
Seorang laki-laki kurus berkacamata meringkuk ketakutan di sudut sebuah ruang dengan cahaya temaram. Kursi goyang yang sebelumnya menjadi singgasana kekuatannya kini dibiarkan kosong.
Brandox, lelaki kuat yang selama ini selalu diandalkannya sebagai tameng telah tumbang.
Jeritannya yang melengking bagai lolongan panjang serigala hutan memanggil semua kaki tangannya yang sedang berjaga di luar pun tak membuahkan hasil. Nyali Bono ciut, bibirnya bergetar, keringat dingin mengalir di sekujur tubuh yang tak henti gemetaran.
“Ampun,” Bono melipat kedua tangannya mengharap belas kasihan Kapten Biru yang terlihat sangat marah.
“Dimana Rengganis?” Pria tampan itu menarik kerah baju Bono.
“Saya—saya tidak tahu. Sumpah, Pak. Dia lari. Gadis bodoh itu menipuku. Dia bilang mau jadi istriku nyatanya ia lari pergi meninggalkanku.” Bono menjawab dengan penuh ketakutan.
Tangan Kapten Biru terkepal sempurna siap menghajar wajah Bono yang sudah pucat pasi. Namun, diurungkannya. Banyak yang menjadi pertimbangan laki-laki muda itu. Sebenarnya dengan sekali pukul saja yakinlah tulang-tulang Bono akan remuk-redam.
Bono menceritakan semua kejadian yang terjadi hari ini pada Kapten Biru. Ia berbicara jujur, ketakutan dalam hatinya membuatnya lancar mengatakan semua kebenaran yang terjadi.
“Dengar, aku akan urus kamu selanjutnya. Sekarang Aku akan menemukan Rengganis terlebih dahulu. Ingat! Jika terjadi sesuatu pada gadis itu, bersiaplah, aku akan membalasmu,” ancam Kapten Biru.
“Sersan Leo, amankan laki-laki ini!” Seorang tentara muda masuk ke dalam ruangan. Tangannya dengan gesit menjalankan perintah atasannya.
“Siap, Kapten.” jawabnya tegas.
Kapten Biru bergegas meninggalkan ruangan itu.
“Lettu Abi bawa beberapa orang prajurit, ikut aku!”
"Siap." Lettu Abi bergegas memilih pasukannya.
Kapten Biru, Lettu Abimanyu dan beberapa prajurit terpilih lainnya segera menyusuri rute yang diberikan Bono. Mereka berjalan menuju pintu gerbang belakang perkebunan keluarga Plenggo Hadi sesuai dengan apa yang dikatakan laki-laki lemah itu.
Pintu itu terkunci rapat. Tak ada satu orang pun di sana. Sepertinya pekerja yang bertugas mengunci pintu pagar pun telah menghilang.
“Pintunya terkunci, Komandan,” seorang prajurit bernama Angga melapor pada Kapten Biru.
“Bengkokkan pagar kawat di sana sepertinya duri-duri itu tidak terlalu berkarat. Kita keluar dengan merayap. Cara itu akan lebih efektif daripada mencoba membobol gembok-gembok besar ini." perintah Kapten Biru.
“Siap,” jawab Pratu Angga.
Dengan peralatan seadanya mereka mencoba membengkokkan pagar kawat berduri yang cukup kuat itu. Tak berapa lama kawat-kawat di dua urutan terbawah terputus. Kesepuluh laki-laki tangguh itu mulai merayap tanpa kesulitan. Melewati perbatasan tanah luas milik keluarga Bono dan padang rumput liar yang cukup luas.
“Berpencar!” perintah Kapten Biru lagi.
“Siap,” jawab mereka serempak.
Para prajurit itu berpencar memecah kesunyian dan kegelapan tanpa rasa getar menaklukan padang alang-alang yang lebat, memasuki perkebunan yang gelap gulita dan penuh dengan pepohonan besar tinggi menjulang yang berusia puluhan tahun.
__ADS_1
“Kapten,” teriak salah seorang prajurit di tengah keheningan.
Semua tampak mendekati sumber suara. Mencoba mengetahui apa yang terjadi.
