
Senja mulai meninggalkan bagian barat bumi, purnama pun belum sampai di ujung langit gelap. Gerimis kecil mengisi kesendirian malam dengan penuh kemesraan.
Lampu teras depan puskesmas Pringjaya tampak berkedip-kedip. Bidan Maya berdiri tak jauh di bawahnya. Tangan kanannya menyisir rambutnya yang mulai putih ke belakang. Wanita tua yang menyongsong masa pensiunnya itu beberapa hari lalu masih terbaring lemah di ranjang perawatan. Namun, kini tubuh dan hatinya berangsur-angsur sudah mulai pulih, sepertinya kehadiran Dokter Rengganis membawa hawa positif untuk kesehatannya.
“Ada apa, Bu?” Fattan muncul dari belakang, seakan sengaja mengejutkan Bidan Maya yang masih asik tenggelam dalam lamunannya.
“Itu,” Bidan Maya menunjuk sebuah bohlam berkekuatan 100 watt yang mulai tersendat-sendat menerangi lingkungan sekitarnya.
“Sudah mau putus tu, Bu.” Fattan bergegas masuk kembali ke kamar mess sementara yang telah ditinggalinya hampir sebulan ini. Laki-laki itu ingat di dalam laci meja kamarnya terdapat dua buah bola lampu cadangan.
“Biar saya ganti dulu, Bu. Maaf, permisi.” Fattan meminta Bidan Maya untuk sedikit bergeser saat ia menarik kursi tunggu tepat ke bawah lampu.
Tangan tua itu refleks ikut memegangi ujung kursi kayu yang menjadi alat bantu Fattan menganti lampu agar lebih tinggi.
“Masih terlalu jauh,” Fattan tertawa melihat usahanya gagal meski sudah sedikit berjinjit.
“Makanya lebih tinggi.” Rengganis muncul diantara mereka.
“Hey, belum tidur ya, Non?” sapa Fattan ramah.
“Masih sore, sepertinya asik ngobrol di sini bareng Bidan Maya dan Dokter Fattan,” jawab Rengganis jujur.
“Redup nih, lampunya hidup mati.” Sahut Fattan lagi.
“Memang gak sampe?” tanya Rengganis polos.
“He’eh.”
“Apa harus aku bantuin?” tawar Rengganis meledek.
Rengganis tiba-tiba terdiam, ada seseorang yang melintas dibenaknya. Laki-laki gagah yang bisa melakukan semuanya seorang diri tidak seperti Fattan, seperti apa pun baiknya Fattan, Laki-laki ini tetap anak kota yang kehidupannya tak jauh seperti dirinya. Hidup serba ada dan penuh kemewahan, Rengganis yakin selama ini mungkin Fattan belum pernah mengganti bola lampunya sendiri.
“Aku kurang tinggi ya ternyata? Aku pikir sudah tinggi nih? Emang kamu pernah ketemu laki-laki yang lebih tinggi dari aku?” ucap Fattan penuh percaya diri.
“Ya iyalah, Kap—” Rengganis memutuskan ucapannya.
Bidan Maya menatap tajam mata gadis cantik di depannya. Wanita tua itu paham benar ada kerinduan besar yang terkubur di dalamnya. Kerinduan pada sosok tampan yang mandiri juga serba bisa yang selama ini selalu menjadi pelindung paling diandalkan gadis cantik ini.
Tiba-tiba mata Rengganis berkedut, seperti ingin melelehkan butiran salju yang menggumpal di balik kelopak matanya . Hati Rengganis sangat menginginkan bisa bertemu dengan Kapten Biru yang telah lama dirindukannya. Meski logika berkata tak akan mungkin dapat menjumpainya dalam waktu dekat ini.
“Sebentar, ada sesuatu untuk Bu Dokter,” Bidan Maya pamit ke belakang, kembali ke kamarnya mengambil sesuatu.
“Apa itu Bu Bidan?” Rengganis duduk di kursi tunggu depan.
“Eh nanti saya ambilkan, sekalian saya panggil Pak Hari untuk betulin lampu, apa Dokter Fattan dan Dokter Rengganis mau minum teh? Biar saya bawakan juga,” tawar Bidan Maya.
“Sepertinya boleh juga ya, dingin-dingin gini minum teh hangat,” jawab Dokter Fattan.
