasib malang, ia tertinggal di sana saat Rengganis berhasil kabur dan entah apa yang telah terjadi padanya saat ini.
Semua orang berusaha mencarinya termasuk penduduk kedua desa setempat, bahkan Bidan Maya rela bertekuk lutut di hadapan Juragan Plenggo demi menyelamatkan nyawa Astuti, tapi tak membuahkan hasil, bahkan dirinya harus menerima semua penghinaan dan penganiayaan di tubuhnya yang mulai tua.
Kini, Bidan Maya menjadi sandra saat Plenggo terdesak oleh kedatangan pasukan Kapten Biru yang bertujuan menyelamatkan dirinya.
Pasukan Kapten Biru datang tepat waktu, mereka datang saat tubuh Bidan Maya tergeletak tak berdaya setelah dianiaya oleh laki-laki bernama Plenggo dengan sangat kejam.
“Mundur atau pisau tajam ini akan menembus leher wanita tua yang ingin kalian selamatkan ini,” teriak Plenggo.
“Turunkan senjata kalian!” Laki-laki itu sedikit menekankan ujung pisau ke kulit ari Bidan Maya hinga darah merah keluar dari sana.
“Tembak saja penjahat ini, jangan pikirkan aku!” teriak Bidan Maya dengan sisa-sisa tenaganya.
Plenggo berjalan mundur perlahan-lahan menjauhi pasukan bersagam yang berdiri mengepungnya.
“Pluk,” Sebuah kayu yang terlihat amat keras tiba-tiba menghempas tengkuk kurus Plenggo.
Laki-laki itu tak sadar melepaskan tubuh Bidan Maya dan memegang tengkuknya yang terasa sakit. Seperdetik pistol Kapten Biru memuntahkan pelurunya tepat mengenai pergelangan tangan Plenggo yang memegang pisau hingga benda itu jatuh terlempar beberapa meter dari Juragan Plenggo berdiri.
Kapten Biru tak menyia-nyiakan kesempatan itu, gerakannya yang tangkas mematahkan perlawanan laki-laki tua itu dengan dua kali pukulan saja.
Pak Hasbi pun muncul dari belakang, dengan cekatan ia mengangkat tubuh Maya, mantan istri yang masih sangat dicintainya yang terkapar lemah.
“Ayo, Bu.” Laki-laki itu menggendongnya.
“Bawa Bidan Maya ke puskes secepatnya, dia butuh pertolongan pertama,” perintah Kapten Biru pada Pak Hasbi. Laki-laki itu berlari secepat kilat dengan tubuh wanita yang masih dicintainya terkulai di dalam gendongan.
__ADS_1
“Silakan bawa ke polsek, kami akan mencari Saudara Astuti di sini,” ucap Kapten muda itu penuh rencana.
Belum sempat Pak Hasbi keluar dari gerbang, tiba-tiba laki-laki tua berperawakan tinggi kurus melintas di depan pintu gerbang rumah Jurangan Plenggo yang terbuka.
Melihat banyak lelaki berseragam tentara dan polisi, laki-laki itu segera memutar dan bersiap melarikan diri.
Ingatan Kapten Biru yang tajam mengingat laki-laki tua yang berusaka kabur saat melihat pasukannya.
“Segera tangkap laki-laki itu!” teriak Kapten Biru.
Pasukan berpencar ke segala penjuru mengecoh arah pelarian lawan. Tak butuh waktu lama, laki-laki tua itu dapat dilipat oleh Sersan Leo dan kawan-kawan, Sersan Leo yang notabenenya seorang atlit lari batalyon sangat mudah mengejar lari pincang Pak Ujang.
Dengan tangan terikat ke belakang, Sersan Leo membawa Pak Ujang masuk ke halaman Juragan Plenggo dengan wajah menunduk ketakutan. Ia tak berani membalas tatapan nanar bos yang telah memberinya makan selama ini.
“Bodoh, kenapa kamu kemari!” Juragan Plenggo marah.
“Den Bono—Den Bono bunuh diri, Juragan.” Pak Ujang gemetaran.