“Ini.” Dika menunjuk sebuah sapu tangan kotak-kotak berwarna biru di tanah.
Dengan penerangan yang cukup minim dari bola lampu senter yang mereka bawa. Mata Kapten Biru tampak mengenali sapu tangan yang tergeletak itu.
“Ini sapu tangan milikku,” ucap Kapten Biru.
Ia teringat, hari itu Dokter Rengganis tampak begitu terpuruk, gadis manja itu menangis sejadi-jadinya melepaskan semua perasaan bersaah dalam hatinya.
Rengganis merasa amat terluka karena tak mampu menyelamatkan bayi Pak Risno. Sapu tangan kotak-kotak itu diberikannya untuk menyeka air mata Rengganis yang tumpah membasahi pipinya yang putih.
“Kamu dimana, Rengganis?” Kapten Biru menggenggam erat sapu tangan yang baru saja ditemukan itu.
“Mungkin belum jauh dari sini, Kapten!” Lettu Abimanyu mengedarkan pandangannya.
Kapten Biru memandang cahaya bulan yang bersinar dari balik daun-daun pohon tanjung yang besar dan mengerikan ini.
“Bersabaah, Re. Aku akan datang. ” Kapten Biru terlihat penuh kecemasan.
“Ayo kita cari lagi!” perintah Kapten Biru seperti tak mengenal kata lelah meski seharian ini ia tak merasakan sebutir nasi juga seteguk air masuk ke perutnya.
“Kita sampai dipermukiman, apa mungkin Dokter Rengganis selamat sampai ke kampung ini, Kapten?” tanya Kopral Dika.
“Aku berharap begitu. Ayo kita cari.” Kapten Biru tampak kembali bersemangat.
“Sebagian warga sepertinya belum mulai beraktivitas, Kapten. Apa perlu kita mengetuk pintu mereka untuk menanyakan keberadaan Dokter Rengganis?” saran Pratu Angga.
“Tidak perlu, Kita coba cari rumah kepala desa, semoga ia mengetahui informasi yang kita butuhkan,” jawab Kapten Biru sambil mempercepat langkahnya.
Laki-laki itu betul-betul tak sabar ingin mendapatkan kabar tentang gadis yang telah membuatnya hampir tak bisa bernapas sangking gugupnya seharian ini.
“Sepertinya ini.” Kapten Biru berhenti di sebuah rumah luas penuh ornamen berukiran jepara yang terbuat dari kayu jati. Pagarnya yang kokoh serta cet berwarna biru tua terlihat sangat mencolok dibandingkan rumah yang lain di sekitarnya.
“Assalamu’alaikum.” Suara Kapten Biru sengaja diperkeras agar si empunya rumah dapat mendengar salamnya.
Pratu Angga dan prajurit lainnya mencoba mengelilingi pagar bangunan rumah siapa tahu bisa membantu memanggil pemilik rumah yang dituju.
“Kletek,” Sepasang suami istri tetangga pak kades tampak keluar dari rumah. Ia berdiri mematung di depan pintu, seperti sedang menduga-duga kejadian apa yang tengah terjadi di rumah Pak Hasbi hingga rumah kepala desa mereka seperti sedang dikepung prajurit-prajurit berpakaian loreng lengkap.
Lettu Abi yang melihat kehadiran mereka segera mendekat. Ia menjelaskan apa yang terjadi.
“Oh biar saya bantu panggil, Pak. Biasanya pembantu rumah pak kades sudah bangun, tapi hanya bisa dipanggi lewat jendela belakang. Sebentar.” Laki-laki tua berambut putih dan mengenakan sarung itu berjalan cepat mengitari rumah pak kades.
__ADS_1
Tak lama pintu gerbang pagar dibuka seorang laki-laki muda.
“Silakan masuk, Pak. Sebentar Pak Hasbi keluar.” Seorang pemuda mempersilakan tentara-tentara itu untuk masuk ke dalam rumah meski wajahnya terlihat penuh keheranan dan ketakutan.
