
Kapten muda nan gagah berani itu berdiri di depan pintu paviliun rumah Kepala Desa Sidoraharjo ditemani sosok laki-laki bermata sayu di sebelahnya. Pak Hasbi mempersilakan Kapten Biru membuka pintu kamar paviliun yang tak terkunci dengan isyarat tangannya.
Laki-laki muda itu memegang dadanya, dada yang penuh getaran rasa, entah itu gejolak rindu, rasa takut atau pun hati yang bahagia yang kini bersatu, bergumul membuat napas Kapten Biru terasa sedikit sesak.
“Klek,” pintu kamar terbuka.
Mata Kapten Biru tiba-tiba memerah dengan gejolak nanar yang membara. Pipinya terasa panas terbakar. Darahnya mendidih naik ke atas kepala yang berdenyut-denyut seakan mau meledak.
Pak Hasbi yang melihat kejadian itu pun ikut naik pitam. Kaki dua laki-laki itu kompak masuk melangkah melewati pintu ruang paviliun yang berukuran 4X6 meter dengan cet berwarna biru tua serasi dengan warna bagunan di depannya.
“Duk, plak, dep.” Kapten Biru menghajar habis-habisan laki-laki yang dilihatnya sedang asik membelai-belai wajah Rengganis yang masih belum sadarkan diri. Kapten Biru menangkap basah laki-laki yang tak dikenalnya itu sedang mengamati sekujur tubuh Rengganis penuh nafsu.
Pak Hasbi yang melihat kejadian itu hanya menontonnya dengan mata yang penuh kebencian. Ia seakan memberikan persetujuan kepada Kapten Biru untuk memberi pelajaran yang sangat berharga bagi keponakan laki-lakinya yang sangat kurang ajar itu malam ini.
Laki-laki berkaus putih dan celana pendek di atas lutut itu tampak tersudut tanpa ada perlawanan sedikit pun. Beberapa prajurit yang tadinya tetap berada di ruang tamu tak mengikuti Kapten Biru ke paviliun kini dengan cepat telah bergabung dan bersiaga di depan kamar tempat Dokter Rengganis berbaring. Gerakan mereka secepat kilat saat mendengar bunyi gaduh dari arah belakang rumah Pak Kades.
“Pratu Angga, bawa laki-laki ini,” perintah Kapten Biru dengan suara masih bergetar. Di hempaskannya tubuh laki-laki yang tak lagi memiliki nyali itu ke tanah.
“Rengganis—Re—Re, bangun, ini aku.” Kapten Biru kembali ke sisi Rengganis. Wajah sayunya tampak begitu sedih melihat tubuh wanita yang dicintainya penuh dengan luka dan lebam. Ditambah kejadian yang baru saja terjadi, hati laki-laki gagah itu seketika menjadi sangat kecil dan berdarah. Kapten Biru memeluk erat tubuh Rengganis yang masih terlihat lemas dan lunglai.
Dibelainya pipi Rengganis yang penuh biru dan lebam. Dadanya berkecamuk, kemarahan seperti telah berhasil merasuki pikirannya. ingin sekali ia berlari dan meremukkan seluruh tulang-belulang laki-laki bernama Bono, laki-laki yang sukses membuat Kapten Biru hampir kehilangan cinta pertamanya.
“Maafkan saya, Komandan.” Pak Hasbi memecah kekakuan yang ada. Wajahnya menyiratkan rasa malu dan menyesal yang teramat dalam.
“Dia keponakan saya, sejak kecil perilakunya memang sangat buruk, saya mohon maaf atas kejadian ini. Saya sendiri yang akan memastikan bahwa dia akan menerima hukuman yang sepadan dengan perbuatannya yang bejat itu,” Pak Hasbi benar-benar merasa dipermalukan atas apa yang dilakukan Jerry, keponakannya malam. ini pada Dokter Rengganis.
Jerry, putra dari Melsya, adik satu-satunya Pak Hasbi. Laki-laki berperangai buruk itu telah kehilangan sosok kedua orang tuanya saat berusia masih sangat kecil. Ayah dan Ibunya meninggal dalam suatu kecelakaan dalam perjalanan ke kota untuk berbelanja barang-barang kebutuhan toko kelontong mereka.Sejak saat itu Jerry ada dalam pengasuhan Pak Hasbi.
Bukan satu dua kali, Pak Hasbi dibuat kewalahan menghadapi kenakalan Jerry. Namun, dengan segala kasih dan kesabaran yang dimiliki Pak Hasbi, ia selalu memaafkan dan menyelesaikan segala masalah yang ditimbulkan Jerry. Rasa sayang yang diberikan Pak Hasbi sepertinya selalu disalahgunakan oleh Jerry.