Wajah Plenggo kaku, tubuhnya tak dapat bergerak. Bibirnya diam tak mampu mengucapkan satu kata pun. Setelah beberapa menit laki-laki itu tertawa terbahak-bahak lalu berganti dengan tangisan melolong yang menakutkan.
“Anak bodoh, percuma aku menghidupimu selama ini jika kamu mati sia-sia seperti itu. Hahahaha.” Plenggo kembali tertawa buas.
“Seharusnya aku sadar sejak awal, anak wanita lemah seperti Heni tak pantas menjadi putra pewaris kejayaan Juragan Plenggo yang kuat.” Dia menangis lagi.
Sepertinya emosi laki-laki itu benar-benar tergunjang mendengar putra yang selama ini menjadi kebanggaannya mati. Perasaan
“Bagaimana rasanya? Sakit bukan?” Pak Hasbi mendekati Juragan Plenggo sambil tertawa terbahak-bahak.
“Itu yang aku rasakan sepuluh tahun yang lalu, sobat.”
Mata Plenggo melotot ke arah Hasbi yang tatapan matanya juga tak kalah mengerikan. Mereka berdua bagai dua rubah jantan yang siap berperang.
“Lihatlah, anakmu mati di tangannya sendiri. Hahaha….” Ada nada kepuasan dalam tawa Pak Hasbi. Tawa yang diiringi rintik air mata.
Juragan Plenggo meronta dengan tenaga penuh berusaha melepaskan ikatan pada tangannya, laki-laki itu berusaha mengambil pisau yang tadi digunakannya untuk menyandra Bidan Maya. Dengan sekali loncatan ia mendapatkan pisau itu.
“Trus.” Plenggo menghunuskan pisau itu ke perut Hasbi. Tapi laki-laki sakti itu seperti ditarik ke belakang oleh sesuatu hingga dengan tepat waktu, ia dapat menghindari serangan ujung pisau bermata tajam itu.
Tangan Hasbi meliuk memutar posisi jari-jemari Plenggo yang memegang pisau dengan erat.
“Bles,” Senjata itu bersarang di perut pemiliknya sendiri. Tubuh juragan Plenggo terjatuh sangat keras. Jari tangannya meregang, sebuah cincin bermata topaz biru melompat keluar dari jari manisnya. Mungkin ukuran cincin itu terlalu besar dijari Plenggo, hinga dengan gesekan ringan gagang pisau yang digenggamnya dan cincin di jari membuat benda kesayangan milik Kapten Biru lepas dengan sendirinya.
Kapten Biru mendekat cincin cantik yang memantulkan cahaya matahari sore dalam bentuk fatamorgana. Dipungutnya cincin bersejarah yang telah dia relakan untuk Jurangan Plenggo beberapa hari lalu.
“Ambillah, Nak Biru. Benda itu punyamu, ia menolak untuk dimiliki Plenggo,” ucap Pak Hasbi seperti tahu apa yang terjadi sebelumnya.
__ADS_1
Kapten Biru mengangguk, mengambil cincin itu dan disimpan dalam saputangan kotak-kotak sebelum dimasukkan ke dalam saku besar bagian lutut kanan celana PDL yang dikenakan pria tampan itu.
Pak Ujang yang menyaksikan kejadian itu diliputi ketakutakan. Tubuh tuanya gemetar sementara matanya memejam berulang-ulang seakan ingin menyembunyikan sesuatu yang ia ketahui.
Kapten Biru menangkap gelagat aneh dari gerakan dan ekspesi Pak Ujang. Perlahan Kapten Biru melangkah mendekati laki-laki yang semakin tertunduk ngeri mendengar langkah kaki Kapten Biru yang semakin mendekat.
“Dimana Astuti?” tanya Kapten Biru. Nada suaranya dibuat seakan-akan ia mengetahui Pak Ujanglah yang telah menyembunyikannya.
