MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
KEBAYA MERAH BATA


__ADS_3

TIKA


Ruangan cantik dengan dekorasi bunga warna-warni penuh pesona seharusnya melambangkan kebahagian hati seorang dara yang sebentar lagi akan ditunang oleh seorang jejaka tampan. Namun, berbeda halnya dengan gadis yang biasa terlihat dengan gaya macho dan rambut pendek sebagai ciri khasnya, gadis itu hari ini tampil sangat berbeda, gayanya terkesan feminin dan sangat anggun keibuan.


Rambutnya disanggul rapi dengan dilengkapi aksesoris hiasan rambut hair pin tusuk berbentuk bunga mawar berwarna orange senada dengan warna kebaya yang dikenakannya.


Kain batik dengan motif sidoasih sengaja dipilih keluarga Biru dengan maksud hubungan antara Biru dan Tika malam ini akan terus berlanjut dengan saling menyayangi satu sama lain sesuai dengan kata sidoasih itu sendiri yang berarti kasih sayang yang tidak pernah berhenti.


“Kenapa dari tadi aku perhatikan mbak diam saja?” tanya Adinda tiba-tiba, gadis cantik bersanggul hampir serupa dengan Tika itu lagi-lagi masuk ke kamar kakak perempuannya tanpa permisi.


“Ada yang kurang?” sambungnya.


Tika menggeleng lemah.


“Kamu tahu betapa bahagianya hatiku, Dik?” Tika memasang wajah serius namun Adinda mengartikan mimik wajah itu penuh dengan pengharapan atas rasa iba.


Dinda mengangguk beberapa kali.


“Tapi kenapa rasanya ada ruang yang hampa, kosong, dan pedih dalam hati ini.” Tika menarik napas panjang seolah ingin membuang sedikit perasaan yang menyesakkan dadanya.


“Mbak, masih ada waktu sebelum semua terlanjur. Pikirkanlah!” Adinda menepuk pundak kakak perempuan satu-satunya. Senyumnya penuh ketulusan.


“Aku tak ingin berbicara lebih banyak padamu. Semua aku serahkan pada mbak. Aku yakin mbak adalah wanita terbaik yang selalu mengambil semua keputusan dengan sangat teliti dan tepat.”


Adinda kembali memberikan senyum manisnya dan bergegas melangkahkan kaki ke luar, tangannya tak lupa menutup kembali pintu kamar Mbak Tika pelan, gadis itu sengaja memberikan waktu kakaknya untuk kembali berpikir.


Tika merapikan rambut-rambut halus di keningnya. Sekali lagi ditatapnya wajah ayu miliknya yang kini telah terpoles rata oleh make-up hasil riasan ahli tata rias ternama yang telah dipilihnya.


Lama mata sendu Tika menatap pantulan gambarnya dicermin sampai setengah jam kemudian ia memberanikan diri kembali menggerakkan tubuhnya. Gadis manis itu berdiri menatap kaca beberapa menit dan akhirnya memutuskan untuk ke luar dari kamar.


“Loh kok keluar? Bosen ya di kamar?” tanya mama yang langsung refleks berdiri menyambut putrinya yang berjalan pelan menujunya sambil memegang kain jarik yang dikenakan.


“Ada yang kurang?” tanya mama sekali lagi, meyakinkan bahwa putri cantiknya benar-benar tak membutuhkan sesuatu.


Tika memang sangat anggun dengan kebaya brukat press body berwarna merah bata. Tubuhnya yang langsing terlihat sexy dengan bentuk lekukan bak gitar spanyola. Warna kebaya yang dipilih atas rekomendasi adiknya, ya, hari ini mama, calon ibu mertua, Tika, Adinda, serta calon ipar-ipar perempuannya semua mengenakan kebaya dengan warna yang sama. Hanya jumlah batu mulia, Kristal swaloski dan payetnya yang lebih padat yang membedakannya, untuk kebaya sang putri istimewa yang akan bertunangan hari ini dibuat lebih penuh dan lebih berat.


“Sabar ya, kamu pasti gelisah menunggu calon tunanganmu yang tak juga kunjung datang. Tadi ayahnya Nak Biru sempat telepon mungkin akan datang terlambat sekitar setengah atau satu jam karena ada yang harus mereka selesaikan terlebih dahulu.” Papa tika ikut bicara.

__ADS_1


“Yuk duduk sini,” ajak mama.


Tika melirik Adinda yang juga sedang memperhatikannya. Ada sebuah pemikiran serupa yang sedang bermain di dalam benak mereka.


Apakah kapten Biru menolak untuk datang kemari? Batin Tika dan Adinda bersamaan.


“Pa, boleh Tika bicara sesuatu?” suara Tika bergetar.


