
"Aku lelah!" Rengganis mengusap wajahnya.
Sudah hampir sebulan ini Rengganis dan Kapten Biru disibukkan dengan berkas-berkas nikah kantor mereka. Mulai dari SKCK, surat bersih diri, berbagai macam surat pernyataan dan segudang berkas lainnya.
Banyak hal yang harus dipelajari dan dilakukan Rengganis. Mulai menghapal nama-nama seluruh petinggi TNI, lagu mars dan himne persit, sejarah, watak dan sifat persit serta masih banyak lagi hal baru yang harus dikuasainya sebelum menjumpai petinggi TNI beserta ibu dan staf-staf yang terkait.
Menghadap ke sana kemari setiap harinya memang sudah sebagian dijalani. Mulai danki, danyon, danrem dan kini mereka sedang berkutat dengan berkas-berkas prasyarat menikah di tingkat kodam.
Sudah tiga hari ini Rengganis harus bolak-balik kodam demi dapat berjumpa orang nomor satu di jajaran komando daerah militer ini. Tak mudah untuk dapat bertemu dengan pangdam untuk mendapatkan izin dan restu pernikahan mereka. Rengganis paham benar bagaimana sibuk dan penuhnya jadwal kerja beliau.
"Yang sabar ya, Yang." Kapten Biru memijat lembut tangan kanan Rengganis.
"Tak pernah kuduga menikah dengan tentara akan seribet ini, Mas," Rengganis membuka-tutup map kuning tebal yang berisi berkas-berkas mereka.
"Karena itu ibu pertiwi hanya memilih wanita-wanita tangguh untuk menjadi anggota persit." Kapten Biru tersenyum manis.
"Jadi aku harus kuat dn tangguh ya?" Rengganis meyakinkan dirinya sendiri.
"Ya, kamu harus kuat, Yang. Kamu bisa! Pasti bisa. Ini baru permulaan."
"Hem." Dokter cantik itu mengangguk dengan senyum lelah tetap tergambar di wajahnya.
"Kamu cantik." Puji Kapten Biru.
Pesona dalam diri Rengganis memang semakin terlihat jelas saat baju hijau pupus yang menjadi seragam harian anggota persit itu dikenakannya. Dengan rambut dicepol rapi, sepatu wedges hitam sesuai aturan pusat serta sebuat tas hitam berogo persit di tangannya. Sederhana namun anggun memesona.
Dasar hijau pupus yang diberikan Kapten Biru padanya saat perjumpaan mereka di warung Mas Udai tempo hari. Dasar yang telah dibawa dalam tas rangsel Kapten Biru kemana-mana itu akhirnya jatuh juga ditangan pemilik sahnya.
Kapten Biru memenuhi janjinya untuk memberikannya hadiah dasar hijau pupus yang tidak bisa dibeli oleh sembarang orang.
"Ndan, silakan, bapak sudah bisa ditemui," ucap ajudan pangdam menghentikan percakapan mereka.
"Oh ya, terima kasih." Kapten Biru berdiri dengan sigap.
"Ayo!" kapten tampan itu membantu Rengganis berdiri.
Dengan semangat dua orang yang sedang dimabuk cinta itu masuk ke dalam ruang kerja komandan kodam, lelah dan letih yang tadi terasa seakan menguap seketika, hilang tanpa bekas.
Dua jam berlalu. Banyak pertanyaan yang diajukan kepada mereka. Dengan lantang dan penuh percaya diri Kapten Biru dan Rengganis berhasil menjawab semuanya dengan sangat baik. Segala wejangan dan nasihat yang diberikan pun dicerna dan diingat mereka baik-baik.
"Horeee, selesai!" teriak Rengganis begitu keluar dari ruangan.
"Eit, siapa bilang? Belum, Sayang!" Kapten Biru tertawa riang melihat kelakuan kekanak-kanakkan kekasihnya itu.
"Ya, ampun." Rengganis kembali terduduk lemas di kursi tunggu tempatnya duduk tadi sebelum masuk ke ruang pangdam.
Kapten Biru hanya tertawa dan ikut duduk di sebelah Rengganis.
__ADS_1
"Kemana lagi kita setelah ini? Masih berapa banyak lagi?" tanyanya putus asa.
"Kita kembali ke batalyon. Minta tanda tangan dan persetujuan danyon setelah itu beres."
"Yakin? Gak bohong lagi nih?" Rengganis memandang curiga pada Kapten Biru.
"Iya, bener, Sayang." Kapten Biru berdiri dan menarik tangan gadis pujaannya untuk bergegas kembali ke batalyon.
**
"Baik ibu-ibu karena sudah pukul lima, kita sudahi dulu kegiatan oraum kita hari ini, silakan kembali ke rumah masing-masing. Selamat berkumpul dengan keluarga di rumah ya ibu-ibu," tutup Rengganis menyudahi kegiatan olahraga sore ini.
Rengganis berjalan beriringan dengan ibu-ibu anggotanya yang lain menuju tempat tinggal mereka di asrama militer yang tak jauh dari lapangan olahraga.
"Seru ya, Bu, main bola volinya sore ini." Bu Nirwan membuka perbincangan dengan istri danki yang terkenal akan kecantikannya itu.
"Iya, Bu, pada semangat semua ya. Saya jadi senang lihatnya," jawab Rengganis.
"Bu Biru jago ya main volinya. Ternyata bukan hanya cantik dan pintar tapi juga jago olahraga," puji Bu Seno, yang suaminya menjabat bamin kompi bantuan ini.
