MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
FIRASAT


__ADS_3

Senja hampir sampai, mentari bersiap untuk turun lebih jauh ke dasar bumi. Seorang kapten tampan bersama pasukkannya berjalan dalam barisan menuju camp tempat mereka biasa menghabiskan malam untuk beristirahat, mengembalikan lelah pada gelap malam dan menyongsong pagi sebagai awal latihan baru yang harus mereka jalani.


Tidak seperti biasa, sejak tadi hati Kapten Biru serasa terombang-ambing tak menentu. Ada yang membuatnya merasa tak nyaman. Sejak kepergian Dokter Rengganis, kapten tampan itu seolah-olah merasa kehilangan sesuatu. Ada yang tak biasa yang dirasakan hatinya. Ia ingin secepatnya menemui Rengganis.


“Lettu Abi, ambil alih pasukan!” perintahnya.


“Siap,” jawab Lettu Abimanyu setengah berteriak dari dalam barisan.


Kapten Biru segera mempercepat langkahnya dan setelah cukup jauh meninggalkan pasukan yang tetap berjalan, Kapten muda itu berlari secepat yang ia bisa.


“Komando,” Seorang prajurit memberi hormat kepada Kapten Biru.


Kapten muda itu membalas penghormatan dan berjalan melewati prajurit tadi.


“Kapten, ini tadi titipan dari Mbak Retno yang jualan makanan di sisi hutan.” Seorang prajurit yang mendapat giliran jaga camp memberikan tempat makan berwarna hijau muda kepada Kapten Biru.


“Oh ya, terima kasih.”


“Katanya itu dari dokter cantik tadi.”


“Dokter Rengganis?” Kapten Biru menghentikan langkahnya.


“Iya, Kapten. Mbak Dokter.” Prajurit itu tersenyum kecil.


“Kenapa tersenyum?"


“Siap salah.” Prajurit hitam manis itu menyadari kekeliruannya dan bersiap menerima hukuman.


“Jangan bilang dia can—ais, sudahlah. Kamu boleh pergi!” kapten Biru tampak tak nyaman jika ada seseorang yang menyukai Dokter Rengganis.


“Eh tunggu. Apa dokter itu sangat cantik menurutmu?”


“Caaantik Kapten.” Laki-laki itu mengatakannya dengan takut-takut.


“Haduh, cantik apanya?” Kapten Biru berusaha menutupi senyumnya.


“Siap Kapten.” Prajurit itu tampak bingung menerjemahkan perkataan komandannya.


“Oke, silakan lanjutkan tugasmu!” Kapten Biru melanjutkan perjalanan. Ia mengambil sepeda motor dan berniat melihat keadaan Rengganis di puskes. Setidaknya melihat gadis itu baik-baik saja sudah bisa membuat debaran yang tak biasa dalam dadanya ini sedikit berkurang.


Kapten Biru melewati jalan-jalan terjal dalam hutan yang bertipografi perbukitan untuk sampai ke ujung jalan desa. Kemampuannya berkendara rupanya tak bisa dianggap remeh. Dengan segala kemampuan yang dimiliki, akhirnya motor yang dipergunakan untuk sarana operasional latihan itu sampai di bibir hutan.


Barisan tenda-tenda dagang yang dibuat secara darurat berjejer rapi.


“Makan, Pak?” tawar mereka saat Kapten Biru melintasi tenda-tenda jualan para pegangan dadakan itu.


Laki-laki bertubuh tinggi itu hanya tersenyum sambil mengganggukkan kepalanya dengan ramah sebagai penolakkan halus terhadap penawaran mereka. Ia jadi ingat dengan kotak makan berwarna hijau muda yang dititipkan dokter cantik yang mampu membuat perasaannya selalu tak menentu itu.


“Mungkin sudah basi,” pikirnya.


Kapten Biru menghentikan sepeda motornya tepat di depan pintu pagar puskes yang tak terlalu besar itu. Pak Hari, tersenyum menyambut kedatangan Pemuda gagah yang menjadi idola para gadis desa mereka.


