MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
AIRPORT


__ADS_3

Rengganis


“Non, kok ringkes-ringkes baju banyak banget. Mau pergi ya, Non?” tanya Mbok Iyem, pengasuh Rengganis sejak kecil yang sengaja menyusul Rengganis ke Korea lantaran diberikan perintah nyonya besarnya untuk terus menjaga dan merawat Rengganis di sini.


“He’eh, Mbok?” jawab Rengganis pendek, tangannya masih sibuk memasukkan beberapa lembar pakaian ke dalam tas jinjingnya.


“Bakal lama ya, Non?” tanya wanita tua itu lagi.


“Belum tahu, Mbok.”


“Emang mau kemana?” Mbok Iyem semakin penasaran.


“Aku pulang dulu ke Indonesia ya, Mbok.”


“Lah, Mbok bagaimana? Mbok takut sendirian di sini. Mbok gak ngerti mereka ngomong apa, Non?” Mata tua Mbok Iyem menyiratkan kekhawatiran.


“Nanti aku minta Faiha tinggal di sini untuk temenin, Mbok.”


Faiha, teman kuliah Rengganis yang juga berasal dari Indonesia. Mereka sudah menjadi saudara seperantauan sejak pertama masuk dunia perkuliahan di Negara asing ini.


“Tapi, Non—”


“Maaf banget, Mbok, aku buru-buru, nanti aku telepon dari jalan ya. Tenang ini hanya untuk beberapa hari. Kalau pun aku memutuskan untuk tinggal lebih lama maka aku akan minta papa untuk kirim sekretarisnya untuk jemput Mbok sesegera mungkin. Oke?” Rengganis mencium pipi Mbok Iyem, nenek kedua baginya.


“Oh ya, kamarku berantakan banget. Kalau ajumma mau bersih-bersih dipersilakan saja ya, Mbok,” teriak Rengganis dari depan pintu.


Mbok Iyem hanya mampu menghela napas panjang. Tangan keriputnya kembali melipat beberapa lembar pakaian yang sempat tercecer dari dalam lemari Rengganis.


“Dasar anak muda,” Mbok Iyem menggeleng.


“Hey Aera! Mau kemana?” Rengganis kaget saat dirinya membuka pintu tiba-tiba wajah Yu Jin sudah berada di depan wajahnya.


“Maaf, aku harus pulang,” jawab Rengganis singkat tak ingin berlama-lama menghabiskan waktu untuk menjawab semua pertanyaan yang diajukan laki-laki tinggi putih di depannya itu.


“Ke Indonesia?” tanya Yu Jin tak percaya.


“Ya,” jawab Rengganis pendek sambil menutup pintu.


“Kenapa mendadak begini? Apa ada yang urgent?” tanyanya lagi.


“Hem, urgent sekali, very-very-very urgent.”


Entah berapa banyak pertanyaan yang dilontarkan Yu Jin padanya, Rengganis hanya mampu menjawab pendek dan sederhana seluruh pertanyaan itu, kakinya tetap melangkah dengan kecepatan penuh, ia tak ingin tertinggal pesawat yang di pesannya secara mendadak.


“Aku tak ingin terlambat, untung saja masih dapat tiket,” ucapnya dalam hati.


“Biar kuantar,” tawar Yu Jin.

__ADS_1


Rengganis menghentikan langkahnya tampak berpikir sesaat dan akhirnya mengambil keputusan dengan menganggukkan kepala. Setelah sebelumnya melakukan penolakkan atas keinginan Yu Jin untuk ikut ke Indonesia rasanya tawaran kali ini lebih masuk akal.


Rengganis juga tak perlu memikirkan kendaraannya yang akan terparkir berhari-hari di bandara. Lebih praktis dan efisien berangkat dengan diantar Yu Jin karenanya ia menyetujui permintaan Yu Jin kali ini.


Sepanjang perjalanan tak banyak yang ingin Rengganis bicarakan pada lelaki itu, gadis cantik bercoat kotak-kotak coklat putih itu lebih banyak menghabiskan waktu untuk melamun.


Tuuut, terdengar nada sambung dari handphone dengan merk mewah dan keluaran teranyar di tangannya. Tak ada tanggapan.


“Ayo, Adinda angkat,” pintanya.


Beberapa kali dicoba tak juga ada respon dari Adinda. Padahal Rengganis sudah tak sabar ingin mengabarkan kepulangannya ke tanah air. Ia berharap Adinda menyimpan nomor telepon Kapten Biru, ia ingin segera menghubunginya.


Tik, tiba-tiba terdengar nada telepon yang tersambung. Rengganis hampir melompat sangking bahagianya.


“Halo, Assalamualaikum,” buka Rengganis.


“Wa’alaikumsalam, Mbak Rengganis ya?” Suara Adinda tampak tak kalah bahagianya.


“Maaf lama angkatnya, lagi riweh nih, Mbak, di rumah ada acara,” jawabnya polos.


“Acara? Acara apa, Din? Arisan? Atau syukurannya Om ya?”


“Bu—bukan, Mbak, tunangan Mbak Tika,” jawab Adinda terbata gadis itu baru menyadari kekeliruan menjawab pertanyaan Rengganis sebelumnya.


“Wah selamat ya!” Rengganis belum juga sadar dengan siapa Tika akan bertunangan.


Seketika pikirannya buyar. Wajahnya pucat pasi. Yu Jin yang menyadari perubahan itu terlihat ikut panik.