“Jangan takut, kami tidak punya niat buruk di sini. Ada beberapa pertanyaan yang harus saya ajukan pada pak kades.” Kapten Biru tersenyum, ia mengerti perasaan bingung dan takut yang dirasakan pemuda di hadapannya.
“Maaf lama menunggu, Saya sedang bersiap ke masjid jadi di belakang lagi ambil air wudu tidak terdengar ada orang yang memanggil.” Pak Hasbi si kepala desa datang dan mengambil posisi tempat duduk yang terdekat dengan pintu masuk ruang keluarganya.
“Oh tidak apa-apa, Pak," ucal Kapten Bayu
"Ada yang bisa saya bantu, Pak? Bapak-bapak pasti punya urusan yang sangat penting hingga datang kemari dalam waktu seperti ini." Pak Hasbi bertanya dengan santun.
" Bagini, Pak. Apa Bapak bisa membantu saya mencari seorang gadis?” tanya Kapten Biru to the point.
Tak disangka Pak Hasbi terlihat kaget. Wajahnya menunjukkan jika ia mengetahui keberadaan Rengganis.
“Bapak datang di tempat yang benar.” Pak Hasbi mencoba menguasai dirinya lagi.
“Tadi malam warga saya yang baru pulang dari berburu kelelawar di goa kecil pinggir hutan menemukan gadis tergeletak di perkebunan. Awalnya mereka pikir itu mayat gadis yang dibuang, tetapi saat dipegang nadinya masih berdenyut, mereka lantas membawanya ke sini. Saya sempat bingung dengan identitas gadis itu, tapi alhamdulillah Bapak-bapak datang membawa titik terang. ”
Kapten Biru tampak menghela napas lega.
“Dimana gadis itu sekarang, Pak?” tanya Kapten Biru tak sabaran.
“Ada di paviliun belakang. Saya minta Mbok Garno, asisten rumah tangga saya yang tunggu, tadi malam sempat diperiksa sama mantri desa kami.”
“Bagaiaman keadaannya?” serang Kapten Biru, laki-laki itu tampak memajukan tubuhnya dalam posisi duduk tampak tak bisa menguasai perasaannya.
“Memang banyak ditemukan luka disekujur tubuhnya, tapi alhamdulillah semuanya baik, hanya mungkin sedikit syok dan sampai saat ini masih pingsan belum sadar. Tadi saya berencana akan membawanya ke balai pengobatan jika belum sadar juga hingga saya selesai sholat subuh,” terang Pak Hasbi.
“Mari saya antar.” Pak Hasbi berdiri mempersilakan Kapten Biru untuk mengikutinya.
Tanpa komando dua kali laki-laki yang detak jantungnya sudah tak menentu itu segera berdiri dengan sangat cepat. Kakinya melangkah hati-hati melewati meja ketapang yang terdapat di ruang tamu Kepala Desa Sidoraharjo, kepala desa yang terkenal sangat dicintai warganya. Desa yang dipimpinnya juga aman dan damai. Tak ada tindak kriminalitas dan kejahatan yang terjadi di desa ini. Bahkan brandalan kampung sebelah pun tak berani mengusik kampung satu ini.
Dulu, pernah terjadi pemuda desa sebelah menyerbu masuk ke desa Sidoraharjo, berniat membakar rumah salah satu warga yang menjadi pesaingnya dalam memperebutkan hati Siti Rahayu, bunga desa Sodoraharjo ini.
Namun, dengan tanggap dan gagah berani kepala desa mereka, Pak Hasbi membuat gerombolan pemuda nakal itu kocar-kacir.
Selain pemberani, Pak Hasbi juga terkenal sakti. Kemampuan yang dimilikinya adalah warisan dari nenek moyangnya yang terkenal sebagai dukun paling sakti di kampung itu bahkan nama besarnya pun sangat di takuti di kampung-kampung sekitar.
Bisa dibayangkan perasaan Kapten Biru setelah menemukan kekasihnya yang telah membuatnya kalang-kabut semalaman?
Apa yang akan dilakukan Kapten Biru saat bertemu dengan Dokter Rengganis?
Jangan lupa untuk baca kisah selanjutnya!
__ADS_1