MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
PUTUS ATAU BAIKAN


__ADS_3

“Akhirnya kamu meneleponku, aku kangen,” tembak Rengganis tanpa malu-malu.


Wanita itu seakan ingin mengungkapkan rasa hatinya yang begitu menggebu-gebu. Rengganis tak menyadari bara api yang sedang meletup-letup dalam hati Kapten Biru siap menyambar dan menghanguskan semua mimpi dan harapannya dalam waktu sekejap saja.


“Oh ya?” tanya Kapten Biru penuh tekanan.


“Kok jawabannya aneh begitu? Kali ini ada apa lagi?”


Otak gadis itu berputar, bayangannya kembali pada foto mesra laki-laki di seberang telepon dengan Tika, sahabat masa kecilnya.


Mungkin karena alasan itu Kapten Biru lama tak menghubungi, sekalinya menghubungi nada suaranya begitu dingin.


“Akankah Kapten Biru memutuskan cinta mereka demi Tika?” pikir Rengganis.


Dada gadis itu memburu, hatinya terbakar, rasa kecewa terpancar jelas di matanya. Wajah Tika menari-nari di depan matanya. Seolah sedang tertawa senang atas kemenangannya.


“Aku tahu,” suara Rengganis mulai sinis.


“Kamu begini karena ada orang lain diantara kita,” tebak Dokter muda itu jengkel.


“Wah rupanya kamu cepat tanggap ya gadis manja.” Kapten Biru berpikir Rengganis mulai mengakui kedekatannya dengan Fattan, sementara Rengganis pun tak kalah kaget mendengar jawaban Kapten Biru.


Gadis cantik itu berpikir jawaban Kapten Biru menunjukkan bahwa apa yang dipikirkannya tentang Tika dan Kapten Biru ternyata benar, Laki-laki yang dicintainya baru saja mengakui sendiri hubungannya dan Tika, hati Rengganis benar-benar menjadi kacau.


“Tempat ini sial sekali buatku,” pikir Rengganis lagi.


“Acapkali berada di sini aku hanya mendengar kata-kata sinis dari laki-laki ini. Tak akan lagi aku mau datang kemari, ini yang terakhir,” putus Rengganis.


“Dengar, jika kamu memang mencintai Tika kenapa tak sejak awal saja kamu mendekatinya, kenapa harus ada aku? Mengapa harus menyakiti hatiku dengan mengatakan kamu mencintaiku dan memintaku menunggumu pulang?” Nada suara Rengganis mulai bergetar.


“Tika? Ada apa dengan Tika?” Kapten Biru terlihat Bingung. Otaknya menangkap sesuatu.


“Ada yang tidak beres.” Pikir laki-laki gagah itu.


“Apa kamu mendapatkan fotoku bersama Tika?” tanya Kapten Biru, matanya memicing seakan sedang menganalisis sesuatu.


“Kenapa? Kamu kaget? Kamu pikir aku tidak tahu?” balas Rengganis ketus.


“Aku mohon jangan percaya, kita sedang diadu domba! Ada seseorang yang ingin membuat kita berpisah.” Kapten Biru mulai menyadari sesuatu.


“Maafkan aku yang sempat menyangsikan ketulusanmu. Aku yakin aku salah, Maafkan aku.” Hati Kapten Biru tiba-tiba sedingin salju.


Rengganis tampak bingung dengan perubahan yang mendadak terjadi pada kekasihnya itu.


“Apa maksud ini semua, tolong jelaskan padaku,” pinta Rengganis.


“Re, aku akan memutuskan sesuatu tentang hubungan kita. Aku tahu kita terlalu terburu-buru melangkah tapi percayalah, aku hanya mencintaimu di hatiku. Tak akan mudah bagi wanita lain masuk ke sana menggantikanmu, siapa pun itu.”


Dokter cantik itu tiba-tiba tersentuh, emosi dan amarahnya mereda seketika. Angin semilir seakan membelai rambutnya yang panjang memberi kesejukkan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.


