
“Perhatian, semuanya kembali ke dalam barisan! Kegiatan akan segera kita mulai.” Suara berat Kapten Biru mencoba menghentikan keributan yang terjadi dalam antrean panjang prajurit yang berniat mengecek kesehatannya pada Dokter Rengganis.
Belum ada yang bergerak. Suara tawon masih terdengan riuh. Semua mata fokus melihat gerakan-gerakan lincah dokter cantik itu dalam menangani pasiennya.
“Saya hitung! Satu-duaaaa—” Semua pasukan lari tak kenal arah. Saling bertabrakan meninggalkan tenda kesehatan.
Dokter Rengganis dan timnya bengong melihat semua pasien yang seharian ini membuat mereka bekerja keras seketika menghilang. Lari tunggang-langgang hanya dalam hitungan dua.
“Apa yang terjadi?” Dokter Rengganis berdiri dari balik meja konsultasinya dengan wajah panik.
“Kenapa? Kesepian ditinggal para fans?” Wajah Kapten Biru tampak sinis.
“Hey. Sepertinya kamu juga butuh diperiksa.” Rengganis memaksa Kapten Biru untuk duduk. Tangan kanannya memegang kening laki-laki tampan itu.
“Panas.” Rengganis memasang muka cemas.
“Ais.” Kapten Biru menepis tangan gadis itu dan pergi meninggalkan tenda dengan wajah sangat kesal.
Rengganis menoleh kepada Astuti dan beberapa tim kesehatan lainnya. Mereka saling pandang lalu tertawa penuh arti.
“Ada apa, Pak?” Kapten Biru menghentikan langkahnya setelah melihat seorang laki-laki tua berlari-lari menuju tenda kesehatan.
“Maaf, Pak Komandan. Saya mencari Dokter Rengganis.”
“Ada sesuatu yang terjadi, Pak?” Kapten Biru penasaran.
“Banyak warga yang datang ke puskes, Komandan. Mereka mengeluh sakit perut.”
“Ini Pak Ujang, Kapten.” Astuti memperkenalkan laki-laki tua berambut putih dengan napas yang tersengal-sengal.
“Apa karena salah makan di tempat pesta lagi, Pak?” tanya Dokter Rengganis.
“Saya tidak tahu, Bu Dokter. Mari ikut saya! Ibu sudah ditunggu di puskes.”
“Baik saya akan ikut.” Rengganis kembali ke dalam tenda, memasukan semua alat-alat kesehatan yang dibutuhkannya ke dalam tas dan segera berlari keluar.
Astuti menyusul dokter muda itu.
“Saya ikut, Dok.” Astuti menawarkan diri.
“Mbak Astuti dan yang lain tetap di sini saja. Mereka masih membutuhkan bantuan. Biar saya kembali ke puskes bersama Pak Ujang.” Dokter Rengganis buru-buru pergi.
“Tidak, Mbak Astuti silakan ikut Dokter, mungkin dia akan membutuhkanmu!” Kapten Biru memberi perintah.
“Tapi pesannya cuma Bu Dokter, Komandan.” Pak Ujang seperti ketakutan.
“Baik, kalau begitu biar saya yang antar. Saya tidak bisa membiarkan Rengganis pergi sendiri. Dia ada dibawah tanggung jawab saya.” Rengganis tampak terpana mendengar laki-laki itu hanya menyebut namanya tanpa embel-embel lain seperti biasanya ia dipanggil. Gadis itu merasa Kapten Biru telah mengganggap hubungan mereka lebih dekat.
“Oh baik, Komandan, biar Mbak Perawat ikut juga.” Pak Ujang segera memotong.
“Mari, Bu.” Pak Ujang membuka jalan.
Kapten Biru memandangi kepergian Pak Ujang dan Rengganis tanpa berkedip. Ada yang terasa dalam dadanya. Getar aneh, namun, bukan getar seperti yang biasa ia rasakan saat bertemu Rengganis sebelumnya. Ini lebih kepada rasa takut.