“Kapten.” Pak Hari yang sedang memotongi tumbuhan pagar di depan puskes menghentikan kegiatannya.

__ADS_1


“Iya, Pak. Selamat sore.”


“Sore Kapten. Ada yang bisa saya bantu?” Tatapan matanya penuh tanda tanya.


“Dokter Rengganis ada?”


“Bukannya masih di tempat latihan, Kapten?” Pak Hari menjadi ikut bingung.


“Tadi ada Pak Ujang, penduduk desa yang menjemput Dokter Rengganis pulang ke sini, katanya ada banyak pasien menunggu dokter Rengganis?”


“Pak Ujang, Kapten?” Bidan Maya tiba-tiba muncul dengan wajah pucat.


“Iya, kata Mbak Astuti pria tua tadi bernama Pak Ujang. Ada apa?”


“Aaaaaa.” Bidan Maya menjerit histeris. Wanita itu terduduk di tanah. Tubuhnya lemas seketika. Bayangan masa lalu membuat perempuan paruh baya itu menangis sejadi-jadinya.


“Tolong Dokter Rengganis Kapten,” ucapnya berbarengan dengan isak tangis.


“Ada apa? Ceritakan padaku lebih jelas. Aku tidak mengerti.”


“Saya tidak bisa menceritakannya secara detil. Kita tidak punya banyak waktu. Kita harus menyelamatkan Dokter Rengganis dan Astuti,” jawab Bidan Maya dengan panik.


“Baik, kemana saya bisa mencari Pak Ujang?”


“Biasanya pria gila itu akan menghilang beberapa bulan jika sudah mendapatkan uang dari orang yang membayarnya.”


“Kapan dia menjemput Dokter Rengganis, Kapten?” tanya Bidan Maya.


“Tadi pagi sekitar pukul Sembilan atau sepuluh.”


Kapten Biru bergegas mengendarai motornya. Satu tempat yang ada dalam otaknya saat ini. Kembali ke tenda pedagang dadakan.


“Retno,” ucapnya.


Dengan kecepatan penuh sepeda motor yang terlihat sangat tangguh itu berlari bagai kuda yang dicambuk penuh oleh penunggangnya hingga hanya butuh beberapa menit saja untuk sampai di pinggiran hutan tempat Retno berjualan. Hanya dia petunjuk satu-satunya saat ini.


“Siapa yang bernama Retno?” tanya Kapten Biru begitu sampai di deretan tenda dagang.


“Saya, Komandan.” Seorang wanita berkerudung coklat yang sedang sibuk menggoreng pisang menunjuk.


“Ceritakan padaku apa yang Mbak lihat tentang Dokter Rengganis saat pergi dari sini!”


“Oh dokter cantik itu pergi bareng Pak Ujang sama Mbak astuti. Tadi sempet titip kotak makan ke saya, dia bilang untuk Kapten. Tapi beneran Kapten, bekalnya sudah saya titip di pos.”


“Bukan itu maksud saya, naik apa, dengan siapa dan ke arah mana mereka pergi?”


“Tadi pergi naik mobil bagus warna hitam ke arah sana, Kapten.” Tunjuk Mbak Retno.


“Saya agak curiga sama sopirnya. Mukanya serem, rambutnya gondrong, ada tatonya lagi.” Sambung Mbak Retno.


“Deg.” Hati Kapten Biru terasa berhenti.


“Ini plat mobilnya sempet saya catet, abis nakutin sih.” Mbak Retno memberikan buku catatan belanjaannya pada Kapten Biru. Ia memang sempat mencatatnya di bagian atas buku itu.

__ADS_1


“Saya pernah lihat mas-mas gondrong itu kumpul sama para preman kampung di ujung gardu sana, Komandan. Waktu itu saya lihat mereka sedang mabok sore-sore,” ucap Bude Kanti jujur.


“Hus,” Pakde Karyo memberi isyarat istrinya untuk berhenti mengomel. Ia takut jika nanti akan jadi bulan-bulanan para berandal kampung jika sampai mereka tahu Bude Kantilah yang telah membocorkan informasi tentang mereka.