“Biar aku bantu, Bu.” Rengganis berdiri bersiap mengekor Bidan Maya.
“Oh tidak usah, Dok. Saya bisa,” tolak Bidan Maya.
“Tapi Bu Maya belum sehat betul.”
__ADS_1
“Saya bisa, Dok. Percayalah. Kasihan Dokter Fattan sendirian di sini.” Bidan Maya tersenyum penuh pengertian.
Fattan ikut tersenyum, hatinya berdebar bahagia. Bidan Maya seolah memberi waktu untuknya agar dapat berdua dengan wanita yang telah dicintainya sejak bertahun-tahun lalu.
“Mari, saya ke belakang dulu,” pamit Bidan Maya.
Suasana hangat seketika berubah menjadi situasi yang cukup canggung untuk dua orang muda-mudi itu.
“Kenapa tadi siang tiba-tiba pergi? Aku panggil-panggil gak dengar lagi? Apa ada perkataanku yang salah?” Fattan merasa bersalah, laki-laki itu duduk di samping Rengganis. Sangat dekat, mungkin hanya berjarak beberapa jengkal saja.
“Eh tidak, maaf. Tadi tiba-tiba kepalaku berat.” Rengganis memegang kepalanya yang tak terasa pusing barang sedikit pun.
“Kamu marah karena aku mengatakan yang sejujurnya tentang Shylla?” cecar Fattan.
“Sungguh aku gak papa kok, its ok!” Rengganis membenahi duduknya. Perempuan cantik itu tampak canggung duduk bersebelahan seperti itu dengan laki-laki yang dulu pernah disukainya semasa remaja.
“Baguslah kalau begitu, aku sempat tak enak hati tadi.”
“Ah kamu selalu begitu. Laki-laki sensitif.” Rengganis tertawa.
“Aku takut banget buat kamu marah, Re.” Fattan menatap Rengganis.
“Ah jangan begitu aku jadi kegeeran nih.” Rengganis berdiri mencoba membuat jarak cukup jauh dari Fattan. Ia tak ingin Fattan terus-terusan menatap wajahnya dari dekat.
“Oh ya, kapan kamu akan kembali ke kota?” tanya Rengganis mengalihkan cerita.
“Seminggu lagi boleh?” Fattan tampak berpikir.
“Kok tanya aku? Mana kutahu!” Rengganis tertawa menutupi kegugupannya.
“Hahaha kamu bisa saja, awalnya aku juga kesulitan menempatkan diri di sini. Beruntung banyak orang yang membuatku merasa nyaman dan lebih mudah membaur bersama warga di sini.” Rengganis berkisah.
“Kamu sudah pernah jalan-jalan malam keliling kampung? Wih keren, bintang bertaburan. Obor-obor di `halaman rumah terlihat sangat indah. Tak akan pernah kita jumpai di kota.” Sambung Rengganis.
“Wah kelihatannya seru, kapan aku ditemani keliling kampung, hitung-hitung ucapan terima kasih telah meninggalkanku pekerjaan rumah yang cukup banyak di sini,” rayu Fattan.
“Aku? Meninggalkan banyak pekerjaan untukmu?” tanya Rengganis meyakinkan diri.
“Hem,” Fattan mengangguk.
“Hahaha iya deh iya, bagaimana kalau Sabtu sore kita keliling kampung?”
“Setuju, janji ya?”
Rengganis mengangguk.
“Kalau begitu, minggu pagi aku akan angkat kaki dari sini.”
“Hahaha aku gak usir ya?” Rengganis merasa tidak enak.
“Ah siapa bilang gak usir, tuh buktinya seneng banget aku cepet minggat dari sini.”
“Kamu tuh bisa aja dari dulu buat aku selalu merasa bersalah.” Rengganis melotot.
__ADS_1
Gadis cantik itu ingat betul perlakuan dingin Fattan padanya semasa SMA dulu. Ia selalu membuat Rengganis berpikir tentang tindakannya yang mana yang telah menyakiti hati Fattan hingga pemuda itu begitu benci melihatnya.
“Itu karena aku bodoh, andai saja kita bisa memutar ulang waktu. Aku pasti—“
“Pasti apa?” tanya Rengganis penuh selidik.