Namun, sepertinya tidak untuk kali ini. Reputasi kepala desa yang baik selama ini telah dihancurkan oleh keponakan yang telah dianggapnya sebagai anak kandungnya sendiri itu. Pak Hasbi begitu terlihat murka.
Laki-laki berkopiah hitam itu berniat memberi Jerry pelajaran kali ini. Tak ada kata ampun lagi untuk berandal desa Sidoraharjo itu. Benar-benar tak pernah terpikirkan oleh Pak Hasbi, Jerry bisa merendahkan dan melecehkan wanita terhormat macam Dokter Rengganis.
Beruntung mereka datang tepat waktu hingga tak terjadi sesuatu yang lebih fatal.
“Sekali lagi saya mohon maaf. Saya sangat malu.” Pak Hasbi berdiri di sisi tempat tidur Rengganis, tatapan matanya kosong, laki-laki tua itu tampak begitu syok.
“Saya tidak tahu apa yang bisa saya perbuat jika terjadi sesuatu pada wanita ini.” Kapten Biru mengusap rambut Rengganis dengan lembut.
“Anda sangat mencintai istri Anda, Pak. Saya kagum,” ucap pak Hasbi yang membuat Kapten Biru dan beberapa orang prajurit yang berjaga di depan sempat tersedak.
Kapten Biru refleks menoleh ke arah Pak Hasbi dengan tatapan mata penuh tanda tanya. Begitu juga beberapa prajurit yang ada di depan paviliun, mereka ikut menoleh bersamaan, menatap wajah Pak Hasbi dan Kapten Biru bergantian.
__ADS_1
“Dia belum menjadi istriku, Pak.” Kapten Biru tersenyum.
“Oh, Maaf. Saya pikir Dokter Muda ini istri Komandan.” Pak Hasbi tampak salah tingkah karena kesalahannya berkata-kata.
“Tidak apa-apa. Saya memang berniat menjadikannya pendamping hidup saya.” Kapten Biru memandang wajah Rengganis.
“Rengganis!” Kapten Biru merasakan ada gerakan pada tangan kanan Rengganis yang sejak tadi dipeganginya.
“Siapa yang akan kamu jadikan pendamping?” Tiba-tiba Rengganis membuka matanya, gadis itu berusaha untuk duduk.
“Aduh.” Rengganis gagal untuk bangun, kepalanya terasa begitu berat.
“Sudahlah, istirahat dulu, jangan banyak bergerak.” Kapten Biru membantu Rengganis kembali berbaring. Laki-laki itu tampak malu, sepertinya Rengganis mendengarkan apa yang dibicarakannya barusan dengan Pak Hasbi.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Kapten Biru cemas.
“Kepalaku pusing.” Rengganis memegangi kepalanya. Matanya berkunang-kunang, tubuhnya pun terasa lemas tak bertenaga.
“Berada dimana kita sekarang, Mas? Apa yang terjadi padaku?” Rengganis mulai sadar tentang keberadaannya.
“Kamu aman sekarang, ada aku di sini.”
Kapten Biru memeluk tubuh Rengganis. Rasa malunya tiba-tiba hilang berganti rasa lega melihat Rengganis telah siuman.
Ia benar-benar takut akan kehilangan gadis yang saat ini berada di pelukkannya.
Rengganis hanya terdiam, gadis itu merasakan kenyaman dalam pelukan cemas Kapten Biru. Ia pun sedang berusaha menumpahkan segala ketakutan akibat semua yang terjadi padanya.
Segala beban yang dirasakannya seakan mulai menguap saat berada dalam pelukan laki-laki yang sejak awal selalu dinanti-nanti sebagai penyelamat nyawanya.
“Astuti? Bagaimana Mbak Astuti?” tanya Rengganis tiba-tiba.
“Kami belum menerima laporan tentang keberadaannya. Apa dia masih berada di vila?” Kapten Biru segera berdiri.
Laki-laki tampan itu melangkah keluar paviliun dengan gagahnya. Tubuhnya yang proporsional terlihat sangat memesona meski di pandang dari belakang. Rengganis selalu merasa aman bila berada di dekatnya.
Dari jauh Rengganis melihat Kapten Biru tampak berbincang serius dengan lettu Abi. Dengan Hand talking di tangannya, pria muda itu seperti sedang menghubungi seseorang dengan bantuan alat itu.
Sekitar sepuluh menit ketegangan itu berlangsung, Kapten Biru kembali lagi ke dalam kamar Rengganis.
