MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
TENTARA ITU ROMANTIS


__ADS_3

Kerlip lampu warna-warni yang tersusun indah membentuk hati memancar penuh cinta di sebuah danau buatan sebuah resto romansa yang menjadi favorit remaja-remaja yang sedang dimabuk cinta bagai menggambarkan suasana hati sepasang sejoli yang baru saja berhasil melepaskan rasa rindu yang selama ini membelenggu.


Kapten Biru dan Dokter Rengganis memilih duduk berhadap-hadapan pada sofa empuk berwarna cream yang mengarah langsung ke danau buatan yang memantulkan cahaya bulan dengan sangat indah. Dua buah lilin merah berukuran jumbo bagai melengkapi keromantisan cadlle light dinner mereka malam ini.


Kapten Biru masih berdiam diri, seakan belum mampu berpaling dari pemandangan indah di hadapannya yang terasa masih seperti dalam mimpi. Tangannya menggenggam erat jari-jemari kekasih hatinya itu. Sementara Rengganis hanya mampu tertunduk malu-malu. Es teller berwarna-warni dengan serutan kelapa muda di pucuk gelas hanya diaduk-aduknya dengan tangan kiri.


“Hey,” Rengganis melepaskan sendok di tangannya dan melambai-lambai tepat di depan wajah Kapten Biru.


“Sttt!” Kapten Biru menangkap tangan Rengganis yang masih bergerak-gerak lincah, kini kedua tangan Rengganis dipegangnya erat-erat seolah tak ingin dilepasnya lagi sementara tatapan matanya tak juga berpaling dari wajah gadis itu.


“Biarkan begini dulu! Sebentaaar lagi!” pintanya.


“Tapi sampai kapan kita berdiam diri seperti ini?”


“Aku gak diam,” jawabnya dengan mata tak bergeming sedikit pun.


“Sudah dua jam lebih kamu hanya menatapku dengan wajah berhias senyum malu-malu itu. Mau sampai kapan?” Rengganis menahan senyum.


“Sampai aku bosan,” jawab Kapten Biru seenaknya.


“Wah … wah, bisa-bisa pias wajahku nanti, Kapten.”


“Jangan panggil aku kapten! Sudah kuperingatkan berkali-kali panggil aku mas atau—”


“Atau apa?”


“Sayang,” Kapten Biru melebarkan senyumnya.


Rengganis terbatuk-batuk mendengar kata yang baru saja diucapkan Kapten Biru.


“Nih.” Kapten Biru bergegas menjulurkan sebuah gelas berisi air putih kepada Rengganis. Tawa Kapten Biru tiba-tiba meledak ketika melihat wajah dokter cantik itu memerah karena tersedak.


“Kenapa? Apa terlalu aneh jika harus memanggilku sayang?”


“Bukan aneh, tapi mulutku terlalu kaku mengucapkannya.”


“Kamu malu memanggilku sayang?”


“Bu—bukan, sama sekali bukan karena itu.”


“Lalu?”


“Apa rekan-rekan, anggota bahkan atasanmu tidak akan menertawakan kita jika mereka sempat mendengarnya?” Rengganis mendekatkan wajah cantiknya pada Kapten Biru dengan ekspresi serius.


“Hahaha … biarkan saja, yang penting kita bahagia. Biarkan semua orang tahu bahwa kamu milikku. Rengganis Bianca Warman adalah kekasihku.” Kapten Biru menepuk dadanya berulang-ulang.


Gadis cantik di hadapannya hanya mampu tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan konyol laki-laki gagah di depannya. Mata Rengganis pun kini memandang lekat pada laki-laki berkemeja hitam dengan list abu-abu muda di kedua belah pundaknya. Kemeja baru pemberian Rengganis.