“Sa—sa—saya tidak tahu, Pak,” jawab Pak Ujang ketakutan, sementara bola mata laki-laki itu bergerak-gerak menghindari tatapan tajam Mata elang milik Kapten Biru.
“Sebaiknya Anda bekerja sama dengan pihak kepolisian, Pak. Orang-orang yang selama ini kamu harapkan bisa menyelamatkanmu dari semua kelakuan burukmu kini tidak ada lagi. Apa kamu mau mendekam dipenjara seumur hidup, menghabiskan masa tuamu di balik jeruji besi?” Seorang laki-laki muda berseragam polisi dengan pangkat IPTU mendekat.
Pak Ujang tercengang, ia baru menyadari orang-orang yang selama ini membantu menutupi semua tindak kejahatannya sudah mati, Juragan Plenggo juga Bono. Tak ada lagi yang akan membantunya keluar dari masalah ini jika bukan dirinya sendiri.
“Jika saya berbicara jujur apa saya akan dibebaskan, Pak?” Otak licik bedebah tua itu berjalan berusaha mencari keselamatan.
“Akan kami pertimbangkan untuk mengurangi hukumanmu jika kamu berkata jujur dan mau bekerja sama dengan kami,” jawab IPTU Pandu Wiratama.
“Kamu dengar! Sekarang katakan dimana Mbak Astuti kalian sembunyikan?”
“Ampuni saya,” Laki-laki berambut putih itu bersujud dengan tubuh rata menyapu tanah, tangannya yang keriput tetap terikat ke belakang.
Semua mata memandang kepadanya penuh rasa penasaran. Kunci semua rahasia menghilangnya Astuti ada padanya. Seperti tak kuat menahan penasaran Sersan Leo ikut mendekat. Siap menerkam tubuh tua Pak Ujang yang masih saja berusaha berbelit-belit.
“Ayo katakan!” Kapten Biru kembali membentak lelaki yang terlihat sedang menunda-nunda pengakuannya.
“Astuti—Astuti ma—ti.” Sekali lagi wajahnya dibenamkannya ke tanah.
Kapten Biru berjongkok di depan lelaki tua itu. Matanya melotot penuh emosi. Tangannya mencengkram lengan Pak Ujang.
“Katakan yang benar, jangan buat kesabaranku habis,” ucapnya berapi-api.
“I—iya Kapten, Astuti mati.” Kapten Biru tak dapat berkata-kata. Ia merasa sangat bersalah tak bisa melakukan apa-apa untuk gadis itu.
“Katakan apa yang terjadi?”
“Setelah Dokter Rengganis kabur. Den Bono merasa kesal, ia mendatangi ruang tempat Astuti di sekap. Ia menyiksa gadis itu hingga sekarat. Lalu memerintahkan Brandox membuangnya.” Pak Ujang menyeka keringat dingin yang memenuhi wajahnya. Menelan ludah dan kembali mengatur keberanian untuk mengungkapkan apa yang ia ketahui.
“Lalu Brandok membawanya ke tepi sungai untuk dibuang, belum sempat Astuti dijatuhkan ke sungai, Juragan Plenggo Datang. Dia seperti jijik melihat wajah lugu Astuti dan hempaskan batu besar sekali ke kepalanya hingga ia meninggal.” Pak Ujang berhenti, ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakan.
“Baik semua bisa kamu jelaskan lebih lengkap di kantor polisi sekarang tunjukkan dimana jasad Astuti?” tanya IPTU Pandu. Kapten Biru yang baru bisa menguasai diri mengangguk membenarkan kata-kata polisi yang sejak kemarin telah menjadi patnernya bekerja sama.
“Saya disuruh Juragan Plenggo menguburnya di belakang gudang karet.” Tangan Pak Ujang menunjuk ke arah selatan tempat gudang karet besar keluarga Plenggo berada.
“Rengganis, maafkan aku.” Kapten Biru membayangkan wajah dokter muda yang dicintainya saat tahu orang terdekatnya telah meninggal menjadi korban kejahatan Plenggo.
__ADS_1
Bagaimana kisah selanjutnya? Yuk tunggu episode 20!