“Mereka belum menemukan Mbak Astuti. Kita berdoa agar segera ditemukan.” Rengganis hanya menggigit bibir mendengar berita yang dibawa Kapten Biru. Dokter muda itu merasa dirinya terlalu egois karena meninggalkan Astuti sendirian di sana.
“Nanti kalau sudah baikan kita pulang ya? Saya akan membantu pasukan yang lain mencari Astuti.”
__ADS_1
“Aku sudah baikan, kita pulang sekarang saja.” Rengganis memaksakan diri untuk berdiri.
“Kalau belum kuat, biar Nak Rengganis di sini saja dulu, Pak Komandan. Saya berjanji akan menjaganya dengan sangat baik kali ini. Semut pun tak akan pernah saya izinkan untuk mendekatinya.” Pak Hasbi menawarkan bantuannya dengan muka yang amat serius.
“Tidak, Pak. Biarkan saya ikut mereka pulang, saya mau bantu cari Mbak Astuti,” pinta Rengganis.
“Baik, begini saja. Izinkan saya membantu. Saya akan coba kerahkan masyarakat dan orang-orang kepercayaan saya untuk ikut mencari Mbak Astuti,” tawar Pak Hasbi.
Sejak awal laki-laki itu melihat wajah Rengganis, ia merasakan kedekatan batin yang luar biasa dengan gadis cantik itu. Memori tentang putri remajanya yang harus berakhir dengan mengenaskan itu seperti hidup kembali.
Dendam panjang yang dikuburnya sedalam mungkin seakan bangkit. Kebenciannya pada keluarga Plenggo Hadi yang telah mengacak-acak ketenangan keluarganya berkobar kembali.
“Terima kasih, Pak,” ucap Kapten Biru memecah lamunan Pak Hasbi.
“Tapi sebaiknya Dokter istirahat saja,” saran pak Hasbi.
“Tidak, saya harus ikut, Pak. Mbak Astuti pasti sedang menungguku.” Dokter Rengganis tak mau kalah.
“Rengganis, dengarkan aku.” Kapten Biru kembali duduk di sisi Rengganis yang sesekali masih terlihat nyengir menahan nyeri pada sekujur tubuhnya yang terasa perih karena luka-luka yang di menderanya.
“Kamu harus istirahat di mess, biar Bidan Maya yang akan merawatmu. Kasian, mereka pasti sangat mencemaskan keadaanmu. Biar aku yang akan mencari keberadaan Mbak Astuti. Kamu percaya padaku kan?” Kapten Biru menatap lurus pada dua bola mata hitam pekat milik Rengganis.
Rengganis menggangguk. Gadis itu menuruti apa yang dikatakan Kapten Biru.
“Ayo kita berangkat sekarang, saya akan siapkan mobilnya.” Pak Hasbi segera keluar menyiapkan dua buah mobil yang akan dipergunakan mengantar Dokter Rengganis dan mencari Astuti.
Semua sudah siap di sekitar mobil yang akan digunakan. Tak lama Kapten Biru keluar mengendong oleh Rengganis yang masih tampak lemah. Wajah gadis itu tampak memerah. Ia mendekap tubuh Kapten Biru dengan tangannya yang kaku. Kapten Biru sebenarnya menyadari ketidaknyamanan yang dirasakan Rengganis yang kini berada dalam gendongannya. Namun, laki-laki itu tetap melangkah penuh percaya diri. Derap langkahnya penuh kekuatan meski dengan beban seorang gadis yang mengantungkan tangan di lehernya.
Senyum Kapten Biru terkulum dalam bibirnya yang indah. Ia begitu menikmati momen yang mungkin tak kan bisa terulang kembali ini.
“Diam,” Rengganis memukul dada bidang Kapten Biru.
“Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa,” bisik Sang Kapten.
“Bunyi jantungmu berisik.” Rengganis mengomel.
Kapten Biru tertawa. Senyumnya tak lagi dapat ditahan, bibirnya tertarik membentuk sebuah lengkungan senyum yang sangat rupawan. Rengganis tak dapat menolak penona yang ditawarkan pria tampan yang selalu mampu menjadi pahlawan bagi dirinya itu.
Dengan sadar disenderkan kepalanya yang masih terasa berat itu pada dada Kapten Biru, hingga detaknya terasa semakin keras. Rengganis tertawa diantara nyeri yang terasa di tubuhnya.
Apakah mereka akan mulai mengakui saling ketertarikan mereka selama ini?
Kemanakah Astuti menghilang?
__ADS_1
Cari jawabannya di episode selanjutnya!