Saat keluar dari bandara yang Rengganis lakukan adalah memaksa Kapten Biru untuk mampir ke salah satu outlet terdekat, tak perlu waktu lama bagi Rengganis untuk menjatuhkan pilihan pada sebuah kemeja lengan panjang berwarna hitam dengan list abu yang menambah kesan elegant.


Jins hitam dengan beberapa robekan kecil di dengkul pun masuk ke dalam bill belanjaan dokter cantik pewaris harta kekayaan keluarga Brata itu.

__ADS_1


“Nih,” Kapten Biru menyodorkan ATM merah putihnya.”


“Ini milikku! akan kubayar sendiri dengan uangku.” Rengganis menolak ATM yang diberikan Kapten Biru.


“Tapi aku laki-laki, aku yang harus menanggung beban belanja dating kita kan? Yang aku dengar dari beberapa temanku begitu. Itu hukum alam, laki-laki harus membayar semua biaya pacaran mereka.”


“Hahaha, ini hadiah untukmu, sebagai tanda terima kasih karena telah membuang kemeja batik milik Tika. Masak harus kamu bayar sendiri. Akan lucu jadinya.” Rengganis menarik sebuah kartu kredit dari dalam dompetnya dan memberikan ke kasir.


Kapten Biru hanya mampu mengangkat kedua bahunya tanda menyerah.


“Wah balas dendam ni! Sekarang giliranku yang ditatap mesra gini. Cinta banget ya, Non, sama abang?” Suara Kapten Biru berhasil menyadarkan Rengganis dari lamunannya.


“Yee geer, siapa bilang aku lagi mandangin kamu? Orang aku lagi lihat betapa bagusnya baju pilihanku, ukuran dan modelnya pas.” Rengganis menunjuk kemeja yang dikenakan Kapten Biru.


“Hahaha, o gitu. Aku pikir akunya yang keren banget. Jadi pakaian apapun yang aku kenakan pasti bagus.” Kapten Biru kembali tertawa lebar.


“Sebel!" Rengganis berdiri berusaha memukul Kapten Biru.


“Udah yuk pulang, sudah malem. Pasti mami sama papi panik nyariin aku. Lagian Mbok Iyem juga sih pake acara laporan ke mami segala kalo aku pulang ke Indonesia, kan jadi gak surprise.” Bibir Rengganis tersungut-sungut.


“Tapi, Yang, aku masih mau bareng kamu.” Suara Kapten Biru terdengar seperti anak kecil yang sedang merengek tak mau pulang dari taman bermain pada ibunya.


“Ih, gemes!” Rengganis mencubit mesra pipi Kapten Biru.


“Ini belum.” Kapten Biru memberikan pipinya yang sebelah lagi.


“Ye, maunya! Udah yuk pulang, kita kan sudah seharian. Besok kita ketemu lagi.”


“Janji!” Dokter Rengganis mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Kapten Biru.


“Apa pun yang terjadi aku akan berlari kepadamu.” Rengganis mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya sebagai tanda bahwa ia berjanji.


“Oke, aku percaya padamu, Sayangku.” Kapten Biru mengusap rambut Rengganis penuh kasih.


“Tapi, Yang. Aku serius! Aku gak mau terpisah lagi darimu.” Kapten Biru kembali duduk membatalkan niatnya untuk mengantar Rengganis pulang.


“Hey, kenapa jadi mellow begini tentaraku?”


“Di hadapanmu, aku hanya seseorang yang sedang mabuk kepayang dan asal kau tahu, tentara itu romantis.” Kapten Biru berbisik ke telinga Rengganis dan melangkah pergi meninggalkan Rengganis yang masih ternganga.


“Hahaha, tunggu aku tentara romantis!” Rengganis berlari mengejar Kapten Biru.


“Panggil aku sayang dulu,” ucap Kapten Biru tanpa menoleh.


Tuk, Kaki Rengganis tiba-tiba terkilir saat berlari mengejar Kapten Biru dengan sepatu high hills tujuh sentinya.