“Sama, aku tak pernah mencintai laki-laki seperti aku mencintaimu,” jawab Rengganis memberanikan diri.

__ADS_1


“Aku tak bisa menghubungimu sesering mungkin, meski aku menginginkannya. Maafkan aku. Untuk kelancanganku meneleponmu kali ini saja aku tak tahu konsekuensi apa yang harus aku terima.” Kapten Biru memainkan jemari tangannya.


Rengganis terdiam, mencoba merasakan apa yang sedang dirasakan Kapten Biru, tiba-tiba ada rasa sakit yang menggerogoti hatinya mendengar kata-kata Kapten Biru yang seakan menyanyat hati.


“Rengganis, Sayang, dengarkan aku! Sebenarnya aku begitu berat mengatakannya tapi ini memang harus kita lakukan.”


Ada perasaan tak menentu yang kini membayangi kata-kata Kapten Biru.


“Jalanilah hidupmu dengan baik, jangan jadikan aku penghalang kebahagiaanmu. Aku tak mampu menjanjikanmu apa-apa. Aku pun tak bisa menjagamu.”


“Cukup!” Rengganis semakin tak tahan.


“Kamu harus cepat pulang, kamu harus menjagaku seperti kemarin.” Air mata jatuh di wajah cantik Rengganis.


“Aku sendiri tak pernah tahu kapan kami bisa kembali, Re. Hatiku ingin memelukmu, membawamu kemana pun aku pergi. Tapi apa yang aku bisa? Aku tak bisa apa-apa! Diriku ini milik negara, Re. Andai aku pulang, aku tak bisa pastikan akan selalu bersamamu. Mungkin esoknya, lusa, atau minggu depan aku akan pergi lagi jika bangsa ini memanggilku.”


“Kenapa kamu tak jujur padaku dari awal jika mau pergi, setidaknya aku bisa menyiapkan hatiku?” tanya Rengganis.


“Kamu tahu. Saat pertama kita berrtemu, aku baru kembali dari batalyon untuk mengikuti tes keberangkatan ke Libanon.”


“Lalu?” potong Rengganis tak sabar.


“Aku tak pernah tahu hati ini akan mengarahkan cintanya padamu dan aku tak bisa melawan. Seandainya aku tahu sejak awal, kita tak akan mungkin begini. Kamu datang di hidupku menerobos palang besar yang kupasang selama ini untuk makhluk bernama wanita.” Kapten Biru berhenti, menarik napas panjang, dan kembali meneruskan kata-katanya.


“Aku belum siap memiliki hubungan serius karena tak ingin hal memberatkan seperti ini terjadi. Tapi padamu, aku tak bisa menolak. Aku tak mampu mengingkarinya, hatiku selalu membawaku kepadamu. Aku selalu kalah dengan perasaanku.”


“Kapten,” Rengganis terisak. Seandainya laki-laki itu ada di depannya, dokter cantik itu pasti sudah memeluknya erat-erat dan tak akan melepaskannya lagi.


“Kapten dengar, aku tak akan bersanding dengan siapa pun kecuali denganmu. Aku hanya mau kamu, itu janjiku. Foto Fattan? Apalagi ini? Aku tak tahu. Percayalah dia bukan siapa-siapa untukku.” Rengganis mengiba.


“Aku tahu, aku yang salah. Aku percaya padamu. Untuk itu silakan terbang bebas, Dokter Rengganis. Saat kita bertemu kembali jika kamu masih sendiri, itu tandanya kamu adalah benar jodohku. Tapi jika nyatanya kamu memutuskan untuk berdua, aku akan tertawa asal kamu bahagia.”


“Maksudmu, Kapten?” Rengganis tak mengerti ke arah mana pembicaraan Kapten Biru.


“Kita akan berjumpa di hari itu. Dua tahun dari sekarang di warung pojok pertama kali aku melihatmu tertawa lepas. Aku sangat menantimu di sana. Jika kamu datang, berarti kamu menungguku, tapi jika kamu tak datang aku akan tetap memaafkanmu.”