“Ada apa, Nak?” tanya papa penasaran. Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang tak beres yang akan disampaikan putrinya itu.


“Pa, bisakah pertunangan ini kita batalkan?” Tika menggigit bibir. Dia siap jika papa akan memakinya habis-habisan. Hatinya benar-benar penuh gejolak sejak kemarin. Semalaman kedua matanya tak mampu terpejam barang sedetik pun. Kata-kata Adinda telah berhasil mempengaruhi hati dan pikirannya secara mutlak.


“Aku tahu ini semua adalah yang aku inginkan, Pa, tapi bukan yang Mas Biru harapkan.” Tika menunduk lemah. Papa hanya terdiam, mulutnya tak lagi mampu berkata-kata. Perasaan sedih, kecewa, marah, kesal dan yang pasti perasaan malu kini seperti sedang mengobrak-abrik emosinya.


“Tika! Apa yang kamu bicarakan?” bentak mama. Semua yang ada di ruang itu menoleh ke arah mereka, suara keras mama berhasil memancing rasa ingin tahu semua orang.


“Berhenti bermain-main dan kembali ke kamarmu!” bentaknya sekali lagi.


“Ma! Tika serius! Tika gak mau meneruskan semua rencana pertunangan ini, Ma!” wajah Tika menegang.


“Mama, sabar ya.” Adinda memeluk mamanya yang terlihat gemetaran menahan marah.


“Ayo mbak,” Adinda membawa Tika masuk kembali ke dalam kamar.


“Tapi, Din—?”


“Biar aku yang akan membantu menjelaskan semua pada mama dan papa. Mbak tunggu saja dulu di dalam.” Adinda berbisik pada Tika pelan sambil merangkul untuk mengikuti permintaannya. Tak ada pilihan lain untuk Tika, gadis tomboy itu mau tidak mau harus mengikuti saran adiknya.


“Ma, kasian Mbak Tika. Kita harus membatalkan semua ini sebelum terlanjur, masa depan Mbak Tika yang sedang kita pertaruhkan saat ini, Ma,” ucap Dinda pada mama setelah emosinya terlihat lebih stabil.


“Kamu juga aneh seperti kakakmu.” Mama membuang muka.


“Ma, demi Mbak Tika. Bayangkan dia akan seumur hidup menjalani rumah tangga dengan laki-laki yang tak pernah bisa mencintainya,” rayu Adinda.


“Papa sudah duga hal semacam ini akan terjadi.” Papa mendekati mereka.


“Tapi Nak Biru itu anak baik,Pa, pasti dia akan tetap menyayangi Tika meski saat ini dia belum bisa menerima cinta Tika seutuhnya.”

__ADS_1


“Apa mama bisa menjamin hal itu?” Pak Danu menatap istrinya.


“Pa, kita gak bisa menanggung malu karena hal ini.” Mama menunduk lemah.


“Ma, ada cara lain.” Adinda memegang tangan mamanya erat.


“Mas Abi tolong kemari sebentar!” Adinda memanggil Lettu Abimanyu yang sejak tadi hanya duduk berdiam diri di salah satu sudut ruang. Berusaha tak ingin terlibat dalam urusan rumah tangga mereka.


“Aku yang akan menggantikan Mbak Tika,” ucap Adinda yang sukses membuat semua orang kaget bukan kepalang.


“Aku akan bertunangan dengan Mas Abi,” sambungnya.


“Ta—tapi,” Lettu Abimanyu tampak serba salah.


“Mas menyukai aku kan?” tembak Adinda.


Abi menggangguk pelan sambil mencuri pandang pada Pak Danu yang notabene adalah atasannya.


“Aku tahu sejak dulu Mas Abi naksir aku tapi malu untuk mengungkapkannya. Sekarang aku memberi kesempatan Mas Abi untuk melamarku di depan orang banyak,” ucap Dinda penuh percaya diri.


“Aku—aku!” Abimanyu belum bisa menguasai diri dari keterkejutannya.


“Mau tidak?” desak Adinda.


“Kalau gak mau aku akan cari cowok lain mumpung masih ada waktu.” Adinda memegang handphonenya pura-pura akan menelepon seseorang.


“Tidak-tidak,” Lettu Abi merampas telepon genggam dari tangan Dinda.


“Izin, Komandan! Saya—saya—” Lettu Abimanyu mencoba merangkai kata-kata yang paling cocok untuk mengutarakan isi hatinya.


Apa yang terjadi selanjutnya?


Akankah Lettu Abi menolak Adinda seperti Kapten Biru menolak kakak perempuannya?


Adakah orang lain di hati Lettu Abimanyu?


Siapakah Dia?

__ADS_1


Mau tahu?


Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya ya!


__ADS_2