
“Apa kamu tahu seberapa besar perasaanku padamu?” Bibir Plenggo bergetar.
Maya hanya tertunduk, ia tak mampu menjawab semua perasaan laki-laki yang berdiri berkacak pinggang di depannya.
“Tidakkah kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku? Mungkinkah ada sedikit niat untuk membalas cinta tulusku ini, Maya?”
Plenggo yang tiba-tiba datang ke puskesmas dalam keadaan mabuk, mengeluarkan ribuan kata-kata yang membuat bidan desa itu terdiam seribu bahasa.
Apa yang dilihat Plenggo tadi sore membuat hatinya begitu panas, darahnya mendidih. Adegan kedekatan Maya dan Hasbi membuat Plenggo naik pitam.
Kini, keinginan laki-laki itu hanya satu, memiliki Maya seutuhnya. Entah apa yang ada di dalam benaknya? benar-benar cinta atau hanya sekadar obsesi karena tak ingin dikalahkan seorang Hasbi, teman masa kecilnya.
“Aku—aku,” Mulut Maya terasa kaku.
“Aku berjanji akan membahagiakanmu, May.” Plenggo berlutut di hadapan gadis berkaus merah maroon itu.
Maya hanya terdiam mematung.
“Aku tak bisa.” Maya menundukkan wajahnya.
“Apa karena Hasbi?” Nada suara Plenggo mulai meninggi.
“Entahlah, aku juga tak tahu apa yang sebenarnya diinginkan hatiku. Setidaknya untuk saat ini aku tidak ingin memutuskan sesuatu yang penting untuk hidupku.” Maya terisak.
Plenggo berdiri, menarik tangan Maya untuk mengikuti langkahnya.
“Ikut aku! Kamu tidak perlu bingung memilih antara kami berdua.” Plenggo tersenyum sinis.
“Naik!” Plenggo memerintahkan Maya naik ke atas mobilnya.
“Apa-apaan ini, Mas?” teriak Maya marah. Pergelangan tangannya terasa sakit.
“Kamu akan tahu.” Plenggo mendorong tubuh Maya sekuat tenaga.
Dengan kasar Plenggo mencoba meraih wajah Maya, laki-laki itu berusaha mencium wanita yang terus meronta-ronta itu.
“Ikuti mauku jika tak ingin mati!” ancam Plenggo.
“Dasar laki-laki gila!” Maya menampar wajah Laki-laki yang sudah kesurupan iblis jahat itu.
Plenggo berhenti sesaat, tangannya mengelus pipinya yang terasa panas oleh tamparan kuat tangan Maya, laki-laki itu tak membalas, ia hanya terus tertawa penuh semangat melihat usaha Maya membuka pintu mobil yang telah dikuncinya dengan rapat itu tak juga berhasil.
“Percuma kamu menolakku. Malam ini kamu akan menjadi milikku seutuhnya. Tak akan pernah ada nama Hasbi lagi dihidupmu.” Plenggo melancarkan kembali aksinya.
“Tooooloooong, tolooong aku!” Maya berteriak sekeras-kerasnya sambil meratapi nasibnya.
“Berteriaklah sepuasmu. Tak akan ada yang membantumu di tengah malam yang sunyi ini.” Ya, Plenggo memang mendatangi Maya lewat tengah malam. Setelah puas minum-minuman keras bersama para penggangguran dan remaja bandel kampung lainnya.
Setelah otaknya dipengaruhi alkohol, keberaniannya menjadi berlipat ganda. Ia membawa mobil dengan kencang menemui Maya tanpa peduli hari telah menunjukkan pukul satu pagi.
“Ampun, Mas. Maafkan aku.” Maya memohon untuk dilepaskan.
“Hahaha,” tawa Plenggo membahana.
Tiba-tiba—
“Prang,” Hasbi memecahkan kaca mobil Plenggo. Sontak pemuda kalap itu menghentikan tindakannya.
“Sialan!” Plenggo membuka pintu mobil dan segera mendekati Hasbi yang berdiri tak jauh dari pintu mobil.
Dua laki-laki itu baku hantam, bergulat, saling meninju dan menendang. Tak ada yang mau mengalah. Semua tampak mengeluarkan seluruh tenaga yang ada. Berusaha saling menyakiti satu sama lain.
Plenggo yang setengah mabuk pastinya tidak diuntungkan dalam hal ini. Wajahnya penuh luka. Bibirnya pecah mengeluarkan tetesan darah segar. Hasbi pun yang notabene jago silat tak luput dari luka di tubuhnya. Goresan dan memar pada wajahnya yang lembut mengurat merah.
Sementara Maya terduduk di sisian mobil tak jauh dari pergumulan itu terjadi. Bajunya compang-camping, tangisnya tak juga berhenti.
Hatinya benar-benar kacau, ketakutan menguasai penuh dirinya. Bayangan kejadian menjijikkan yang hampir merenggut segalanya dari gadis itu membuatnya gemetar.