“Ada apa, Aera?” tanyanya bingung.


Rengganis tak menjawab. Gadis itu mencoba mengumpulkan keberanian untuk bertanya langsung pada Adinda. Berharap kabar yang akan didengarnya bukan hal yang buruk.


“Apakah dengan Kapten Biru, Din?” tanyanya pelan.


Lama tak ada jawaban dari seberang. Adinda terdiam seolah bingung memilih kata untuk dapat menjelaskan semuanya pada Rengganis.


“I-Iya, Mbak,” hanya itu kata yang mampu meluncur dari bibirnya.


Telepon genggam yang baru seminggu lalu dibelinya itu terjatuh dari genggaman. Tubuh Rengganis bergetar hebat. Air mata beningnya jatuh terjun bebas dari bola mata menuju pipinya yang mulus.


“Aera?” Yu Jin menghentikan mobilnya.


“Biarkan aku begini dulu,” pinta Rengganis. Gadis cantik itu menutup wajahnya rapat-rapat dan menangis sejadi-jadinya. Hatinya terasa kosong, ketakutan yang amat besar tiba-tiba menyergap pikirannya.


“Tidak, aku tak mau kehilangannya,” Rengganis mengusap sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipi.


“Aera?” Yu Jin memastikan keadaan Rengganis sekali lagi.

__ADS_1


“Ayo kita harus segera sampai di airport,” tekad Rengganis.


Dengan langkah gontai, Rengganis menyusuri lantai licin bandara, kemudian memilih tempat duduk yang paling nyaman untuknya sambil menanti check in.


“Apa yang harus aku lakukan ya Tuhan?” tanyanya dalam hati.


“Apa aku memang harus kembali ke Indonesia saat ini? Atau memang harus kurelakan semua demi kebahagiaan Kapten Biru dan Tika? Biarlah aku yang mengalah demi kebahagiaan mereka. Apa harus begitu?”


Sekilas momen pertemuan mereka terulang kembali di ingatan Rengganis, disusul saat-saat indah ketika mereka menghabiskan waktu bersama, hal-hal konyol yang pernah mereka lakukan. Semua itu tak ingin Rengganis lupakan barang sdikit pun.


“Aku harus berjuang, aku harus menghentikan rencana pertunangan ini.” Rengganis melirik arloji di tangannya.


“Sepertinya tak mungkin,” bisiknya lagi. Wajahnya kembali datar.


“Aku butuh tujuh jam untuk sampai ke bandara Soekarno Hatta belum lagi perjalanan menuju rumah Tika. Ya ampun.”


Rengganis menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dengan sangat frustasi.


Saat Rengganis masih sibuk dengan kekacauan hatinya, pengeras suara nyaring memerintahkan para penumpang tujuan Jakarta untuk segera melakukan check in.


“Aku akan lakukan semua untukmu, Kapten.” Rengganis membulatkan niat. Tangannya mengepal ticket pesawat kuat-kuat sambil melangkah dengan pasti.


“Tunggu aku! Aku harus bahagia.” Senyumnya mengembang menghias wajahnya yang tampak cantik dengan kacamata lebar berwarna coklat menutupi kedua matanya yang bengkak setelah menangis sejadi-jadinya tadi.


**


Kapten Biru memarkirkan mobil Mas Arga dengan cepat. Lalu membuka pintunya, turun dan menutupnya kembali dengan tergesa-gesa.


Kaki Kapten Biru yang sudah terbiasa lari membuatnya tak mengalami kesulitan melakukannya lagi kali ini. Tangan kanannya menggulung lengan kemeja batik yang dikenakannya tinggi-tinggi hingga mencapai siku.


“Pak-pak! Apa pesawat dari Korea sudah sampai?” tanyanya pada bagian keamanan airport yang ditemuinya di pintu masuk.


“Ini baru pukul 03.45 Wib, Pak. A.T.A atau Actual Time Arrival-nya sekitar satu jam lagi.”


“Syukurlah.” Kapten Biru menarik napas lega.


“Terima kasih.” Kapten Biru membalikkan tubuhnya berniat mencari swalayan terdekat untuk membeli setidaknya air mineral. Perutnya terasa keroncongan, ia baru menyadari belum memakan apapun hari ini.


“Ini demi kamu!” ucapnya lembut, senyumnya merekah malu-malu.


Meski terasa lapar tapi keinginan untuk menyantap sesuatu tak ada sama sekali dalam otaknya. Pikiran dan fokusnya hanya ada pada Rengganis. Ia benar-benar tak ingin kehilangan kesempatan lagi kali ini.


Dengan sebuah botol air mineral di tangan, Kapten Biru melangkah menuju kursi tunggu. Laki-laki tampan itu memilih kursi yang dapat melihat keadaan sekeliling dengan jelas. Ia berniat tak akan bergeming sedikit pun dari tempat itu sebelum bayangan Rengganis muncul.


“Pak Brata? Bu Brata? Nenek?” Mata Kapten Biru menangkap keluarga kecil Rengganis pun telah tiba di airport untuk menjemput putri cantik mereka.


“Oh tidak!” Kapten Biru menepuk jidat. Ia yakin Bu Brata akan menghalangi usahanya mendapatkan Rengganis kembali.

__ADS_1


Bagaimana kelanjutan ceritanya? Tunggu di episode mendatang ya!


__ADS_2