“Aduh,” teriak Rengganis yang berhasil membuat Kapten Biru menoleh dan berlari menghampiri Rengganis dengan panik.


“Ada apa, Yang?” Kapten Biru ikut memijat bagian kaki yang sejak tadi di pegang Rengganis.


“Sakit!” jawab Rengganis.

__ADS_1


“Coba luruskan!” perintah Kapten Biru yang diikuti Rengganis dengan cepat.


“Tahan sebentar!” Kapten Biru menarik kaki Rengganis.


“Masih sakit?” tanya Kapten biru lembut.


“Agak mendingan.”


“Oke sebentar lagi sembuh,” ucap Kapten tampan itu sambil mengangkat tubuh Rengganis ke dalam gendongannya.


“Turunkan aku, Kapten, aku malu.” Rengganis menutup wajahnya.


“Jangan panggil aku seperti itu atau aku tak akan menurunkanmu sampai rumah. Biar kita pulang dengan berjalan kaki saja.”


“Iya … iya, baiklah.” Rengganis mengalah. Ia tahu betul Kapten Biru tak pernah bermain-main atas ucapannya.


“Panggil apa?”


“Sa—yang,” ujar dokter muda itu dengan malu-malu.


“Bagus. Calon istriku.”


“Waw!” Rengganis lagi-lagi menenggelamkan wajahnya ke dalam telapak tangannya karena malu.


“Aku gak sedang bercanda, lihat saja nanti kalau sudah sampai rumah, aku akan langsung bilang ke papimu, aku akan menikahi putrinya.”


Rengganis hanya terdiam, hatinya sudah penuh dengan segala jenis bunga. Kapten Biru terlalu mahir membuat jantungnya berdebar-debar setiap saat. Perasaannya pun sama, ia ingin segera meresmikan cintanya agar tak ada lagi yang bisa mencuri kapten tampan pujaannya itu seperti yang hampir saja berhasil dilakukan teman kecilnya, Tika.


Lima belas menit berkendara, akhirnya sepasang kekasih itu sampai di depan rumah milik keluarga Brata.


“Aku turun dulu, Gak perlu antar aku sampai ke dalam.” Rengganis mengaitkan tasnya ke pundak


“Jangan! Aku ini kesatria, mana bisa melepaskanmu begitu saja setelah membawa kabur dari orang tuamu tadi. Aku akan bertanggung jawab, apa pun yang terjadi. Semoga saja mereka menghukumku dengan memaksaku menikahimu malam ini juga.” Kapten Biru mencegah tangan Rengganis yang bersiap membuka handle pegangan pintu mobil.


“Yee, itu sih maumu, Yang. Tapi ini ceritanya lain. Biar aku saja yang menjelaskan pada mereka terlebih dahulu. Aku gak mau mereka semakin salah paham padamu.” Rengganis memberanikan diri memegang kedua pipi Kapten Biru.


“Sabar ya, aku janji secepatnya akan membawamu ke hadapan orang tuaku, tapi yang pasti bukan malam ini. Please!” Rengganis menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


“Kalau memang begitu keinginanmu, aku bisa bilang apa?” Kapten Biru menghembuskan napasnya dengan berat.


“Oke, sampai besok.” Rengganis membuka pintu mobil.


“Hubungi aku sebelum tidur ya,” pesan Kapten Biru yang dibalas anggukan kecil dari Rengganis.


“Bye!” ucapnya sambil menutup pintu.


Rengganis segera membalikan tubuhnya dengan wajah riang tapi betapa terkejutnya gadis itu. Papi telah berdiri di pintu gerbang memandangi mereka sejak tadi. Wajahnya datar dengan ekspresi yang tak bisa diterka. Kapten Biru yang melihat kejadian itu dengan sigap ikut membuka pintu mobilnya dan melompat turun.


Apa yang terjadi selanjutnya?


Sampai jumpa di episode mendatang ya.

__ADS_1


__ADS_2