“Ayo,” Hasbi menarik lengan Maya untuk berlari sekuat tenaga mereka.
Maya melirik Plenggo yang jatuh terlentang masih berusaha untuk bangkit dengan sisa-sisa tenaganya.
“Cepat,” Hasbi menarik lengan Maya, Laki-laki itu tahu tak lama lagi para berandal kampung akan datang membantu Plenggo. Setiap harinya mereka memang teman sepergaulan Plenggo.
__ADS_1
Maya tak punya pilihan. Ia menuruti semua perkataan Hasbi.
“Kita mau kemana?”
“Ke rumahku.”
“Tapi—”
“Tak ada tapi-tapian, tempat ini berbahaya untukmu sekarang.”
Melalui jalan pintas yang panjang memecah hutan kecil, Hasbi berjalan pelan menggandeng erat tangan Maya. Tanpa penerangan dua orang itu berjalan merayapi hutan hanya dengan bantuan cahaya bulan purnama.
“Pelan-pelan.” Hasbi memperingatkan Maya.
“Kakiku sakit,” keluh Maya.
Hasbi menunduk dan baru menyadari Maya berlari tanpa alas kaki. Ia menduga kaki gadis itu pasti sudah penuh dengan luka.
Hasbi melepas sepatunya.
“Pakai ini.” Laki-laki itu mempersilakan Maya mengenakan sepasang sepatu olahraga miliknya.
“Tidak usah, aku tidak apa-apa. Kamu saja yang pakai,” tolak Maya.
“Kamu saja, aku sudah biasa berkeliaran di hutan tanpa alas kaki. Pakailah! Atau kita tidak bisa melanjutkan perjalanan,” ancam Hasbi.
Akhirnya Maya mengikuti keinginan laki-laki itu.
“Ayo,” Hasbi mulai membimbing Maya berjalan kembali, melewati hutan kecil yang memisah kampung Plenggo dan kampung halamannya.
“Boleh aku bertanya?” Maya membuka suara.
“Silakan.”
“Bagaimana kamu bisa ada di sana tepat waktu? Aku membayangkan jika tak ada kamu, apa yang akan terjadi padaku?” Maya menutup kedua matanya ngeri membayangkan masa depan yang harus dilaluinya jika hal buruk tadi benar-benar terjadi.
“Ayah yang bilang. Aku harus menolongmu.”
“Bagaimana ayah bisa tahu aku dalam bahaya?”
“Ayolah ceritakan,” Maya mencoba memaksa Hasbi.
“Kakek buyutku dulu termasuk orang pintar, ayah mewarisi kemampuannya.”
“Orang pintar? Dukun maksudnya?” Maya menghentikan langkahnya.
“Paranormal.” Hasbi tersenyum, Maya ikut tertawa kecil.
“Apa kamu juga memilikinya?”
“Biasanya bila keturunan yang diwariskan kemampuan itu meninggal, baru ilmu itu akan memilih keturunan lain yang akan menjadi ahli waris berikutnya.”
“O begitu.” Maya mengangguk-angguk.
“Itu rumahmu kan?” Maya menunjuk ke sebuah rumah dengan cahaya terang.
“Iya. Kamu masih ingat.”
“Tentu saja, aku takkan pernah bisa melupakan kehangatan keluargamu.”
Hasbi mengangguk senang mendengar perkataan Maya.
“Ayo masuk,” Ibu Hasbi memeluk Maya begitu mereka tiba di depan rumah.
“Malsya siapkan air hangat!” Malsya dengan cepat melaksanakan perintah Ibu.
“Jangan lupa buatkan juga teh panas untuk Masmu dan Mbak Maya,” teriak Ibu.
“Iya, Bu,” jawab Malsya dari belakang.
“Ayo ke kamar Malsya saja,” Ibu membantu Maya berjalan. Sepertinya wanita tua itu paham Maya kurang nyaman berada di ruang tamu dengan pakaiannya yang robek tercabik-cabik sperti ini.
“Bagaimana?” tanya ayah pada Hasbi. Maya sempat mendengar petanyaan itu. Namun, telinganya tak dapat menjangkau lagi apa yang dibicarakan ayah dan Hasbi setelahnya.
__ADS_1
“Keluar kalian! keluar!” Terdengar teriakan riuh dari depan rumah keluarga Hasbi.
“Apa itu, Pak?” Ibu tampak panik.
“Kalian di sini saja,” Bapak bergegas meninggalkan para wanita di keluarganya itu di kamar Melsya sementara laki-laki tua itu keluar menghadapi kerumunan orang yang membawa banyak obor ditangan-tangan mereka.
Maya yang masih memegang cangkir teh ikut kaget dab kembali ketakutan. Tubuhnya gemetar hebat.