__ADS_1
“Sebegitu besarkah perasaanku padanya?” Kapten Biru memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri setelah Rengganis pergi.
Laki-laki berusaha mengabaikan perasaannya, tubuhnya segera berbalik dan kembali bergabung ke lapangan untuk memulai latihan.
“Kita pulang naik apa, Pak?” tiba-tiba Rengganis ingat jalan menuju puskes lumayan jauh.
“Itu sudah ada mobil warga yang tadi ikut jemput, Bu.”
“Oh gitu.”
“Ternyata ada juga ya, Pak. Warga kita yang punya kendaraan bagus.” Rengganis menunjuk mobil fortuner berwarna hitam yang terparkir di sisi jalan dekat warung Mbak Retno, adik Pak Hari,”
“Iya, itu mobil saudaranya dari kota, Bu. Pinjem.”
“O.” Rengganis membulatkan mulutnya.
Gadis manja itu sibuk membenahi tasnya sambil berjalan. Ia melihat kotak bekal berwarna hijau muda yang sengaja Rengganis pilih agar serupa dengan gelas mango juice tempo hari.
Rengganis lupa memberikan bekal makan yang segaja dibuatnya untuk Kapten Biru. Gadis itu berpikir akan makan siang bersama Sang Kapten tapi ternyata rencananya gagal total.
“Waduh saya lupa. Kotak makan untuk Kapten Biru belum saya berikan.” Rengganis siap untuk berbalik arah kembali ke camp.
“Maaf, Non. Kita tidak punya banyak waktu.” Seorang laki-laki yang sedang asik duduk di warung tenda Mbak Retno tiba-tiba berdiri dan mendekat ke arah mereka.
Rengganis sedikit memicingkan mata. Ia melihat laki-laki berambut panjang itu dengan tatapan curiga.
“Kamu siapa?”
“Oke, kalau begitu saya titipkan di warung ini saja,” pamit Rengganis.
“Mbak, saya boleh minta tolong ya? Kemarin saya janji akan membawakan bekal untuk Kapten Biru tapi tadi saya lupa memberikannya. Boleh saya titip ke Mbak?”
“Oh iya, Bu Dokter, nanti akan saya bawa ke dalam sekalian antar pesanan batu batrei dari Komandan."
"Komandan itu kapten Biru maksudnya?”
“Oh bukan, Bu Dokter. Komandannya Kapten Biru. Komandan Latihan. Begitu mereka memanggilnya.” Rengganis tampak manggut-manggut.
“Awas kau, Laki-laki dingin.” Rengganis tersenyum. Ia memiliki akal untuk mengerjai Kapten Biru.
“Bu Dokter, sudah cantik, pinter masak ya,” puji Mbak Retno.
Rengganis tampak malu-malu mendengar sanjungan dari Mbak Retno. Sejujurnya ia sendiri masih bertanya-tanya, apakah bekal di dalam kotak makan itu benar-benar enak rasanya? Ia hanya membuka buku resep yang dipinjam dari Bidan Maya dan mulai memperaktikkannya sendirian sejak selesai sholat subuh tadi. Ia begitu bersemangat menyiapkan bekal istimewa itu.
“Ayo, kita tidak punya banyak waktu.” Pria berambut gondrong itu menggeretakkan giginya menandakan ia sudah tak sabar.
“Baik terima kasih, Mbak.” Dokter muda itu melambai pada Mbak Retno.
Rengganis masuk ke dalam mobil dan tak menunggu lama kendaraan itu segera berjalan.
Perut dokter cantik itu terasa tergunjang-gunjang, dengan kondisi jalan yang begitu buruk laki-laki berwajah jelek itu membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga mereka seperti sedang berada di atas pelana kuda.
“Pak, bisakah kita sedikit lebih pelan. Perut saya jadi kurang enak ini,” pinta Rengganis, nadanya sedikit meninggi.
__ADS_1
“Kita tidak punya banyak waktu.”
