
Abimanyu
Hari masih teramat pagi, matahari bahkan belum mengembang dengan sempurna. Lettu Abimanyu duduk di teras barak bujangan sambil mengelap peluh yang telah membanjiri seluruh tubuhnya. Laki-laki berpostur atletis itu baru saja menyesaikan lari paginya mengelilingi lapangan batalyon.
Dret, Handphone dalam sakunya terus bergetar.
“Adinda,” gumamnya melihat nama yang tampil dilayar telepon genggamnya.
“Hallo, selamat pagi, Letnan.” Seru suara dari seberang penuh semangat.
“Hem, pagi. Ada apa? Tumben pagi-pagi begini sudah telepon? Pasti butuh bantuan?” tebaknya.
“Haha, tau aja!” terdengar suara tawa Adindavo bergema dari seberang.
“Aku cuma mau kasih tau, hari pertunangan Mbak Tika sudah diputuskan,” sambungnya.
“Dengan siapa?” tanya Letnan Abi.
“Ih sama siapa lagi, sama Kapten Birulah, mana mau dia sama lelaki lain,” jawab Adinda sekenanya.
“Lalu apa kapten Biru sudah bersedia?”
“Sepertinya begitu! Dia terpojok dan tak ada pilihan,” suara Adinda sedikit berbisik.
“Oke, pokoknya jangan lupa datang. Hitung saja ini undangan resmi dari keluargaku dan keluarga Kapten biru ya. Ayah dan bunda jangan lupa dikabari juga. Bye.”
Klik, Adinda menutup teleponnya. Seperdetik Lettu Abi hanya bisa terdiam, pikirannya berkenalana entah kemana.
Tiba-tiba senyumnya mengembang malu-malu. Wajahnya memerah, laki-laki itu sadar apa yang terjadi pada ekspresi wajahnya cepat-cepat ia membenamkan kepalanya pada kedua kaki yang masih tertekuk dalam posisi duduk.
“Kalau begitu, ada kesempatan untuk mendapatkan hati Dokter Rengganis,” ucapnya malu-malu.
Ya, Lettu Abimanyu telah jatuh cinta pada Rengganis sejak pandangan pertama. Kala itu Lettu Abi yang sedang berdiri tegap di lapangan upacara saat mengikuti latihan gabungan tiba-tiba menoleh tanpa sengaja ke arah seorang gadis yang sedang berjalan dengan sangat anggun meski dengan sepatu ketsnya.
Tanpa diduga, jantung Lettu Abi tiba-tiba berdetak sangat kencang hanya dengan melihat langkah pasti Rengganis dengan rambut panjangnya yang hitam bergerak-gerak ditiup angin seakan serasi dengan gerak langkahnya.
Matanya tak dapat berpaling lagi dari pemandangan menawan itu.
Lettu Abi kaget dan refleks berlari saat melihat Rengganis terpeleset tanah merah yang saat itu memang sedikit licin. Tapi langkahnya terhenti berubah sunggingan tawa geli melihat Rengganis yang berhasil menguasai tubuhnya meski sempat terhuyung-huyung.
Gadis cantik itu terlihat mengomel sendiri sambil menepuk-nepuk kedua telapak tangannya. Jantung Abimanyu tak dapat berdegup dengan beraturan lagi, ini kali pertama perasaan itu tiba-tiba menyerang pada dirinya.
Namun, kejadian itu tak berlangsung lama. Kapten Biru tiba-tiba muncul di sekitar gadis cantik dengan tas hitam yang berisi peralatan medis. Meski berusaha bersikap wajar tapi Abimanyu dapat membaca dengan jelas bagaimana isi hati atasannya itu.
Tak banyak yang dapat Lettu Abi lakukan selain mengamati gadis pujaannya diam-diam dari jauh. Terlebih saat tragedi Juragan Plenggo terjadi. Bukan hanya Kapten Biru tapi dada Lettu Abi pun serasa akan meledak tak karuan dibuatnya.
Ia membabi buta menghajar semua anak buah Juragan Plenggo, sakitnya tak terperi membayangkan penderitaan yang telah dialami gadis pujaannya.
Luka yang teramat dalam pun Letnan Abi rasakan saat melihat kepedihan di mata Rengganis saat nyaris tak dapat berjumpa dengan Kapten biru di bandara. Batinnya bertempur antara akan membantu mereka bertemu atau mengambil kesempatan yang ada.
__ADS_1
Namun, lagi-lagi naluri kemanusiaan dan rasa cintanya yang besar menggagalkan ego yang hampir membutakan matanya.
Mungkin sudah nasib bagi Letnan Abi hanya mampu memandang dan mencintai Rengganis dari belakang demi atasan yang juga telah dianggapnya kakak tapi kini keadaan berbeda. Saat Kapten Biru resmi menjadi tunangan Lettu Tika maka bukan suatu kesalahan lagi bila ia berjuang mendapatkan cintanya yang selama ini dipendamnya dalam-dalam.