Nasib sepertinya memang berpihak kepada Rengganis dan Kapten Biru. Setelah pernikahan akbar mereka digelar meriah, tak lama dari itu rencana pembangunan kompi bantuan di kecamatan Trengginas Suaka benar-benar terealisasi. Ya, kecamatan dimana desa Pringjaya berada.
Dewi fortuna mungkin sangat berpihak pada mereka kali ini, surat perintah ditujukan langsung kepada Kapten Biru untuk menjabat sebagai Komandan Kompi Bantuan yang baru selesai dibangun.
Tak ada penolakkan, Kapten Biru langsung menyetujuinya. Kini, Rengganis kembali ke puskesdes, tempat dimana ia sangat dinanti-nantikan dan Kapten Biru dapat selalu mendampinginya karena kompi tempatnya bertugas tak begitu jauh dari PKM tersebut.
Dengan kemampuan Rengganis mengelola tempat-tempat usaha itu, perekonomian warga sekitar pun menjadi terangkat. Bukan hanya resto ala pedesaan, Rengganis pun telah membuka sebuah resort yang mengusung nuansa alam dengan bangunan khas Jawa yang sangat diminati pengunjung.
Wisata arung jeram yang dilengkapi beberapa permainan penunjang seperti flying fox, paint ball, jaring laba-laba, jembatan gantung, rumah pohon, berkuda, juga ATV menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang membuat desa Pringjaya tak pernah sepi pengunjung.
Bisa dibayangkan betapa sibuknya Rengganis dengan segala kegiatannya, namun, dengan hati yang bahagia semua dikerjakannya tanpa keluhan. Tugasnya sebagai ketua ranting dan seorang istri pun tetap dijalankannya dengan baik. Terkhusus untuk semua pasiennya, ia selalu memiliki waktu untuk mereka, kapan pun itu.
"Bu Biru besok kita jadi besuk Bu Hayadi kan, Bu?" pertanyaan Bu Seno membuyarkan lamunan Rengganis.
"Oh iya benar, besok sore setelah pulang pengajian kita langsung ke rumah Bu Hayadi ya, ibu-ibu," umum Rengganis pada para anggotanya.
"Siap, Bu." Mereka menjawab serentak.
"Bahagia banget Bu Hayadi, sudah menunggu sepuluh tahun akhirnya dapat momongan juga," Bu Adis menimpali.
Rengganis terdiam. Usia perkawinannya bulan depan tepat dua tahun tapi tanda-tanda kehamilan belum juga terlihat.
"Mas Biru pasti menantinya, meski ia tak pernah membicarakannya padaku, mungkin ia pikir aku akan terluka jika kami membahasnya," Batin Rengganis. Hati kecilnya tiba-tiba terasa sakit.
"Tunggu, ini tanggal berapa ya, Bu?" tanyanya hanya ingin meyakinkan sesuatu.
"Tangal 28, Bu," jawab Bu Seno.
__ADS_1
"Wah kalau begitu saya duluan ya, ada yang harus saya lakukan. Sampai ketemu besok ibu-ibu." Rengganis mempercepat langkahnya. Dokter cantik itu sudah tak sabar ingin bertemu suaminya di rumah.
"Assalamualaikum," salam Rengganis sambil buru-buru membuka pintu yang tak terkunci.
Langkahnya terhenti, penyusak dan segala peralatan kemiliteran Kapten Biru penuh berserakan di lantai.
"Ada apa ini?" tanya Rengganis curiga.
"Ada yang ingin aku sampaikan." Kapten Biru menarik pergelangan tangan Rengganis untuk mengikutinya duduk di sofabed ruang tengah.
"Aku duluan," ucap Rengganis tak mau kalah.
"Wah ... ada apa?" Kapten Biru jadi penasaran.
"Sebentar!" Rengganis berlari ke kamar dengan sedikit berjingkat menghindari barang-barang perlengkapan tentara milik suaminya yang berhamburan.
Dengan cepat ia mengobrak-abrik isi tas medisnya dan masuk ke kamar mandi dengan menggenggam sesuatu di tangannya.
"Yang--Yang, kamu kenapa? Kamu sakit?" Kapten Biru menggedor pintu kamar mandi berulang-ulang.
Laki-laki tampan itu terlihat panik karena istrinya tak kunjung membuka pintu.
"Re, Rengga. Buka dong? Bilang sama aku ada apa?" pintanya memelas.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka. Rengganis hanya menjulurkan satu tangannya yang memegang tespack bergaris dua.
Kapten Biru tak sadar mendorong pintu kamar mandi dan mengangkat istrinya ke dalam gendongan tangan perkasanya. Begitu bahagia yang mereka rasakan. Penantian panjang yang berbuah manis.
"Terima kasih telah menjadikanku seorang ayah," bisik Kapten Biru.
"Hem, terima kasih telah menjadikanku ibu," balas Rengganis.
"Lalu apa yang ingin kamu beritahukan padaku." Rengganis duduk kembali di sofabed berwarna merah itu.
Mendadak wajah Kapten Biru menjadi murung.
"Yang, aku pamit. Aku harus berangkat ke Atambua."
"Satgas lagi?" Mata Rengganis berkaca-kaca.
"Kamu gak papa kan?" Suara Kapten Biru terdengar berat.
"Gak papa, aku tahu itu sudah menjadi tugasmu. Hati-hati ya, aku dan calon anak kita akan selalu menunggumu pulang dengan selamat."
Kapten Biru tersenyum bangga. Hatinya menjadi tenang. Tak salah ia memilih Rengganis menjadi pendampingnya. Gadis manja yang kini berubah menjadi wanita perkasa yang mampu menjalani semua tugas dan tanggung jawabnya meski terkadang harus tanpa suami di sisinya.
THE END
__ADS_1