“Iya saya tahu banyak pasien yang menunggu kita, tapi jika terjadi sesuatu yang buruk kita semua akan dalam bahaya. Bukan hanya kita, mereka yang menunggu juga ikut terancam.” Mata dokter muda itu melotot jengkel.
“Diam saja.” Laki-laki itu menjawab pendek tanpa melirik sedikit pun pada Rengganis yang duduk di sampingnya.
“Kok lewat sini, Pak?” Astuti mulai panik melihat jalan yang mereka tempuh bukan jalan yang biasa mereka lewati untuk sampai ke puskes.
“Ada pasien yang mau kita jemput dulu, Mbak,” jawab Pak Ujang, wajahnya pun terlihat pucat pasi.
“Saya berhenti di sini saja, biar saya naik kendaraan lain yang lewat.” Dokter Rengganis mengambil keputusan.
“Laki-laki di sampingnya diam tak menjawab.”
“Ja—jangan, Bu. Di hutan ini masih banyak binatang liar. Lagi pula tidak ada kendaraan yang akan lewat sini.”
“Lalu kita akan jemput pasien ke mana jika terus masuk ke arah hutan lebat ini. Memangnya masih ada perumahan penduduk di tempat mengerikan begini?” Rengganis mulai mengetahui bahwa sekali lagi nyawanya terancam.
“Diam atau pisau ini menembus perutmu!” Laki-laki berwajah seram itu menodongkan pisau berukusan besar dan terlihat sangat tajam ke pinggang Rengganis sebelah kanan.
Tak ada yang bisa dilakukan Rengganis. Ia dan Astuti terpaksa mengikuti perkataan laki-laki itu. Pak Ujang tampak manggut kepada Astuti memberikan isyarat untuk mengikuti perintah pria gondrong dan bertubuh besar itu.
Mobil hitam yang ditumpangi Rengganis masuk ke sebuah vila yang berukuran lumayan besar di sebuah perbukitan. Hanya ada vila itu di sana. Banyak laki-laki bertubuh kekar dan berwajah seram tampak berjaga-jaga di sekeliling vila.
Dua orang laki-laki berbaju hitam membuka pintu dan membawa paksa Rengganis dan Astuti masuk ke dalam. Di ruang tengah yang diperkirakan Rengganis adalah ruang paling besar dalam vila, duduk seorang laki-laki berbadan kurus dan bermata sipit di sebuah kursi goyang dengan plitur berwarna coklat mengkilat.
“Selamat datang sayang,” sapa laki-laki itu.
Rengganis hanya diam. Tatapannya tampak nanar, ia tak ingin laki-laki itu mengetahui ketakutannya.
“Bagus, Pak Ujang. Ini untukmu.” Laki-laki itu melempar sejumlah uang ke tubuh Pak Ujang.”
“Terima kasih, Den Bono.” Pak Ujang memunguti uang yang berserakan di sekitarnya. Lalu mundur dan pergi meninggalkan vila.
“Sudah lama aku menantimu. Tidak rindukah kamu denganku, Dokter Cantik?” Bono mulai berdiri dan mendekati Rengganis.
“Kamu siapa?” jerit gadis itu mencoba menggertak Bono yang semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Rengganis.
“Kamu mungkin tak pernah mengenalku, tapi aku sangat mengenal gadis popular sepertimu.”
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Rengganis tampak mengingat-ingat.
“Kita satu sekolah. Kamu itu gadis sombong yang tak pernah menghiraukan surat-suratku.”
“Kamu—kamu, Mr. Bie, yang selalu mengirimiku bunga setiap hari dan terakhir kamu mengirimikan pisau belati ke rumahku?”
“Betul.” Bono terbahak melihat Rengganis tampak ciut setelah mengetahui siapa dia.
Rengganis tampak begitu ketakutan. Siapakah Mr. Bie, yang dimaksud Rengganis?
Apa yang akan dialami gadis cantik itu?
Tunggu episode selanjutnya ya!
__ADS_1