Air hangat yang tadi mengguyur tubuhnya memang terasa sedikit menenangkan jiwanya. Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Dia harus menghadapi ketakutan dan kesulitan berikutnya.
“Ada apa ini?” teriak ayah.
“Bawa keluar anakmu yang melakukan perzinaan itu.” Suara gemelentang Ayah Plenggo memimpin rombongan.
“Siapa bilang anakku melakukan perzinaan?” Ayah Hasbi terlihat tak gentar.
“Anakku saksinya, kamu bisa lihat tubuhnya yang babak belur ini dihajar anakmu yang katanya alim itu. Tanyakan saja kalau kamu tidak percaya.”
“Benar kamu menghajar anakku?” Ayah Plenggo berteriak pada Hasbi.
Hasbi mengangguk membenarkan.
“Lihat, anaknya saja mengaku tapi bapaknya berusaha menyembunyikan dosa anaknya.”
“Tunggu, aku benar menghajar Plenggo tapi bukan karena aku berzina seperti apa yang kalian fitnahkan padaku.”
“Siapa yang percaya pada mulut busukmu. Banyak saksi yang melihat kamu berjalan di tengah malam menuju ke puskes untuk menemui gadis itu.”
“Ya, benar, saya melihat Hasbi di dekat puskes, waktu saya tanya mau kemana? Dia bilang mau ketemu Bidan Maya.” Ujang bersaksi.
“Ini tidak benar.” Hasbi mengelak.
“Ayo bawa mereka, seret mereka ke lapangan!” Ayah Plenggo memprovokasi warga.
“Ayo, ayo, mereka mencemari nama kampung kita,” teriak yang lain.
“Tik tik tik,” Hujan turun tiba-tiba. Mulut Ayah Hasbi terlihat komat-kamit.
Sebagian warga tampak mundur. Mereka sadar tentang kesaktian yang masih dimiliki keluarga Hasbi. Hanya beberapa yang masih bertahan, mayoritas orang-orang bayaran Ayah Plenggo yang masih berdiri tegap mengharap penghakiman kepada Hasbi dan Maya.
“Dengar, jika memang kalian mengganggap anakku berzina dengan gadis itu. Baik, sekarang juga aku akan menikahkan mereka.”
Plenggo terdiam. Mukanya bertambah pucat, bukan ini skenario yang ia inginkan. Namun, niatnya menjatuhkan Hasbi malah berbuah sebaliknya. Hasbi malah akan memiliki Maya selamanya.
“Panggil penghulu desa.” Ayah Hasbi memerintah pada salah satu warga. Pak Darman terlihat berlari meninggalkan kerumunan.
Acara pernikahan itu disaksikan banyak pasang mata. Secepat kilat Ayah Hasbi dibantu beberapa orang penduduk menyiapkan kursi-kursi di halaman rumah untuk para tamu dan saksi.
“Bisa kita mulai?” tanya Pak Prapto, penghulu desa.
Maya tertunduk lemah, belum hilang keterkejutannya atas peristiwa yang nyaris menodai harga dirinya sebagai wanita, kini hatinya benar-benar dibuat ketakutan dan kalut dengan dipaksa menikah setelah disatroni puluhan bahkan ratusan orang.
Gadis manis itu malam ini tampak mengenakan kebaya putih tulang yang diperolehnya dari pinjaman baju Ibu Hasbi, kebaya itu tampak kebesaran, tapi Maya tak punya pilihan lain. Ia tak memiliki banyaj waktu hanya untuk memilih baju yang akan dikenakannya dalam malam paling sakral di hidupnya.
Rambut dan make up Maya pun terlihat biasa saja tanpa riasan dari salon professional seperti layaknya pengantin yang akan melakukan prosesi ijab qabul lainnya.
“Kamu ikhlas?” tanya Hasbi.
“Maafkan aku,” Maya mulai terisak lagi.
“Karena aku, kamu terseret ke dalam masalah yang pelik ini dan terpaksa menikahi aku.” Maya begitu merasa bersalah.
“Aku bahagia bisa menikahimu, hari ini atau pun esok bagiku sama saja.” Hasbi tersenyum tulus.
Maya mengangguk, menyetujui acara pernikahan itu segera dimulai.
Plenggo terlihat menjauh pergi meninggalkan kerumunan masyarakat yang ingin menyaksikan pernikahan yang tidak biasa ini secara langsung. Ada sakit hati yang menusuk-nusuk jantung Plenggo. Penyesalan yang tak bisa terkatakan lagi.
“Aku tak akan pernah memaafkanmu, Hasbi. Kamu menghancurkan hidupku, hidup Maya.”
Plenggo berjanji dalam hati tak akan pernah membiarkan sepasang suami istri yang baru saja di syahkan itu hidup tenang apalagi bahagia.
Apa yang akan dilakukan Plenggo pada Maya dan Hasbi?
__ADS_1
Kita tunggu episode 18 ya!