Lettu Abi menekan beberapa tuts di layar gawainya dan tak lama terdengar nada sambung.
“Halo, Assalamualaikum, Abi.” Suara lembut bunda seakan menambah kebahagiaan dan kesejukkan jiwa Abimanyu pagi ini.
“Wa’alaikumsalam, Bun, lagi apa?”
“Nih sarapan. Kamu sudah sarapan, Nak?”
“Belum, Bun. Abi cuma mau bilang lusa Tika kakak perempuan Adinda tunangan. Kita dapat undangan untuk menghadirinya.”
“Oh tentu-tentu. Kita berangkat bersama ya.”
“Oke, Bun.”
“Kamu kapan kenalkan gadis cantik yang fotonya terus kamu pandangi itu sama bunda.”
“Haha, iya, Bun, siap, segera,” jawab Abimanyu penuh percaya diri.
Orang tua Abi dan orang tua Adinda memang sudah saling mengenal sejak mereka masih berusia muda. Ayah Abi dan papa Adinda adalah teman satu leting. Hanya saja ayah Lettu Abimanyu memang sedikit lebih lambat menikah hingga usia anak pertama mereka sama dengan usia anak kedua Pak Danu.
“Bunda tunggu ya calon mantu mama. Sudah gak sabar pingin ketemu langsung bukan hanya melihat fotonya saja.”
Bunda meledek Lettu Abi. Memang kebiasaan Lettu Abi memandangi foto Rengganis di waktu-waktu senggangnya telah terpergok bunda beberapa kali. Bukan main bahagianya hati bunda Abi melihat siapa yang dipilih putranya tapi Lettu Abi pun tak ingin menyimpan rahasia pada wanita yang telah melahirkannya itu. Bunda tahu semua yang terjadi pada hubungan mereka.
“Masuk!” Adinda menarik tangan Lettu Abi.
“Silakan duduk di sini. Aku ke kamar Mbak Tika sebentar ya,” pamit Adinda setelah mempersilakan Abimanyu duduk bersama beberapa rekan mereka. Sementara ayah dan bunda telah bergabung di meja vip, mereka terlihat begitu menikmati suasana pesta pertunangan hari ini bagai acara reuni teman lama.
“Terima kasih, Kapten,” bisik lettu Abi dalam hati.
“Aku tak akan menyia-nyiakan Rengganis seperti yang Anda lakukan. Aku akan terbang ke Korea untuk menemui dan mengungkapkan perasaanku secepatnya,” sambungnya. Wajah Lettu Abi terlihat lebih bercahaya dari biasanya senyum di mulutnya pun terus tersungging dengan sangat manis.
Lettu Abi memang tak pernah membiarkan Rengganis lolos dari pandangannya. Pria berwajah tirus itu pun tahu alamat lengkap Rengganis di Korea. Bahkan saat Rengganis masih di Pringjaya setiap memiliki kesempatan, Lettu Abi pasti berkunjung ke sana meski apa yang dilakukannya tak diketahui Rengganis.
Hubungan Rengganis dan Fattan? Lettu Abi paling tahu seperti apa perasaan mereka dan apa yang mereka lakukan secara detil. Memang hanya sebatas itu, sebatas mengamati dan menjaga dari jauh. Lettu Abimanyu tak pernah berniat mengkhianati senior terdekatnya dengan jiwa pengecut.
Ia cukup tahu diri dengan perasaan Dokter Rengganis padanya karena ia tahu benar perasaan Rengganis memang utuh Kapten Biru tak pernah terbagi dan tak akan bisa dibagi.
“Nih minum dulu.” Adinda mengejutkan Lettu Abi dengan menyodorkan segelas sirup merah lengkap dengan pecahan batu es yang terlihat menyegarkan.
“Terima kasih.” Letnan abimanyu mengambil gelas yang disodorkan Adinda.
“Aku berharap Mbak Tika akan menentukkan masa depannya dengan tepat.”
“Maksudmu?’ tanya Lettu Abi.
__ADS_1
“Aku tahu, Mbak Tika terlalu memaksakan diri untuk mendapatkan Kapten Biru. Padahal kita semua paham bagaimana perasaan Kapten Biru dan Mbak Rengganis. Apa kau tau Letnan, hari ini Mbak Rengganis akan sampai di Indonesia. Kebayang kan sakitnya?” Adinda memasang wajah sedih.
Lettu Abi berniat segera berdiri, ia berniat menjemput Rengganis saat itu juga. Ia ingin ada di sana menghibur gadis cantik yang pasti akan merasakan sakit yang teramat sangat setelah tahu kekasihnya telah bertunangan tepat di hari kepulangannya.