“Ah tak a—pa—” Fattan refleks berdiri, menyeka seekor laba-laba kecil di atas kepala Rengganis.
“Apa?” Rengganis tampak kaget.
“Laba-laba,” Mereka memandang laba-laba hitam yang sibuk bergulik, seakan ingin segera kabur menyelamatkan diri dari dua mahluk raksasa di depannya. Rengganis bergidik, antara ngeri dan takut.
“Hiiiii—hiiii—” Rengganis melompat-lompat sambil kedua tangannya memegang tangan Fattan tanpa sengaja.
Fattan tertawa geli melihat ekspresi wajah Rengganis yang lucu dan menggemaskan itu.
Tak begitu lama, gadis itu pun sadar akan ulah kekanak-kanakkannya dan memukul bahu Fattan berulang-ulang menutupi kekonyolan yang telah diperlihatkannya tadi.
Suasana terasa begitu hangat dan penuh kebahagiaan. Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh sepasang mata yang memandang mereka. Tatapan tajam itu mengisyaratkan sebuah hati yang sedang patah dan terluka parah.
Kapten Biru melemparkan sekuntum mawar putih yang terikat cantik dengan sebuah pita jepang berwarna merah muda. Sebuah kertas kecil berwarna merah jambu pun ikut terjatuh dari kantung celana laki-laki tampan yang dalam sorot matanya hanya ada kemarahan dan kekecewaan.
Kapten Biru melangkah pergi meninggalkan semua bayangan indah yang diharapkannya dapat terjadi saat berjumpa dengan wanita yang sangat dirindukannya itu.
Bidan Maya dan Pak Hari yang baru keluar dari dapur umum menangkap bayangan tinggi seorang laki-laki yang menjauhi pelataran puskesmas mereka.
“Kapten Biru!” Pak Hari dan Bidan Maya berucap serempak.
Pak Hari mulai mengayunkan langkah kakinya berusaha mengejar laki-laki yang terlihat semakin menjauh itu.
“Jangan,” Bidan Maya menarik tangan Pak Hari mencoba menghentikan usaha laki-laki paruh baya berpeci hitam itu untuk mengejarnya.
Tangan Bidan Maya menunjuk Dokter Rengganis dan Dokter Fattan. Kedua tangan mereka masih berpegangan erat. Bidan Maya sadar telah terjadi kesalahpahaman yang sangat besar.
Kesalahpahaman yang tak akan mungkin bisa diselesaikan saat ini. Kapten Biru tak akan semudah itu menerima semua penjelasan apa pun yang akan diberikan Rengganis. Hanya akan ada perselisihan yang membuat lubang jarak di antara mereka semakin membesar saja.
Perempuan tua yang sudah berpegalaman itu membiarkan semua kembali kekeadaannya semula dulu baru akan membenahi hubungan yang terikat oleh benang kusut yang rapuh ini.
Dalam diam, Bidan Maya mulai melangkah mendekati tempat Kapten Biru berdiri memperhatikan Dokter Rengganis tadi. Satu tangkai bunga mawar putih tergeletak dengan dua buah kelopak jatuh terlepas dari tempatnya. Kertas kecil bertulis pesan singkat untuk Dokter Rengganis pun ikut diambilnya.
Perlahan mata tua yang penuh keriput itu mengangkat, memandang langit dengan biduk bintang selatan mengayun-ayun di atas cakrawala malam yang gelap. Cinta yang selama ini mempermainkan hidupnya kini harus mengombang-ambing dua insan yang yang sangat dikaguminya juga.
“Dokter Rengganis semua akan berat untukmu,” bisiknya sambil menatap Dokter Rengganis yang terlihat sedang berlalu meninggalkan Dokter Fattan yang masih diliputi senyum penuh cinta.
Cinta Segitiga yang dulu pernah membuat hidupnya porak-poranda, kini terjadi pula pada Dokter Rengganis.
Bisa bayangkan betapa sakit dan sedihnya Kapten Biru?
Apakah Kapten Biru akan memahami semua yang dilihatnya malam ini?
Bagaimana cara Bidan Maya meluruskan semua kesalahpahaman yang terjadi?
Apakah cinta monyet Dokter Rengganis pada Dokter Fattan lebih berarti dibanding kisah cinta sesaatnya bersama Kapten Biru?
__ADS_1
Kita tunggu kelanjutannya!