Klik. Kapten Biru mematikan telepon.


Laki-laki tampan itu memegang dadanya yang terasa begitu nyeri.


Kapten Biru menguatkan diri berjalan kembali ke camp-nya. Ia tak ingin kehilangan Rengganis. Hanya gadis itu yang dapat dicintainya. Hanya Rengganis. Kapten Biru menggigit Bibirnya mengurangi sakit yang tak tertahan.


Rengganis menangis sejadi-jadinya di dalam ruang telepon. Gadis itu tak mengerti apa yang diinginkan Kapten Biru sebenarnya. Ia benci namun ia juga membenarkan apa yang dipikirkan Kapten Biru. Dengan bersama seperti ini akan banyak masalah yang membuat mereka berdua semakin menanggung kesedihan.


Keterbatasan komunikasi pun menjadi alasan yang memperburuk hubungan mereka.


Gendis dan Mbak Katmia berdiri di luar. Mereka memahami perasaan dokter mereka. Hanya diam dan saling memandang yang bisa mereka lakukan. Saat Rengganis keluar dengan mata sembabnya, kedua wanita itu mengikuti langkah kaki Rengganis yang terlihat gontai.


“Kita pulang, Dokter?” tanya Mbak Katmia.


“Bawa aku ke warung Mas Udai.”

__ADS_1


“Sekarang Dokter?” Mbak Katmia seperti tak percaya.


“Iya.”


“Ba-baik.”


Mbak Katmia menstater motor maticnya dan melaju di jalan berbatu desa.


“Selamat siang, Bu.” Sapa Mbak Winah yang sedang bebenah warung merapikan dagangannya.


“Siang, boleh saya duduk.”


“Silakan, Bu. Oh ya, mau makan apa?” tanya Mbak Winah.


“Kok Bu Dokter di sini, bukannya di puskes lagi rame. Mas Udai juga di sana.” Mbak Winah terus saja mengoceh panjang dan akhirnya mulutnya berhenti setelah melihat kode Mbak Katmia yang menempelkan telunjuknya di bibir.


Kedua wanita itu akhirnya membiarkan Dokter Rengganis duduk sendiri di sebuah pohon kelapa tumbang yang malam itu menjadi tempat mereka duduk berdua.


Bayangan dari daun pohon rambutan yang lebat membuat suasan sejuk di ujung dahan pohon patah itu.


“Mbak Winah sini sebentar,” pinta Rengganis.


“Bolehkan aku minta tolong sesuatu?”


“Boleh Dokter, silakan.”


“Bisakan batang pohon ini tetap ada di sini dua tahun lagi.”


Mata Mbak Katmia dan Mbak Winah saling beradu pandang tak mengerti.


“Em … em.” Mbak Winah ragu.


“Bisa … bisa, pokoknya pasti bisa ya Mbak Winah.” Mbak Katmia menyenggol lengan Mbak Winah sambil menberi kode dengan wajahnya.


“I-i-iya Bu Dokter, Bisa.”


“Terima kasih, Mbak.” Rengganis menunduk mengusap-usap bagian batang pohon yang ternyata terpahat inisial namanya dan kapten Biru.


“RB”


Entah kapan Kapten Biru memahatnya. Rengganis tak menyadarinya malam itu. Hatinya sedih memandang tulisan tangan yang terasa begitu indah itu.


Cekrek, Rengganis mengeluarkan phonecellnya dari dalam saku dan memotretnya.


“Ayo, Mbak Katmia kita pulang," ajak Rengganis dengan langkah lesunya. Wanita itu tak pernah tahu bagaimana status dirinya dan Kapten biru saat ini.


Apakah yang baru saja terjadi padanya? Ia tak paham, apakah baru diputuskan cintanya atau malah dibuatkan hubungan yang lebih baik oleh Kapten Biru.


Bagaimana kelanjutan kisahnya?


Jangan lupa like, komen juga vote-nya ya.

__ADS_1


__ADS_2