Kapten Biru berjalan mendekati Bude Kanti.


“Jangan takut, Bu. Kami akan melindungi Kalian. Sudah waktunya kami membersihkan kampung ini dari segala bentuk premanisme.” Kapten Biru berkata dengan sungguh-sungguh.


“Saya pergi dulu, Ada yang harus saya kerjakan,” pamit Kapten Biru. Tangannya tampak bergerak meraih handy talky yang terselip di pinggangnya.


“Grubak-grubuk, Byaar.” Suara kegaduhan tiba-tiba terdengar di sebuah pos ronda ujung kampung.


Segerombolan pemuda lari kocar-kacir ke segala penjuru saat satu regu pasukan berbaju loreng menggerebek mereka dengan tiba-tiba.


Kartu judi bertaburan, botol-botol kosong bekas miras yang telah habis ditegak mereka pun bergelimpangan memenuhi pos yang seharusnya digunakan untuk hal-hal yang baik.


“Prak-prak-prak.” Dengan gerakan patah-patah pasukan yang diturunkan berhasil menangkap semua pria mabuk yang tadi berusaha kabur. Beberapa orang diantaranya masih dalam pengaruh alkohol yang begitu kuat hingga tubuh mereka terhuyung-huyung tak tentu arah.


Kapten Biru mendekati salah seorang dari mereka yang terlihat paling sadar dibanding yang lain.


“Apa kamu tahu laki-laki bertato, rambut panjang dengan tubuh besar? Beberapa hari yang lalu ia datang kemari.”


“Tidak.” Laki-laki itu acuh tak acuh.


“Sekali lagi saya tanya kepada Anda, Apakah Anda mengenal laki-laki bertato dengan rambut panjang dan berbadan besar?”


“Kalau pun saya tahu, Anda tidak akan bisa memaksa saya.” Laki-laki itu mencoba melepaskan tinjunya ke arah Kapten Biru, dengan kecepatan kilat tinjuan tanggung itu dengan mudah langsung dimentahkan oleh Katen Biru dan menghantam bagian bibirnya sendiri seperti senjata makan tuan. Darah segar mengalir dari bibirnya yang tertabrak gigi-giginya yang sedikit lebih maju.


“Bawa semua ke kantor polsek!” perintah Kapten Biru.


“Siap.”


“Tu—tunggu, saya akan beritahu tapi jangan bawa saya ke kantor polisi. Saya akan bekerja sama dengan Anda. Tapi tolong jangan bawa saya ke sana, Pak.” Si gigi mancung memohon. Rupanya ia takut jika sudah mendengar kata penjara, dia cukup trauma dengan hukuman yang baru saja menjeratnya.


Ya, Laki-laki kurus itu memang baru sebulan ini keluar dari penjara dengan kasus menganiayaan isterinya. Ia tak ingin mengalami kejadian buruk itu lagi. Sebenarnya ia sudah tak ingin lagi bergabung dengan gank berandal kampung tetapi ia tak punya nyali untuk menolak ajakan mereka.


Karena itulah sore ini ia tak ikut mabuk seperti yang lain, Ia hanya menegak sedikit saja alkohol yang ada, itu pun karena alasan tak enak.


“Baik, katakan.”


“Laki-laki seram itu namanya Brandox, Pak. Dia anak buah Den Bono.”


“Bono?”


“Anak juragan Plenggo Hadi, orang paling kaya di desa ini. Keluarga merekalah yang selalu menyuplai minuman dan makanan untuk kami.”


Kapten Biru mengangguk paham.


“Lalu dimana mereka sekarang?”


“Ma—maaf, Pak. Saya benar-benar tidak tahu.”


“Rengganis, kemana aku harus mencarimu? Apa yang terjadi padamu?” Kapten Biru begitu cemas memikirkan keberadaan gadis pertama yang berhasil masuk ke dalam hatinya.

__ADS_1


Mampukah Kapten Biru menemukan Dokter Rengganis?


Tunggu kisah selanjutnya ya!


__ADS_2