“Kalau pertunangan ini berlangsung bukan hanya Kapten Biru yang sakit tapi juga Mbak Rengganis bahkan Mbak Tika dan laki-laki yang kelak akan menikahi Mbak Rengganis pun akan merasakan sakit.” Lettu Abi mengurungkan niatnya yang akan segera berlari menuju bandara. Sebagai gantinya ia memasang telinganya baik-baik mendengar penjelasan Adinda.
Lettu Abi merasa kepalanya bagai tersambar petir. Hatinya baru saja tertohok dengan kata-kata gadis manja di hadapannya itu. Kata-kata Adinda 100% benar. Jika Lettu Abi memaksa masuk ke dalam kehidupan Rengganis kemungkinan luka yang akan dirasakan gadis itu akan berkali-kali lipat. Acapkali wajah Lettu Abi berada di depannya maka kenangan cintanya bersama Kapten Biru akan terus berputar menggerus perasaannya setiap waktu.
“Aku—aku—gak bisa,” tiba-tiba kata-kata itu melunjur begitu saja dari bibir tipis Lettu Abi.
“Heem,” Adinda tampak bingung. Belum sempat Dinda mendengar penjelasan Abimanyu, tiba-tiba suara teriakan Bu Danu terdengar memecah keheningan ruangan.
“Tika! Apa yang kamu bicarakan?” bentak Bu Danu. Semua yang ada di ruang itu menoleh ke arah mereka, suara keras mama berhasil memancing rasa ingin tahu semua orang.
Abi terdiam, ia tak ingin terlibat dengan masalah keluarga yang kini harus disaksikannya dari jarak dekat. Seandainya ia bisa mengecilkan tubuh agar tak terlihat, ia ingin sekali melakukannya saat ini. Keadaan menjadi tidak nyaman sama sekali untuk semua yang ada di ruangan penuh dekorasi bunga itu.
Kini, meski Tika telah masuk ke dalam kamar tapi keadaan panas masih terasa terlebih saat Adinda mencoba merayu kedua orang tuanya. Lettu Abi menyadari beberapa kali mata gadis itu mencuri-curi pandang ke arahnya.
Mungkin ia mengharap aku membantuannya. Batin Abimanyu.
“Mas Abi tolong kemari sebentar!” Adinda memanggil Lettu Abimanyu yang sejak tadi hanya duduk berdiam diri di salah satu sudut ruang.
“Aku yang akan menggantikan Mbak Tika,” ucap Adinda yang sukses membuat semua orang kaget bukan kepalang.
“Aku akan bertunangan dengan Mas Abi,” sambungnya.
“Ta—tapi,” Lettu Abimanyu tampak serba salah.
“Mas menyukai aku kan?” tembak Adinda.
Abi menggangguk pelan sambil mencuri pandang pada Pak Danu yang notabene adalah atasannya. Laki-laki itu tak tahu kenapa ia bisa menganggukkan kepalanya meski ia tahu memang benar ia menyukai Adinda tapi bukan sebagai pasangan tetapi lebih kepada perasaan seorang kakak pada adiknya.
“Aku tahu sejak dulu Mas Abi naksir aku tapi malu untuk mengungkapkannya. Sekarang aku memberi kesempatan Mas Abi untuk melamarku di depan orang banyak,” ucap Dinda penuh percaya diri. Abi terhenyak mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Adindavo. Mungkin perlakuannya selama ini telah membuat Adinda salah sangka terhadapnya.
“Aku—aku!” Abimanyu belum bisa menguasai diri dari keterkejutannya.
“Mau tidak?” desak Adinda.
“Kalau gak mau aku akan cari cowok lain mumpung masih ada waktu.” Adinda memegang handphonenya pura-pura akan menelepon seseorang.
“Tidak-tidak,” Lettu Abi merampas telepon genggam dari tangan Dinda.
“Izin, Komandan! Saya—saya—” Lettu Abimanyu mencoba merangkai kata-kata yang paling cocok untuk mengutarakan isi hatinya.
“Saya siap menjadi tunangan Adinda,” suaranya terdengar berat. Matanya terpejam untuk beberapa waktu.
Kata-kata Adinda benar, mungkin jalan ini adalah jalan yang paling baik agar gadis yang dicintainya bisa bahagia. Adinda pun bukanlah gadis biasa yang akan membuatnya kecewa. Dia gadis hebat, mungkin saatnya pertempuran batin ini berakhir. Ia harus menyerahkan semua perasaannya pada orang yang lebih berhak.
“Mulai saat ini aku akan mencoba mencintai Adinda sepenuh hati,” putusnya dalam hati.
__ADS_1
Sekian episode spesial Lettu Abimanyu ya, Kak. Tunggu kelanjutannya!
Bye!